Hidayatullah.com—Ini peringatan bagi para orangtua yang memiliki anak remaja. Melaui internet, pria-pria dewasa memperalat gadis-gadis remaja yang lugu untuk kepentingan sahwat dan uang. Sebagaimana kasus yang terjadi di Filipina baru-baru ini.
Biasanya di musim liburan sekolah, Jessica membantu orang tuanya menjual ikan di pasar. Sejak dua tahun lalu ketika berusia 12 tahun, Jessica dibawa paman dan bibinya ke Cordova, sebuah kota kecil yang tidak jauh letaknya di Filipina.
Di sebuah rumah kumuh, ada komputer lengkap dengan hubungan internet dan webcam. Setiap hari, di depan komputer Jessica melayani pria-pria Amerika setengah baya, semuanya telanjang.
Lewat chat, Jessica diberi perintah. Dia harus membuka baju, dan meraba-raba sendiri tubuhnya. Kadang-kadang pria-pria setengah baya itu meminta temannya, iparnya, saudaranya juga melakukan hal yang sama. Jessica bisa melihat lewat webcam bagaimana pria-pria setengah baya itu menikmati kepuasan.
Jessica sendiri, sama sekali tidak merasakan kepuasan apapun. Justru sebaliknya. Ia sudah senang kalau boleh kembali ke rumah orangtuanya, sehabis ‘liburan’ bersama paman dan bibinya. Jessica diberi ‘uang jajan’ Rp.€ 5,- sampai 10,- per minggu (red : sekitar 50 sampai 100 ribu rupiah).
Setiap ‘show’ pria-pria asing setengah baya itu membayar € 20,- sampai 30,-. Setiap kali Jessica mendapat € 2,50. Sisanya untuk ongkos yang harus dibayar oleh si paman dan bibi, termasuk ongkos makan Jessica.
Korban pornografi
Jessica adalah korban ponografi anak-anak lewat internet. Ia harus melayani perintah pria-pria asing yang telanjang nun jauh di seberang benua sana.
“Pornografi anak lewat internet merupakan sumber pendapatan yang menjamur di negara-negara berkembang seperti Filipina,” demikian liputan koran de Volkskrant dikutip RNW.
Show atau chat dengan webcam lewat internet merupakan model baru pornografi anak-anak. Sarana yang diperlukan mudah dan murah. Sebuah komputer dengan jaringan internet sudah cukup. Biasanya di tempat-tempat kumuh di belakang warnet atau sebuah rumah biasa. Ongkos chatting atau show bisa dengan mudah dikirim lewat MoneyGram atau Western Union. Keuntungannya, tidak mudah dilacak pihak berwajib.
Si pelaku pedofili tidak kurang akal. Chatting atau show porno itu juga tidak direkam. Tentu dengan alasan supaya tidak bisa dilacak polisi.
Menular
Rupanya, insiatif paman dan bibi Jessica, dengan cepat menyebar ke seluruh di Cordova sebuah desa kecil di Filipina.
Banyak keluarga dan tetangga yang keturalan melakukan praktik semacam ini, keluh Leny Kling dari organisasi bantuan Terres de Hommes.
Pornograsi anak lewat internet bukan hanya disebabkan oleh kemiskinan di negara-negara berkembang. Belanda belum lama ini dihebohkan oleh jaringan pedofili internasional yang melibatkan Robert M. seorang pria yang bekerja di sebuah tempat penitipan anak. Dari barang bukti yang disita polisi, seorang wanita Filipina melayani perintah Robert M. untuk mencari seorang anak perempuan dan lelaki yang berumur 4 tahun untuk ‘beraksi’ di depan webcam.
Polisi dan kehakiman Filipina sudah berhasil menjerat sejumlah orang yang terlibat ‘pronografi anak lewat internet’. Pengusutan masih terus dilakukan dengan bekerja sama dengan banyak negara, termasuk Indonesia. Haslinya masih membutuhkan banyak waktu, demikian liputan koran de Volkskrant.
Melek Media
Sebelum ini, General Manager Virtual Academy, Andi Primaretha, M.Si, menyarankan para orangtua segera melek media dan tidak melarang anak untuk menggunakan teknologi seperti internet. Ia meminta sebaiknya para orangtua seharusnya mampu mengimbangi kecanggihan anak-anak mereka.
“Bagaimana pun juga, internet itu penting dan anak-anak jelas membutuhkan internet sebagai sumber informasi yang melengkapi buku,” jelas Andi dikutip Antara.*