Konflik adalah bagian normal dalam kehidupan berpasangan. Meminta maaf, tetap menunjukkan kasih sayang dan mengakhiri dengan yang yang indah adalah kunci kelanggengan
Hidayatullah.com | PERTENGKARAN dengan pasangan sering meninggalkan rasa tidak selesa, marah, hingga kebingungan tentang cara berbaik semula. Namun, pakar psikologi menegaskan ada langkah-langkah sederhana yang dapat membantu pasangan kembali akrab tanpa memperburuk keadaan.
Menurut Galena Rhoades, pakar psikologi dari Universitas Denver, bertengkar bukan sekadar masalah komunikasi, tetapi juga memengaruhi tubuh dan otak. “Pertengkaran mengubah keadaan kimia dalam diri kita,” jelasnya.
Saat emosi memuncak, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol, jantung berdegup lebih cepat, dan sistem ‘lawan atau lari’ aktif. Kondisi ini membuat seseorang sulit berpikir jernih atau berbicara dengan logis.
Oleh sebab itu, langkah pertama yang disarankan adalah beristirahat sejenak. Pakar menyebutkan, setidaknya 30 menit diperlukan untuk menenangkan diri sebelum kembali berdiskusi.
Namun, penting untuk memberi tahu pasangan bahwa waktu jeda ini bukan bentuk hukuman, melainkan usaha agar bisa berbicara dengan kepala dingin.
Langkah berikutnya adalah meminta maaf. “Dalam pertengkaran, selalu ada kontribusi dari kedua belah pihak, sekecil apa pun,” kata A. Jordan Wright, profesor madya psikologi klinis di Universitas New York.
Permintaan maaf, meskipun Anda merasa tidak sepenuhnya salah, merupakan isyarat bahwa Anda ingin memperbaiki hubungan, bukan sekadar mengabaikan masalah.
Setelah emosi lebih stabil, pasangan dianjurkan mengadakan apa yang disebut sebagai “perbincangan penutup”. Rhoades menyarankan teknik pembicara–pendengar untuk menciptakan struktur dalam dialog.
Salah satu pihak berbicara, sementara pasangan lain merangkum kembali dengan kata-kata sederhana. Proses ini diulang bergiliran, tanpa saling menyela. Aturan penting lainnya: tetap fokus pada isu terkini dan jangan membuka kembali keluhan lama.
Jika percakapan kembali memanas, sebaiknya istirahat sebentar sebelum melanjutkan. “Kadang satu isu membutuhkan lebih dari satu perbincangan,” ujar Rhoades.
Dalam momen tersebut, tanda kasih sayang kecil seperti senyuman atau sentuhan ringan bisa membantu mencairkan suasana.
Langkah terakhir yang sangat dianjurkan adalah mengakhiri dengan aktivitas menyenangkan. Aktivitas bersama dapat memperkuat ikatan emosional setelah konflik. “Tidak perlu sesuatu yang rumit,” kata Rhoades.
Jalan-jalan santai, makan malam berdua, atau menonton film favorit bisa menjadi cara efektif untuk kembali mendekatkan hati.
Para pakar juga mengingatkan bahwa memperbaiki hubungan tidak berarti menghindari pertengkaran sama sekali. Konflik adalah bagian normal dalam kehidupan berpasangan. Yang lebih penting adalah bagaimana pasangan mengelola perbedaan, menjaga komunikasi, serta tetap menunjukkan kasih sayang meski sempat berselisih.
Dengan mengambil waktu untuk menenangkan diri, berani meminta maaf, melakukan perbincangan yang jujur, dan menutupnya dengan kebersamaan yang menyenangkan, pasangan dapat mengubah pertengkaran menjadi momen yang justru memperkuat hubungan.*




