Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Tiga Cara Meninggalkan Kemunafikan

Ahmad
Terakhir diupdate: 25 Januari 2016 09:05 9:05 am
Ahmad
Dipublikasikan 25 Januari 2016 06:00
Bagikan
[Ilustrasi munafik]
Bagikan

PADA zaman seperti sekarang, kemunafikan seolah menjadi kelaziman. Siapa tidak munafik sepertinya tidak akan mendapatkan jabatan, keuntungan dan penghargaan. Beragam manipulasi telah nyata dipertontonkan, namun penegakan hukum ditiadakan. Pada akhirnya fakta demikian ini menjadi virus dan menyebar dengan sangat ganas.

Tetapi, itu yang kita lihat pada diri orang lain. Lantas bagaimana dengan diri sendiri, apakah sudah benar-benar terbebas dari kemunafikan? Atau malah di tengah kesholehan dalam wujud amal yang terus dilakukan, sesungguhnya mindset (cara berpikir) kita justru terus mengarah pada cara berpikir munafik? Tentu hanya hati-hati yang jujur yang bisa menjawab dengan benar.

Tanda Kemunafikan

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga; apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati.” (HR. Bukhari).

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Hadits ini umumnya tidak digali dengan penalaran yang memadai, cukup diarahkan kepada siapa saja yang memang secara tersurat dinilai memenuhi tiga kriteria tersebut dan itu pasti berurusan dengan orang lain.

Lantas, apakah itu tidak mungkin terjadi di dalam hati kita sendiri? Di sinilah setiap Muslim perlu berani memerksa kondisi hatinya. Apakah dalam setiap gerakan niat, besitan kata dan lintasan kalimat yang muncul adalah murni demi maslahah umat dan karena Allah atau jangan-jangan terselip hawa nafsu diri untuk memperoleh kepentingan pribadi?

Sekiranya Nabi Yusuf Alayhissalam mau, beliau tidak perlu masuk penjara. Tetapi tunduk terhadap orang yang mindset-nya sudah keliru, bukanlah langkah tepat untuk dilakukan.

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِۖ وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ ٣٣

 

“Yusuf berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf [12]: 33).

Dalam tafsirnya Ibn Katsir menjelaskan bahwa Nabi Yusuf menolak dengan sangat tegas dan memilih untuk dipenjara. Hal ini tiada lain karena Nabi Yusuf mementingkan terpeliharanya iman daripada tercapainya kesenangan, mendahulukan maslahah daripada mafsadah, yang tentu semua itu dipilih karena takut kepada Allah dan mengharap ridho-Nya.

Hari ini, apakah hati kita memilih terselamatkannya iman atau malah terpeliharanya kedudukan, jabatan dan penghargaan? Jika dalam setiap gerak-gerik hidup ini yang dicari hanyalah kesenangan dengan menomorduakan iman, maka sungguh kemunafikan itu mulai tumbuh. Dan, jika dibiarkan ini bisa menimbulkan banyak kerusakan. Di sisi lain, hati dan pikiran akan terkonsentrasi bagaimana menyenangkan atasan meski dengan cara-cara tidak terhormat dan menginjak-injak bawahan secara semena-mena. Bahkan menyingkirkan kanan dan kiri demi ambisi pribadi.

Dengan kata lain, cara pertama untuk menjaga hati dari kemunafikan adalah dengan komitmen kepada iman, dan siap mempertahankannya apapun resiko yang mesti dihadapi.

Kedua, jangan memberi dengan harapan mendapat balasan lebih  وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ  yang artinya, “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Mudatstsir [74]: 6).

Sebagai Muslim, kita mesti waspada, jangan sampai dalam setiap kebaikan yang dilakukan terbesit keinginan mendapa imbalan lebih banyak, lebih besar, lebih terhormat dan lain sebagainya.

Jika ini terjadi dalam sebuah tim kerja maka orang yang gagal mewaspadai hal tersebut akan banyak merapat pada atasan dan menganggap dirinya orang penting. Pada saat yang sama terhadap sesamanya ia merendahkan. Pekerjaannya hanya mengoreksi kinerja orang, menyalahkannya dan kemudian memberikan banyak komentar dan semua itu dilakukan dengan bahasa yang boleh jadi sangat lembut dan ‘mempesona.’

Terhadap sifat-sifat yang demikian, seorang guru pernah berkata kepada muridnya, “Jangan pernah sekali-kali kamu mempergunakan kedudukanmu, kebaikanmu apalagi kecerdasanmu untuk mendapat keuntungan pribadi, lebih-lebih dengan cara-cara yang curang, meski yang di atasmu adalah orang yang sangat dekat denganmu.”

Ketiga, memohon kepada Allah agar hati ini tidak cenderung pada ketidakbaikan dan ketidakbenaran.

Nabi Yusuf bisa selamat dari kemunafikan karena beliau berdoa kepada Allah.  Ibn Katsir menguraikan hal ini dalam tafsirnya.

“Dan jika Engkau tidak hindarkan (menjauhkan) tipu daya mereka dariku, tentu aku cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka),” maksudnya, jika Raab menyerahkan hal itu kepada diriku, pasti aku tidak mampu dan aku tidak dapat mengendalikan apa yang dapat merugikan dan berguna bagi diriku kecuali dengan daya—Mu dan kekuatan-Mu. Engkaulah Al-Musta’an (tempat kami meminta pertolongan) dan kepada-Mu lah kami bertawakkal, maka janganlah Engkau serahkan (urusan) diriku kepadaku sendiri.

Pada akhirnya semua kembali pada diri kita masing-masing sebagai Muslim. Tetapi, yang pasti kemunafikan tidak akan mendatangkan kebahagiaan. Sebab kemunafikan sandarannya pada keuntungan yang direkayasa rasio sementara ketulusan, keikhlasan adalah keuntungan yang sandarannya adalah Allah. Dan, Allah mustahil tidak memberikan kebahagiaan kepada Muslim-Muslimat yang dengan susah payah menjaga hatinya dari noda kemunafikan. Wallahu a’lam.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:curangkemunafikanmindsetMunafik
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rakerda BMH Hadirkan Syamsul Arifin Nababan
Tulisan selanjutnya Artis dan Pesona Perdagangan Perempuan [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?