Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Hadis -hadis Dhaif yang Dijadikan Hujjah oleh Imam Ahmad

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Januari 2023 16:13 4:13 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Januari 2023 15:30
Bagikan
Warga Yaman memiliki tradisi bercelak selama bulan Ramadhan
Bagikan

Imam Ahmad bin Hanbal, pelopor Mahzab Hanmbali,  juga mengamalkan beberapa hadis dhaif, beliau dan para salaf tidak menganjurkan meninggalkan hadis dhaif secara mutlak

Hidayatullah.com | IMAM AHMAD adalah salah satu imam mujtahid yang diikuti oleh umat Islam. Dalam hadis, tidak diragukan lagi keimaman beliau dalam bidang itu.

Abu Zur`ah berkata kapda Abdulla putra Imam Ahmad, pernah berkata, ”Ayahmu hafal satu juta Hadis.” Imam Adz Dzahabi berkata, ”Kisah ini benar adanya mengenai keluasan ilmu Abu Abdillah (Imam Ahmad)”. (Lihat, Siyar A`lam An Nubala`, 11/187).

Bukan hanya dalam hadis, dalam disiplin ilmu fikih Imam Ahmad juga memperoleh banyak pujian dari para ulama. Ishaq bin Rahwaih berkata, ”Aku bermajelis dengan Ahmad dan Ibnu Ma`in untuk bermudzakarah. Lantas aku mengatakan, ’Apa fikihnya? Apa tafsirnya?’ Mereka pun diam, kecuali Ahmad.” (Lihat, Siyar A`lam An Nubala`, 11/188).

Mengenai fikih Imam Amad, Imam Asy Syafi`i berkata, ”Aku telah keluar dari Baghdad. Aku tidak meninggalkan padanya seorang pemuda yang lebih utama, tidak juga lebih pandai, tidak juga lebih faqih, tidak juga lebih bertakwa, kecuali Ahmad bin Hanbal.” (Lihat, Siyar A`lam An Nubala`, 11/188).

Baca Juga

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi

Sebagai seorang hafidz hadis sekaligus seorang faqih, Imam Ahmad menerapkan dua disiplin ilmu itu dalam berhujah dengan hadis. Dalam artian, Imam Ahmad memiliki kemampuan untuk memilah-milah mana hadis yang shahih, mana pula hadis yang dhaif.

Namun Imam Ahmad sebagai seorang faqih juga melihat, mana hadis yang bisa dijadikan hujjah dan mana yang tidak. Sehingga tidak jarang, Imam Ahmad menilai suatu hadis sebagai hadis dhaif, namun beliau tetap berhujjah dengannya karena beberapa pertimbangan.

Inilah beberapa contoh hadis-hadis dhaif yang digunakan Imam Ahmad dalam berhujah.

Masalah Kafa`ah

Muhanna meriwayatkan, ”Manusia semuanya sekufu` kecuali penenun dan pembekam.” Dikatakan kepada Imam Ahmad, ”Engkau merujuk hadis ini?” Imam Ahmad pun menjawab,”Ya”. Dikatakan kepadanya, ”Tapi engkau mendaifkannya.” Imam Ahmad menjawab, ”Ia diamalkan.” (dalam Ar Riwayatain wa Al Wajhain, 2/92, Syarh Az Zarkasyi `ala Mukhtashar Kharki, 5/70, Al Mughni, 7/38).

Yang dimaksud Imam Ahmad adalah hadis berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْعَرَبُ بَعْضُهُمْ أَكْفَاءٌ لِبَعْضٍ، قَبِيلَةٌ بِقَبِيلَةٍ، وَرَجُلٌ بِرَجُلٍ، وَالْمَوَالِي بَعْضُهُمْ أَكْفَاءٌ لِبَعْضٍ، قَبِيلَةٌ بِقَبِيلَةٍ، وَرَجُلٌ بِرَجُلٍ، إِلَّا حَائِكٌ أَوْ حَجَّامٌ» (أخرجه البيهقي في السنن الكبرى: 13770, 7/219)

“Dari Ibnu Umar ia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda, ’Bangsa Arab sebagian dari mereka sekufu` dengan sebagian lainnya, kabilah dengan kabilah lainnya, laki-laki dengan laki-laki lainnya. Sedangkan yang bukan bangsa Arab sebagian dari mereka sekufu` dengan sebagian lainnya, kabilah satu dengan kabilah lainnya, laki-laki dengan laki-laki lainnya, kecuali penenun dan pembekam.’” (Dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra [13770], 7/219).

