MAHA besar Allah yang mempergilirkan waktu dan dengan ketetapan-Nya menjadikan setiap bulan di antaranya dengan beragam peristiwa, ibrah yang jika diperhatikan dengan seksama akan mendatangkan ketertarikan hati untuk senantiasa berdzikir dan mengagungkan Allah Ta’ala semata.
Seperti yang kini kita lalui di bulan Rajab 1437 H. Tidak lama lagi Isra’ Mi’raj akan tiba. Suatu momentum yang terus menjumpai kehidupan kaum Muslimi di setiap pergantian tahun sepanjang masa. Yang di Indonesia, peristiwa ini selalu diperingati dengan beragam kegiatan yang mengajak kita kembali memahami latar belakang diwajibkannya perintah sholat lima waktu.
Namun, sebagai pribadi Muslim ada baiknya berpikir mengenai langkah konkret yang mesti diambil sebagai wujud ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, terutama dalam konteks menggali makna dari pada Isra’ Mi’raj itu sendiri untuk kemudian komitmen mendirikan amalan yang pertama kali akan dihisab di yaumil akhir.
Isra’ Mi’raj
Peristiwa Isra’ Mi’raj disampaikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an.
سُبْحَانَالَّذِيأَسْرَىبِعَبْدِهِلَيْلاًمِّنَالْمَسْجِدِالْحَرَامِإِلَىالْمَسْجِدِالأَقْصَى
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha.“ (QS. Al Isra’[17] :1).
Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina), berdasarkan firman Allah :
Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit.
Ibn Katsir dalam tafsirnya pada ayat di atas mengutip hadits yang menjelaskan mengenai peristiwa tersebut. Dan, di akhir pembahasannya, ulama tafsir terkemuka itu mengatakan bahwa Rasulullah menjalani Isra’ Mi’raj dalam keadaan sadar dan dengan jiwa-raganya, bukan sebatas ruh. Sebab beliau melihat dan melihat itu adalah pekerjaan material, serta menunggangi Buroq, sesuatu yang tidak dibutuhkan oleh ruh.
Artinya, Isra’ Mi’raj ini adalah perkara besar yang setiap Muslim wajib mengimaninya dengan penuh ketundukan kepada Allah Ta’ala.
Keutamaan Sholat dan Melangkah ke Masjid
Keutamaan paling mendasar dari sholat yang setiap umat Islam sangat membutuhkannya adalah diampuni dosa-dosa oleh Allah Ta’ala. Semakin sholat didirikan dengan baik maka semakin Allah hapus dosa-dosa kita.
“Bagaimana menurut kalian jika ada sebuah sungai di depan pintu salah seorang kalian dan ia mandi di situ lima kali setiap hari, apakah asih tersisa kotorannya?
Para sahabat menjawab, “Tentu saja, tidak akan ada sedikit pun kotoran yang tersisa.” Rasulullah kemudian berkata, “Begitulah perumpamaan sholat lima waktu yang karenanya Allah menghapus dosa-dosa.” (HR. Bukhari).
Namun, masih ada tambahan keutamaan dari mendirikan sholat, terutama jika dilakukan secara berjama’ah.
Jika kita perhatikan, Isra’ Mi’raj adalah perjalanan dari masjid ke masjid menuju sidratul muntaha. Artinya, hikmah paling dasar dari peristiwa ini adalah umat Islam tidak boleh jauh dari masjid. Dan, karena itu, telah disediakan perintah sholat lima waktu, yang jika dikerjakan di masjid secara berjama’ah Allah sediakan pahala yang berlipat. Dengan demikian, sholat sejatinya tidak bisa dipisahkan dari masjid.
Oleh karena itu, setiap perkara yang menjadikan seorang Muslim sampai ke masjid, Allah nilai sebagai kebaikan dan kemuliaan.
“Barangsiapa yang pergi atau berangkat ke masjid, maka Allah akan menyediakan untuknya suatu hidangan manakala ia pergi atau berangkat.” (HR. Bukhari).
Kemudian, Rasulullah juga bersabda, “Rangkaian sholat fardhu yang satu dengan sholat fardhu yang lain itu menjadi tebusan bagi dosa-dosa yang terjadi di antara kedunaya; selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim).
Dengan demikian, idealnya setiap Muslim tidak meremehkan apalagi meninggalkan sholat. Namun dalam praktiknya hal ini tidak mudah, butuh kesungguhan dan kesabaran dalam mendirikannya. Oleh karena itu, pahala sholat sangat luar biasa.
Dan, tidak sepatutnya sholat yang didirikan tidak melahirkan kesholehan sosial, sebab derajat terbaik tidak bisa digapai dengan hanya menjadi Muslim yang sholih, tetapi juga mesti menjadi Muslim yang Muslih (mampu menjadi manusia yang senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan alias bermanfaat bagi maslahat umat). Wallahu a’lam.*