Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Psikolog UNAIR Ungkap Bahayanya Anak Bermain Peran tanpa Pengawasan Orang Tua

Ahmad
Terakhir diupdate: 3 Juli 2023 14:54 2:54 pm
Ahmad
Dipublikasikan 3 Juli 2023 14:45
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Psikolog Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Dewi Retno Suminar MSi mengatakan  bahwa role-playing (bermain peran) sangat tidak dianjurkan bagi anak-anak. Pasalnya, dalam permainan ini, anak secara bebas memainkan peran sebagai publik figur dan sosok lain.

Pernyataan ini disampaikan Dewi Retno terkait viralnya sebuah video yang memperlihatkan seorang ayah yang memukuli anaknya karena sang anak yang enggan berhenti memainkan gadget.

Diduga, sang anak tengah asyik memainkan gim role-playing, sebuah gim memainkan peran karakter atau kepribadian orang lain di media sosial. Kejadian ini kemudian membuah heboh kalangan warganet.

“Karena itu, peran orang tua di sini menjadi penting dalam mengawasi dan mengontrol aktivitas online anak-anak mereka,” ucap Dewi.

Dampak Bermain Roleplay

Baca Juga

Gemini AI Milik Google Bisa Melakukan Serangan Siber, Menebak Kata Sandi
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa

Dewi menjelaskan bahwa dalam psikologi perkembangan, terdapat fase anak bermain dengan imajinasinya. Ia menyoroti bagaimana pengaruh role-playing terhadap tumbuh kembang anak di bawah umur.

Sebenarnya, imajinasi anak dalam memainkan peran tokoh lain adalah hal yang biasa. Misalnya saja anak memainkan peran sebagai seorang dokter, polisi, pilot, guru, hingga astronot. Hal itu menjadi lumrah karena anak akan berimajinasi sesuai dengan aktivitas yang ada, nyata, bersama teman-temannya dan dalam jangkauan pengawasan orang tua.

Akan tetapi, lain halnya dengan  role-playing yang anak-anak saat ini gandrungi. Lantaran, mereka memainkan gim tersebut di media sosial.

Selain itu, mereka biasanya akan memainkan peran seorang tokoh idola, sehingga dikhawatirkan hal ini akan membawa dampak negatif berupa fantasi dan imajinasi berlebih pada anak.

“Bahayanya saat bermain roleplay ini mereka memainkan peran diri sebagai “idola” yang juga berinteraksi dengan orang lain secara luas melalui platform digital,” ungkap Dewi.

Berpotensi Menimbulkan Adiksi

Lebih lanjut, Dewi mengingatkan bahwa terdapat dampak berbahaya yang mungkin muncul ketika anak bermain role-playing di media sosial. Dampak serius yang akan terjadi misalnya adalah munculnya adiksi gadget pada anak.

“Dampak yang mungkin adalah adanya perasaan cemas apabila anak tidak memegang gawai dan menimbulkan ketergantungan,” tutur Dewi.

Selain itu, anak juga akan berpotensi kehilangan jati diri aslinya, karena selama ini imajinasi dan pikirannya berfokus pada idola yang sedang ia mainkan dalam role-playing. Hal tersebut akan menyebabkan perubahan pemikiran anak, di mana anak akan berpikir dewasa sebelum waktunya.

“Tanda adiksi muncul ketika anak tidak bisa menahan untuk tidak melakukannya (bermain roleplay, red). Ini yang sebenarnya harus menjadi perhatian. Karena jika hal tersebut di luar kontrol orang tua,”paparnya.

Digital Parenting

Selanjutnya, Dewi menambahkan bahwa permainan role-playing di media sosial bisa memberikan pengaruh negatif pada anak-anak jika tidak mendapat pengawasan dengan baik.

Pasalnya, aktivitas seperti ini cenderung memakan waktu yang cukup banyak, mengganggu keseimbangan antara waktu bermain secara online dan offline, dan juga dapat memengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak-anak.

Oleh karena itu, Dewi mengajak orang tua untuk memahami digital parenting sebagai alat bantu untuk membatasi dan memanfaatkan digital untuk mengawasi anak. Orang tua harus bisa mengambil peran kontrol pada konten digital yang dikonsumsi anak.

Dewi menyarankan agar orang tua untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan online anak-anak mereka. “Orang tua di era sekarang harus tahu bagaimana untuk membalasnya, bukan hanya langsung merebut gadget. Perlu pendekatan dan mengobrol lebih dalam dengan anak terkait hal yang dilakukan anak,” pungkas Dewi.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bermain perangamegimHeadlineorang tuarole-playingUNAIR
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Luapan Syukur Warga Cirebon Terima Daging Kurban BMH
Tulisan selanjutnya Mie Gacoan Halal Mie Gacoan Bersertisikasi Halal MUI, Sejumlah Nama Kontroversial telah Disesuaikan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Polisi Pakistan Dibom Sedikitnya 11 Nyawa Melayang

Berita
27 September 2026 09:26
PBB Identifikasi 214 Perusahaan Berkaitan dengan Pemukiman Ilegal Yahudi Israel
Kompleks Makam Imam Al-Bukhari Kembali Dibuka Usai Renovasi Besar-Besaran
Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni
Orang Terkaya Afrika Bantu Pembangunan Jaringan Pipa BBM antara Ethiopia dan Djibouti

Terbaru

  • Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
  • Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’
  • Drone ‘Israel’ Meledak, Tewaskan Dua Tentaranya Sendiri
  • Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni
  • Presiden Brazil Teken Larangan Judi Online
  • Pemerintah Italia Setuju Larangan Burqa dan Niqab, Serta Pembatasan Siswa Asing
  • Pos Polisi Pakistan Dibom Sedikitnya 11 Nyawa Melayang
  • Orang Terkaya Afrika Bantu Pembangunan Jaringan Pipa BBM antara Ethiopia dan Djibouti

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat

21 Juni 2026 13:43
Iptekes

Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah

25 Mei 2026 08:50
Iptekes

Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor

22 Mei 2026 15:27
Iptekes

Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat

31 Maret 2026 09:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?