Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Bahagia di Dunia, Mulia di Akhirat

Ahmad
Terakhir diupdate: 1 September 2014 14:25 2:25 pm
Ahmad
Dipublikasikan 1 September 2014 14:25
Bagikan
Bagikan

SIAPA yang tidak ingin hidup bahagia di dunia? Seluruh manusia tentu sangat mendambakannya. Tetapi, sebagai Muslim, tentu saja tidak sekedar berharap bahagia di dunia, tetapi juga mulia di akhirat. Inilah harapan terdalam dari sanubari setiap insan beriman.

Akan tetapi, di era yang umat Islam terhegemoni oleh peradaban materialisme, tidak sedikit dari kalangan umat Islam yang mengalami disorientasi, sehingga iman di dadanya tidak lebih dari sekedar penguatan ritual semata. Belum sampai pada penguatan iman yang sesungguhnya, yakni bagaimana sejatinya hidup di dunia ini yang sesuai dengan tuntunan-Nya.

Akibatnya jelas, perselisihan, pertengkaran dan permusuhan masih acapkali mewarnai kehidupan umat Islam sendiri. Bahkan tidak jarang terjadi di kalangan para pemimpin. Mungkin wajar dari sisi kemanusiaan, dimana manusia memang sering salah dan lupa. Tetapi sangat tidak relevan jika melihat secara mendalam bagaimana semestinya seorang Muslim hidup di dunia ini.

Jika memang sama-sama memiliki keinginan hidup bahagia di dunia dan mulia di akhirat, tidak mungkin seorang Muslim akan bertindak ceroboh atau gegabah dalam kehidupan sehari-harinya. Apalagi sampai melukai atau menjatuhkan orang lain dengan maksud-maksud yang tidak semestinya.

Apabila hal itu terjadi, maka bisa dipastikan bahwa dunia telah menjadi orientasi yang menjadikannya kehilangan kendali untuk mempersiapkan diri bagi kemuliaan hidupnya di akhirat. Dan, inilah sejatinya biang dari seorang Muslim tidak benar-benar mampu menampilkan imannya dalam konteks yang lebih nyata dalam pola pikir, tindak-tanduk ataupun perilakunya.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Boleh jadi masih mendirikan sholat, membaca kitab suci. Tetapi, orientasi yang mewarnai pemikiran dan rasa jiwanya tidak lebih dari sekedar urusan kesenangan dunia semata. Orang yang demikian, biasanya akan sangat mudah menjatuhkan vonis yang menyengsarakan bila ia pemimpin. Akan mudah memutus silaturrahim dan sangat gemar membicarakan kekurangan saudara seimannya.

Jika ini terjadi pada diri seorang Muslim, bukankah ini akan menciderai kemuliaan ibadah yang dilakukannya. Bahkan mungkin tidak sekedar menciderai tetapi akan menghanguskannya. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak sepatutnya menjadikan kehidupan dunia ini sebagai tujuan. Kembalilah pada ajaran Islam, jadikan dunia sebatas sarana meraih kebahagiaan hakiki.

Akhirat yang Utama

Dalam logika manusia, untuk bahagia di dunia maka harus melakukan banyak usaha untuk kesenangan pribadinya, selagi masih hidup. Logika ini sepintas benar, tetapi sesat. Mengapa? Jika memang demikian adanya, Allah tidak perlu mengutus Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wasallam membimbing umat manusia. Artinya, logika itu salah.

Al-Qur’an telah memberikan bukti sejarah akan hal tersebut. Bagaimana orang yang berkuasa dan kaya ternyata harus mati dalam kondisi mengenaskan lagi terhina. Termasuk kehidupan kaum-kaum terdahulu, yang sangat gagah, canggih, modern, tetapi akhirnya binasa seketika.

Jelas, mereka memiliki kekuatan materi di dunia, tetapi mereka tidak bahagia. Sebaliknya, para Nabi dan Rasul, kecuali Nabi Sulaeman Alayhissalam, seluruhnya hidup biasa-biasa saja. Namun, mereka sangat bahagia. Bahkan Allah menyebut mereka semua yang mulia itu sebagai orang-orang yang beruntung. Mengapa demikian?

Ternyata hal ini Rasulullah Shallallahu Alayhi wasallam terangkan dalam satu haditsnya. “Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. Barangsiapa yangkehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan menceraiberaikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi).

Artinya, Allah akan memberikan rasa puas di dalam hati seorang Muslim yang memang benar-benar mengutamakan akhiratnya, sehingga ia tidak pernah digempur oleh perasaan kurang, sehingga terus-menerus ingin menambah perbendaharaan hartanya dengan bersusah payah, sampai lupa waktu, lupa saudara dan lupa persaudaraan.

Ia merasa cukup, dan merasa cukup itulah kebahagiaan sesungguhnya.

Namun perlu digarisbawahi, bukan berarti orang yang merasa puas dengan dunia lantas hidup santai dan berleha-leha dengan alasan mengejar akhirat. Figur penting akan hal ini lengkap pada seluruh sosok sahabat Rasulullah Shallallahu Alayhi wasallam.

Umar Radhiyallahu anhu misalnya, beliau sebagai pemimpin tidak pernah berpikir harta untuk keluarganya. Namun demikian, tanggungjawabnya terhadap keadaan umat Islam, sampai sekarang tidak ada yang menandinginya. Demikian pula halnya dengan Abu Bakar, Utsman dan Ali Radhiyallahu anhum. Dan, sangat tidak mungkin para sahabat itu hidup tidak bahagia, mereka bahkan sangat bahagia dan tentu, sangat mulia di akhirat-Nya.

Sebaliknya, orang yang orientasinya dunia belaka, hidupnya akan berantakan. Dalam bahasa Ath-Thayyibi mereka adalah orang yang ”Jama’allaahu syamlahuu.” Artinya, urusannya tidak terhimpun rapi.

Mungkin inilah yang dialami oleh para koruptor, dimana mereka berharap hidup bahagia dengan menghimpun banyak harta, tetapi karena caranya salah alias melanggar hukum, justru di masa tua mereka hidup di balik penjara. Itu belum di akhirat.

Dengan demikian, mari kita kembali kepada ajaran Islam. Karena hanya ajaran Islam inilah yang secara nyata akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat. Jangan korbankan iman kita karena dunia. Tetaplah jalin dan jaga silaturrahim, maafkanlah orang yang bersalah bahkan yang menganiaya kita, insya Allah ridha-Nya akan menjadikan kita bahagia tiada tara. Wallahu a’lam.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menteri Zionis Ribut, Usai Perang di Gaza Anggaran Bakal Dipangkas
Tulisan selanjutnya ‘Made in Palestine’: Cara Kreatif Penggalangan Dana Dukung Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?