Hidayatullah.com–Pemerintah AS memperingatkan warganya berhati-hati menggunakan alat gendong bayi. Beberapa temuan membuktikan terjadinya kecelakaan hingga kematian bayi, meskipun dalam jumlah kecil.
The Consumer Product Safety Commision (CPSC) telah menyelidiki setidaknya 13 kematian yang berhubungan dengan alat penggendong bayi selama kurang lebih 20 tahun ini, termasuk 3 kematian tahun lalu. Satu kasus lain yang cukup fatal masih ditelusuri. Sebanyak 12 kematian adalah anak-anak yang masih muda dengan umur sekitar 4 bulanan.
Ada dua cara penggunaan alat ini yang membahayakan. Pertama, selempang kain dapat menekan hidung dan mulut bayi, kemudian mencekik pernapasan bayi dalam satu atau 2 menit.
Kedua, kain bayi pengikat terbuat dalam posisi melengkung atau posisi C terbalik, sehingga dalam dekapan ibu, bayi berada di bawah dada atau di dekat perutnya.
Posisi yang melengkung dapat menyebabkan bayi tidak memiliki kontrol leher kuat dengan posisi kepala ke depan, dagu-ke-dada, sehingga membatasi kemampuan bayi untuk bernapas. “Bayi tidak akan bisa menangis minta tolong dan dapat perlahan-lahan tercekik,” ungkap hasil penelitian mereka, kemarin.
Di lain pihak, alat ini pernah dipromosikan pakar bayi sebagai cara untuk menenangkan bayi rewel atau ibu agar bisa menyusui anak kecil dalam gendongan.
Pada 2008, Consumer Reports sempat menyuarakan keprihatinan mengenai kain penggendong bayi ini dengan sekitar dua lusin cedera serius, seperti patah tulang tengkorak, terutama ketika seorang anak jatuh dari pengangkut.
Kemudian, setelah muncul kasus kematian bayi berusia satu minggu, Derrik Fowler di Oregon, para pemerhati keselamatan memperingatkan kembali tentang kain gendongan ini dan risiko mati lemas.
Menurut catatan pengadilan, bayi itu meninggal dalam gendongan posisional sesak napas atau mati lemas.
Faktor keamanan menjadi kekhawatiran karena orang tua membungkus bayi mereka di sekitar leher dan membuai anak dalam posisi melengkung, seperti gendongan yang digunakan orang tua Fowler.
Tapi tidak semua kain berbahaya, kata Pat Shelly, Direktur The Breastfeeding Center for Greater di Washington. “Bayi paling aman dibawa sesuai dengan posisi ibunya yaitu posisi tegak. Orang tua harus diinstruksikan menjaga dagu dari dada bayi guna mengoptimalkan saluran udara,” kata Shelly.
Ketua CSPC Inez Tenenbaum melakukan pertemuan dengan Juvenile Products Manufacturers Association yang direncanakan memberikan peringatan kepada orang tua tentang alat gendong bayi ini.
JPMA, sebuah grup perdagangan industri, menyatakan, 20 produk anak tidak memiliki program sertifikasi kain. Saat ini JPMA bekerja dengan ASTM International, sebuah organisasi yang menetapkan standar keselamatan sukarela, untuk mengembangkan sebuah standar untuk kain.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Belum ada catatan resmi tentang penggunaan alat gendong bayi ini. Bisa jadi karena tidak terdeteksi bayi yang mengalami luka ataupun kecelakaan gara-gara alat bayi ini.
Tapi tampaknya harus lebih waspada terhadap semua peralatan yang berhubungan dengan sang buah hati ini. [erb/hidayatullah.com]