Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Manuskrip Kuno Ungkap Kisah Jejak Tsunami Aceh

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Maret 2019 10:43 10:43 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Maret 2019 10:37
Bagikan
Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh.
Bagikan

Hidayatullah.com– Para ilmuan Kota Serambi Makkah terdahulu telah menuangkan tradisi tentang kebencanaan dalam sebuah karya tulis, jauh sebelum peristiwa bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 melanda Aceh yang menewaskan ratusan ribu korban jiwa itu.

Diketahui Aceh merupakan daerah yang rentan terhadap terjadinya bencana. Musibah yang terjadi di Aceh selama ini ternyata sudah dipelajari oleh para leluhur terdahulu.

Leluhur pada masa itu, sesuai kondisi dan kemampuan mereka, telah mewariskan dalam bentuk tulisan manuskrip yang disesuaikan dengan alam dan geografis wilayah Aceh kala itu.

Tarmizi A Hamid, kolektor manuskrip (kitab kuno) Aceh, mengungkapkan, dari ratusan kitab kuno yang ia koleksi, ada salah satu kitab tanpa nama, karya ulama dan pemikir sufi abad ke-18, yang begitu detail menjelaskan tentang terjadinya bencana di Aceh.

“Naskah ini begitu detail, menyebutkan pada bulan apa dalam kalender Islam, kalau bulan Rabiul akhir terjadi apa, pada bulan Rajab, pokoknya dalam 12 bulan Islam ada tertulis,” ujar Tarmizi saat ditemui di kediamannya, Ahad lansir INI-Network, Senin (04/03/2019).

Baca Juga

Studi: Kopi Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Kanker dan Sirosis Hati
Temuan BRIN, Bahaya Vape: 100% Berdampak Diabetes, 92% pada Paru-Paru
Gemini AI Milik Google Bisa Melakukan Serangan Siber, Menebak Kata Sandi
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan

Baca: Jejak-jejak Tsunami Aceh

Menurut Tarmizi detailnya penulisan bencana dalam kitab tersebut menunjukkan fakta di Aceh dulunya memang sering terjadi bencana gempa maupun tsunami.

“Kalau tidak ada peristiwa masa lalu, tidak akan ada tertulis manuskrip, artinya manuskrip adalah rekaman catatan masa lalu ketika ini ditulis oleh orangtua kita dahulu, leluhur yang telah mendahului kita yang dirangkum kembali abad ke-18. Dari naskah gempa ini bisa menjadi pengetahuan bencana alam di Aceh maupun di Nusantara,” ujar pria yang kerap disapa Cek Midi ini.

Kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid menunjukan kitab kuno. [Foto: INI-Network]
Kala bencana gempa dan tsunami 2004 silam, hampir semua peneliti maupun ilmuwan tertuju ke Aceh untuk melakukan penelitian guna mencari penyebabnya.

“Kita mengakui para ilmuan saat ini sesuai dengan teknologi sekarang. Namun, dengan keilmuan para leluhur kita masa lalu, kita juga perlu menelusuri, perlu mengeja kembali tradisi, supaya kepentingan generasi kita akan datang terhadap bencana bisa diantisipasinya,” ungkapnya.

Baca: Tsunami Aceh, Pemerintah Diminta Tetapkan 26 Desember Hari Kesiapsiagaan Bencana

Disebutkan pada kitab tersebut, bencana tsunami telah terjadi lebih dulu sebanyak 4 kali pada masa Kesultanan Aceh, antara lain pada tahun 1833 dan 1861.

Maka kalau dikaitkan dengan hasil penelitian saat ini, tsunami di Aceh telah terjadi sejak 7.400 tahun silam.

Hal itu dibuktikan dengan adanya hasil temuan peneliti terhadap bekas gua tsunami purba di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Hasil temuan berupa endapan dan kandungan pasir di dalamnya menunjukkan tsunami pernah terjadi di sana.

Manuskrip kuno Aceh milik Tarmizi A Hamid. [Foto: INI-Network]
Tarmizi mengatakan, abad –abad sebelumnya sudah pernah terjadi tsunami besar, sehingga menghilangkan kota dan perkampungan semua, contohnya di Banda Aceh.

“Dulu lokasi pusat kota Banda Aceh itu berada di tengah laut kawasan kampung Pande saat ini, nah ini yang tidak pernah diungkap,” sebut pria yang telah mengumpulkan lebih dari 600 naskah kuno sejak tahun 1995 itu.

Baca: “Bangkit” dari Terjangan Tsunami Aceh

Selain itu, pada salah satu bab khusus dalam kitab tersebut, ia menemukan adanya literasi yang terputus terkait kearifan lokal.

Isinya adalah, budaya mitigasi bencana masyarakat terdahulu seperti teriakan Ie Beuna (air laut akan naik ke darat) merupakan istilah di wilayah pesisir daratan Aceh. Sedangkan di kepulauan Simeulue beristilah Smong (tsunami).

“Dulu di saat gempa besar itu semua masyarakat berteriak Ie Beuna. Begitu juga di Simeulue, ada istilahnya Smong, jika terjadi gempa, maka warga saat itu berlari dan langsung mencari tempat tinggi untuk menyelamatkan diri,” jelas Cek Midi.

Sebutan Ie Beuna dan Smong sebenarnya jadi cara komunikasi masyarakat dahulu dalam mengartikan tentang gelombang besar yang memiliki daya rusak hebat, serta dapat memusnahkan apa saja yang didahuluinya .

Kata ini menjadi salah satu sistem kearifan lokal (budaya) untuk mengantisipasi dini ketika nantinya terjadi bencana alam dan tsunami.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Acehleluhurmanuskrip kunosejarah AcehSerambi MakkahTsunamitsunami Aceh
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bawaslu Temukan 3 WNA di Madiun Masuk DPT Pemilu 2019
Tulisan selanjutnya Kemenag Hargai Banding Hayati ke BKN

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera

Berita
16 Oktober 2026 15:36
Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato

8 Juli 2026 08:09
Iptekes

UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa

3 Juli 2026 20:54
Iptekes

Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat

21 Juni 2026 13:43
Iptekes

Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah

25 Mei 2026 08:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?