ALHAMDULILLAH, akhirnya kita dipertemukan dengan hari kemenangan, hari raya Iedul Fitri. Semoga kita kembali terlahir sebagai insan yang suci tanpa noda seperti bayi yang dilahirkan.
Pada hari raya Iedul Fitri kita dibolehkan bergembira di dalamnya. Di antaranya ialah kita boleh makan, minum, ‘bertemu’ istri dan lain sebagainya dari hal-hal mubah yang sebelumnya tidak boleh dilakukan di siang hari di bulan Ramadhan.
Namun yang lebih penting ialah bergembira dalam pengertian saling menyambung tali silaturrahim, saling berbagi, saling maaf-memaafkan, dan tentunya memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Oleh karena itu, malam harinya sebelum hari raya tiba, umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak membaca takbir, tahmid bersama di masjid sebagai bentuk kegembiraan dan kesyukuran kepada Allah SWT.
Esok harinya kita dianjurkan memakai pakaian baru dan disunnahkan mendirikan sholat sunnah Iedul Fitri bersama-sama.
Bahkan karena begitu pentingnya hari raya Iedul Fitri bagi seluruh umat Islam, rasulullah saw pun dalam sebuah riwayat memerintahkan para gadis dan wanita (meskipun haidh) untuk keluar menuju tempat sholat (tanah lapang) untuk menyaksikan dan menyemarakkan suasana hari raya.
Rasulullah saw juga tidak melarang anak-anak, remaja dan pemuda meluapkan kegembiraanya dengan bernasyd atau memukul rebana. Sebab hari ini adalah hari raya kita bersama. Tentu itu dilakukan dengan tetap mengindahkan perkara hijab alias tidak bercampur baur (ikhtilat).
Pernah Abu Bakar melarang beberapa gadis Anshar yang bernanyi di rumah rasulullah saw. Melihat tindakan Abu Bakar, rasulullah saw pun bersabda, “Biarkan keduanya (wahai Abu Bakar) karena sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari).
Etika Di Hari Raya
Kegembiraan tidak berarti kebebasan tanpa batas (bablas). Kegembiraan dalam Islam harus tetap dapat memelihara iman, menguatkan persaudaraan, dan membahagiakan yang lain. Oleh karena itu, berbeda dengan perayaan agama lain atau tradisi lain.
Hari raya tidak sama dengan Valentine Day di mana laki-laki dan perempuan memaknai kasih sayang di antara mereka dengan melakukan hal-hal yang melanggar norma dan syariat.
Di hari raya, tetap wanita dan pria yang bukan muhrim dilarang untuk bersalaman apalagi bedua-duaan. Jadi bila ada anak muda berboncengan dengan lawan jenisnya apalagi pergi menyepi di tempat-tempat hiburan di hari raya, maka sungguh dia telah menciderai kesucian dan kemenangan dirinya dan hari raya itu sendiri.
Jadi perlu kita pahami bersama bahwa hari raya bukan hari pesta-pora, dan bebas memperturutkan keinginan nafsu.
Oleh karena itu, untuk kaum wanita hendaknya keluar dalam keadaan menutup aurat, dengan tidak berhias, tidak memakai wewangian, dan tidak campur baur dengan laki-laki, karena dilarang oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan berpotensi mengundang fitnah bagi kaum lelaki.
Selain itu juga harus berusaha menghindari berjabat tangan dengan lawan jenis non muhirm. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ketika membaiat kaum wanita: ”Sungguh aku tidak berjabat tangan dengan wanita (yang bukan mahram).” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Dalam hadits lain disebutkan: “Benar-benar kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisi).
Jangan Egois
Sangat indah jika kita tidak menikmati kegembiraan hari raya Iedul Fitri hanya bersama keluarga semata. Tetapi juga bersama anak-anak yatim piatu dan anak-anak yang terlantar. Pahamilah mereka adalah manusia yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Dan berbahagialah anda yang bisa membahagiakan mereka.
Hal itulah yang dilakukan oleh junjungan kita Nabi Muhammad saw, manusia yang sangat mencintai kaum miskin, terlantar dan anak-anak yatim piatu.
Dalam sebuah kisah diriwayatkan bahwa ketika hendak menuju masjid rasulullah mendapati seorang anak kecil sedang menangis di sebuah sudut jalan. Rasulullah yang berhati lembut dan penyayang itu kemudian mendatangi anak kecil tersebut, lalu bertanya kepadanya : “Wahai anak, hari ini semua orang sedang bergembira dengan datangnya Hari Raya Idul Fitri, tetapi kamu terlihat menangis seorang diri disini, apa yang terjadi?”
Anak kecil itu menjawab: “Aku sedih, teman-temanku semua bergembira dengan ibu dan ayah mereka, mereka memakai baju baru dan perhiasan baru, sedangkan orang tuaku telah bercerai, ibuku menikah dengan orang lain, ayah tiriku tidak peduli denganku. Dan aku tidak mungkin dapat membeli baju baru.”
Rasulullah kemudian tersenyum haru, lantas memeluk anak kecil tersebut dengan penuh kasih, bagaikan anak beliau sendiri. Setelah itu Rasulullah berkata padanya: “Wahai anak kecil yang dikasihi Allah, maukah jika engkau menjadi anakku, aku menjadi ayahmu, dan Aisyah menjadi ibumu?”
Dengan terharu dan senyum yang tidak dapat terlukisakan, anak itu kemudian memeluk rasulullah dengan erat, air matanya mengalir karena merasakan kebaikan dan kasih sayang rasulullah kepadanya.
Rasulullah pun menggendong anak kecil itu dan membawa ke rumah beliau, kemudian menyerahkannya kepada istrinya Aisyah untuk dimandikan. Maka beberapa saat kemudian, si anak kecil yang sebelumnya dekil, kotor, bau dan berantakan itu berubah menjadi bagaikan pangeran kecil yang harum dan ceria.
Jadi di hari raya Iedul Fitri tidak diperkenankan seorang Muslim asyik hanya dengan diri dan keluarganya. Ia harus mencintai saudaranya yang lain. Berbagi bersama mereka, duduk dan makan bersama mereka.
Inilah peluang kita untuk meneladani sikap mulia beliau sebagai upaya menuju kesempurnaan iman. Mengutamakan saudara kita dari diri sendiri. Semoga kita benar-benar sukses meraih kemenangan lahir dan batin. Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi