Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Fenomena Stroke di Usia Muda Meningkat, Stres Kronis Jadi Sorotan Utama 

Ahmad
Terakhir diupdate: 24 Oktober 2025 10:51 10:51 am
Ahmad
Dipublikasikan 24 Oktober 2025 10:49
Bagikan
Bagikan

Stroke bukan lagi penyakit orang tua. Studi terbaru mengungkap lonjakan kasus di usia produktif akibat stres kronis, dengan perempuan muda menjadi kelompok paling rentan

Hidayatullah.com | KASUS stroke pada anak muda semakin sering ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah studi internasional terbaru menunjukkan bahwa faktor-faktor nontradisional seperti  stres kronis, migrain, dan kelainan jantung bawaan ikut berperan besar dalam meningkatnya risiko stroke di usia produktif.

Penelitian yang dipublikasikan oleh  American Heart Association (AHA) dalam jurnal  Stroke pada April 2025 mengungkapkan bahwa hampir  setengah kasus stroke iskemik pada orang di bawah usia 50 tahun tergolong “kriptogenik”, atau tidak diketahui penyebabnya.

Studi besar bertajuk  SECRETO Study, yang dilakukan oleh tim di  Helsinki University Hospital, Finlandia, melibatkan lebih dari seribu peserta dari 13 negara Eropa dan menemukan kaitan kuat antara stroke dengan faktor-faktor nontradisional seperti  migrain dengan aura, penyakit ginjal kronis, dan pembekuan darah.

“Kami menemukan bahwa migrain dengan aura menjadi salah satu penyebab utama stroke pada usia muda, terutama pada mereka yang memiliki Patent Foramen Ovale (PFO) atau lubang kecil di antara dua bilik atas jantung,” ujar  Dr. Jukka Putaala, kepala unit stroke di Helsinki University Hospital.

Baca Juga

Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat
Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah
Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor

Ia menekankan bahwa dunia medis perlu memperluas pemahaman terhadap faktor risiko stroke, tidak hanya fokus pada tekanan darah tinggi atau diabetes.

Studi tersebut juga menyoroti faktor risiko yang spesifik untuk kelompok usia produktif, termasuk stres jangka panjang. Tekanan pekerjaan, tuntutan ekonomi, hingga kelelahan emosional terbukti meningkatkan risiko stroke, bahkan pada individu tanpa riwayat penyakit kronis.

Artikel di  Parade  (Maret 2025) menjelaskan bahwa stres kronis mengaktifkan sistem saraf simpatik—mekanisme tubuh yang memicu reaksi “fight-or-flight”. Ketika berlangsung terlalu lama, reaksi ini membuat tekanan darah meningkat, mempercepat detak jantung, dan menimbulkan kerusakan pembuluh darah. Kondisi tersebut menjadi pemicu utama stroke iskemik yang kini banyak menyerang orang berusia 30–40 tahun.

Penelitian lain yang dilaporkan oleh The Guardian  (Agustus 2024) menunjukkan kaitan langsung antara stres emosional dan kerusakan jantung.

Studi yang dilakukan oleh  University of Aberdeen terhadap pasien dengan sindrom  broken heart (takotsubo cardiomyopathy) menunjukkan bahwa terapi kognitif (CBT) dan olahraga selama 12 minggu dapat memperbaiki fungsi jantung secara signifikan.

“Kesehatan jantung sangat bergantung pada keseimbangan emosi. Stres yang tidak terkelola dapat menyebabkan perubahan struktural pada otot jantung,” kata  Dr. David Gamble, peneliti utama studi tersebut.

Namun, temuan paling mencolok datang dari riset yang diterbitkan di jurnal  Neurology  oleh tim  Helsinki University Hospitaldan dilaporkan Healthline pada Maret 2025.

Dalam studi yang melibatkan 852 orang berusia 18–49 tahun, peneliti menemukan bahwa  stres kronis memiliki dampak yang jauh lebih berat pada perempuan dibanding laki-laki.

Perempuan dengan tingkat stres sedang tercatat memiliki risiko stroke  78 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki tingkat stres rendah, sementara pada laki-laki, peningkatan risikonya tidak signifikan.

“Temuan ini menyoroti bahwa stres dapat menghapus perlindungan alami perempuan terhadap penyakit kardiovaskular,” ujar  Dr. Sarah Lindsey, profesor farmakologi dari Tulane University School of Medicine.

Dr. Christina Mijalski Sells dari Stanford Medicine menambahkan bahwa kondisi sosial dan beban ganda yang dihadapi banyak perempuan muda—antara pekerjaan, rumah tangga, dan peran pengasuhan—mungkin menjadi alasan di balik tingginya tingkat stres tersebut. “Sebagai masyarakat, kita harus menyadari tekanan luar biasa yang dialami perempuan muda. Ini bukan sekadar isu mental, tapi ancaman kesehatan serius,” ujarnya kepada  Healthline.

Peneliti utama,  Dr. Nicolas Martinez-Majander, menjelaskan bahwa bahkan tingkat stres sedang pun sudah cukup untuk memicu gangguan pada sistem saraf dan kardiovaskular. “Sistem saraf simpatik bekerja terus-menerus, meningkatkan tekanan darah dan membebani jantung. Lama-lama, pembuluh darah otak menjadi rapuh,” katanya dalam siaran pers.

Peringatan untuk Anak Muda

Para ahli menegaskan bahwa stroke kini bukan lagi penyakit orang tua. Tekanan hidup modern, gaya hidup sedentari, dan stres kronis telah menjadikan anak muda kelompok berisiko baru.

“Jika Anda berusia di bawah 50 tahun, sering mengalami migrain, tekanan tinggi, atau stres berkepanjangan, jangan abaikan gejalanya,” kata  Dr. Putaala. Ia menekankan pentingnya pemeriksaan dini dan pengelolaan stres sebagai langkah pencegahan.

Dr. Mijalski Sells memberikan peringatan tegas.   “Stres kronis bukan tanda semangat atau produktivitas. Itu adalah tanda bahaya biologis. Mengabaikannya sama saja dengan menunggu tubuh menyerah.”

Dengan bukti ilmiah yang semakin kuat dari berbagai lembaga—termasuk  Helsinki University Hospital,  American Heart Association, dan universitas terkemuka dunia—para ahli sepakat bahwa generasi muda harus mulai  menjaga kesehatan otak dan jantung sejak dini. Stres bukan sekadar persoalan pikiran; ia kini terbukti bisa menjadi jalan sunyi menuju stroke di usia muda.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlineorang tuapendarahan otakperempuan mudaPilihan Redaksistres kronisStrokeusia produktif
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sertifikasi Tanah Wakaf Pekerjaan Penting dan Mulia Sertifikasi Tanah Wakaf Pekerjaan Penting dan Mulia
Tulisan selanjutnya Ketua Umum DPP Hidayatullah Ajak Kader Hadirkan Kenikmatan Berislam di Tengah Umat Ketua Umum DPP Hidayatullah Ajak Kader Hadirkan Kenikmatan Berislam di Tengah Umat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat

31 Maret 2026 09:28
Iptekes

Pembuat Jutaan iPhone Malah Malah Melarang Main HP Berlebihan karena Bahaya

26 Maret 2026 08:30
Iptekes

Kecenderungan Beragama Generasi Z Meningkat, Ini Temuan Peneliti

2 Maret 2026 16:00
vape covid
Iptekes

Otoritas Kesehatan Prancis Peringatkan Risiko Vape Bagi Kesehatan

13 Februari 2026 20:11
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?