SAHARUDDIN belum pernah ke Kupang. Ia juga tak punya pengetahuan yang cukup soal ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur itu. Ia hanya tahu Kupang dari peta.
Tapi itu bukan alasan. Ia tak mau mundur. Layar sudah telanjur dikembangkan, pantang untuk dilipat kembali. Dengan tekad bulad, anak muda kelahiran Pulau Sepeken, Madura ini terbang menuju Kupang dengan memba missi mulia: dakwah.
Iya, Sahar, begitu pemuda berkaca mata ini memang mendapat tugas di Kupang, dua tahun lalu. Setiap lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al Hakim (STAIL), tempat di mana Sahar menimba ilmu, memang harus siap ditugaskan di mana saja dan kapan saja. “Insa Allah, kami siap menerima amanah,” kata Sahar menegaskan.
STAIL didirikan oleh Pesanstren Hidayatullah Surabaya. Ia dirancang menjadi tempat untuk menggembleng kader-kader dakwah yang siap menjalankan missi dakwah di berbagai pelosok negeri.
Sahar adalah salah satu kader dakwah hasil gemblengan STAIL. Selain Sahar, sudah ada ratusan kader yang sudah dikirim STAIL ke berbagai daerah, sejak beberapa tahun lalu.
Begitu datang, Sahar langsung memperkuat barisan dakwah yang sudah ada di Kupang. Di tengah minimnya tenaga dakwah di daerah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste itu, keberadaan Sahar menjadi penting. Maklum, Islam di Kupang menjadi minoritas setelah Katholik dan Kristen.
Kini, bagi Sahar, tiada waktu untuk berleha-leha. Bukan hanya mengajar dan mengasuh santri 24 jam, tapi tiap malam ia mesti membangungkan santri Hidayatullah Kupang yang berjumlah sekitar 500 orang itu untuk shalat malam. Sahar juga merangkap petugas tata usaha pesantren terbesar di Kupang itu. Tak hanya itu, ia juga merangkap menjadi humas.
Dengan begitu banyak amanah itu, Sahar mengaku kadang merasa lelah. Bukan hanya fisik tapi juga psikis. Apalagi, usianya masih muda, sekitar 23 tahun. “Kalau lagi futur, saya biasanya suka membaca sejarah Rasulullah dan para Sahabat,” kata Sahar. Dengan cara begitu, katanya, biasanya semangatnya menyala kembali.
Hidayatullah sudah hadir di Kupang, sejak lama. Bermula dari sebuah gubuk reot di atas sepetak tanah, kini sudah berkembang menjadi belasan hektar. Hidayatullah mendirikan dua pesanstren, putra dan putri. Keduanya, tempatnya terpisah cukup jauh.*
Rubrik ini atas kerjasama dengan Persaudaraan Dai Nusantara (Pos Dai). Dukung dakwah para dai pedalaman melalui rekening donasi Bank Syariah Mandiri 7333-0333-07 a/n:Pos Dai Hidayatullah, BNI, no rek: 0254-5369-72 a/n: Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta, Bank Muamalat no rek: 0002-5176-07 a/n: Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta. Ikuti juga program dan kiprah dakwah dai lainnya serta laporan di portal www.posdai.com