Ibnu Qudamah menjelaskan bahwasannya Imam Ahmad tetap merujuk hadis di atas meski itu hadis dhaif, karena itu sesuai dengan ahli urf. (dalam Al Mughni, 7/38).

Bercelak secara ganjil

Ada pula masalah penggunaan celak. Ishaq bin Rahwaih bertanya kepada Imam Ahmad, ”Bagaimana seseorang bercelak?” Imam Ahmad pun menjawab, ”Ganjil, namun tidak isnad dalam hal itu.” (dalam Masa`il Al Imam Ahmad wa Ishaq bin Rahwaih, 9/4885).

Kemungkinan yang dimaksud Imam Ahmad adalah hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنِ اكْتَحَلَ فَلْيُوتِرْ، وَمَنْ فَعَلَ فَقَدْ أَحْسَنَ، وَمَنْ لَا فَلَا حَرَجَ (أخرجه أحمد في المسند:8838, 14/432)

Artinya: Dari Abu Hurairah ia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda, ’Barangsiapa bercelak hendaklah ia melakukannya dengan ganjil. Barangsiapa mengerjakannya maka ia telah melakukan kebaikan dan barangsiapa meninggalkannya maka tidak mengapa.’” (Riwayat Ahmad dalam Musnadnya).

Dengan demikian, yang dimaksud Imam Ahmad bahwa ia (bercelak, red) tidak memiliki asal adalah asal yang tsabit. Sebagaimana Imam Ahmad sering menggunakan ungkapan tersebut kepada hadis dhaif. (Lihat, Masa`il Al Imam Ahmad riwayah Abi Dawud, hal. 404).

Larangan berbekam hari Sabtu

Al Atsram berkata, ”Aku mendengar bahwasannya Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai berbekam pada hari Sabtu. Ia pun menjawab, ’Aku suka kalau tidak melakukannya, karena hadis Az Zuhri meski ia mursal.’” (dalam At Tamhid, 24/350).

Hadis yang dimaksudkan adalah hadis berikut:

عَنْ الزُّهْرِيِّ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنِ احْتَجَمَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ وَيَوْمَ السَّبْتِ فَأَصَابَهُ وَضَحٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ» (أخرجه أبو داود في المراسل, وقال:”وقد أسند هذا ولم يصح”:451, ص. 319)

Artinya: “Dari Az Zuhri, bahwasannya Nabi ﷺ bersabda, ”Barangsiapa berbekam pada hari Rabu dan hari Sabtu, lantas ia terjangkit wadhah (kusta) maka hendaklah ia tidak sekali-kali mencela, kacuali kepada dirinya sendiri.” (Riwayat Abu Dawud dalam Al Marasil dan ia berkata, ”Hadis ini ada yang meriwayatkannya secara musnad, dan itu tidak benar.”)

Imam Ahmad berpendapat agar menjauhi berbekam pada hari Sabtu, meski hadis yang dijadikan acuan adalah hadis mursal. Hadis mursal termasuk dhaif, karena ada perawi yang terputus yakni perawi dari kalangan sahabat.

Hadis dhaif dipakai ketika selaras dengan pendapat Imam Asy Syafi`i

Bahkan, Imam Ahmad berpendapat bahwasannya hadis dhaif bisa dipakai jika sejalan dengan pendapat ulama. Abu Ayyub Humaid bin Ahmad Al Bashri berkata, ”Suatu saat aku bersama Ahmad bermudzakarah tentang suatu masalah, lalu seorang laki-laki berkata, ’Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad) hadis dalam masalah itu tidak shahih.’ Imam Ahmad pun menjawab, ’Meski tidak shahih hadis mengenai hal itu, namun itu merupakan pendapat Asy-Syafi`i. Dan hujjahnya paling kuat dalam masalah itu.’” (dalam Tarikh Baghdad, 2/404).

Inilah sebagian kecil dari hadis-hadis yang dijadikan Imam Ahmad dalam berhujjah meski ia adalah hadis dhaif. Beliau dan para salaf lainnya tidak menganjurkan untuk meninggalkan hadis dhaif secara mutlak. Wallahu `alam bish shawab.*/Thoriq, Lc, MA

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amalan hadis dhaifHadis DhaifHeadlineImam AhmadPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Suka Gorengan dan Makanan Berminyak? Waspada Dislipidemia !
Tulisan selanjutnya Biaya Haji Naik Rp30 Juta, Ketua Komisi III DPD RI: Terlalu Tinggi, Hitung Lagi Struktur BPIH

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’

Berita
3 September 2026 19:56
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Kajian

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

30 Juni 2026 22:36
Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?