Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Baper Sama Sejarah Nabi, Why Not?

Ahmad
Terakhir diupdate: 2 Agustus 2016 08:21 8:21 am
Ahmad
Dipublikasikan 2 Agustus 2016 08:21
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

Bagi generasi millenial, baper (bawa perasaan) adalah kata gaul yang sangat populer. Di media sosial, tidak sedikit dari kalangan generasi Y itu yang suka nulis status baper. Generasi millenial, adalah mereka yang lahiran tahun 1980, yang menjadi pelaku industri digital.

Tetapi, bagaimanakah sebenarnya posisi baper itu? Mungkin sangat tergantung dari apa yang kita baper-in. Kalau kita pernah kecewa dalam suatu usaha, lalu sulit move on dan cenderung apatis, jelas baper jenis ini tidak disarankan. Tetapi, kalau kamu membaca sejarah Nabi Muhammad, baper itu perlu, sehingga bisa memudahkan diri memahami bagaimana perasaan Nabi dalam menghadapi segala sisi kehidupannya.

Sebab, Nabi sendiri adalah orang yang sangat baper, terutama dalam segala hal yang menyangkut kebaikan umatnya.

لَقَدۡجَآءَڪُمۡرَسُولٌ۬مِّنۡأَنفُسِڪُمۡعَزِيزٌعَلَيۡهِمَاعَنِتُّمۡحَرِيصٌعَلَيۡڪُمبِٱلۡمُؤۡمِنِينَرَءُوفٌ۬رَّحِيمٌ۬

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah [9]: 128).

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Menurut Ibn Katsir عَزِيزٌعَلَيۡهِمَاعَنِتُّمۡ memiliki makna bahwa Rasulullah merasa berat menyaksikan penderitan dan kesusahan yang menimpa umatnya. Kemudian حَرِيصٌعَلَيۡڪُم bermakna berkeinginan keras untuk memberikan petunjuk dan menghasilkan manfaat duniawi dan ukhrawi kepada kita.

Artinya, Rasulullah memilki perasaan yang sangat halus dan sangat perhatian terhadap umatnya. Dalam bahasa generasi millenials bisa dikatakan sangat baper terhadap kaum Muslimin.

Hal ini bisa kita lihat dari suatur riwayat yang menunjukkan hal tersebut.

Pada suatu kesempatan, Rasullullah seperti diriwayatkan Abdullah bin Amr bin al-Ash, tengah membaca kisah Nabi Ibrahim juga tentang Nabi Isa. Setelah itu Rasulullah mengangkat tanganya dan berdoa. “Ya Allah, umatku, umatku. Setelah itu beliau menangis. Kemudian Allah befirman, wahai Jibril, temuilah Muhammad–Rabbmu Maha Tahu apa yang terjadi, lalu tanyakan kepadanya kenapa ia menangis.

Jibril kemudian mendatangi beliau. Kemudian beliau ceritakan, apa yang terjadi-Dia Maha Tahu tentang hal itu. Lalu Allah berfirman, Wahai Jibril, temuilah Muhammad lalu katakan, Kami membuatmu ridha mengenai nasib umatmu dan itu tidak akan mengecewakanmu” (HR. Muslim).

Dengan demikian, sangatlah pantas bahkan teramat kita butuhkan untuk benar-benar membawa perasaan kita (baper) dalam membaca sejarah Rasulullah. Sebab dengan baper terhadap sejarah Nabi, hati kita akan lembut, sikap kita akan bijaksana dan tentu saja visi hidup kita bukan saja di dunia, tetapi dunia-akhirat.

Fase kelahiran. Sejak lahir ke dunia Rasulullah telah ditinggal ayahandanya, sehingga beliau lahir dalam keadaan yatim. Baper pada fase ini akan membuat hati kita peka terhadap setiap anak-anak kaum Muslimin yang lahir dengan kondisi tidak lagi memiliki ayah atau ibu.

Kemudian, bayangkan saat Rasulullah berusia enam tahun, dimana Siti Aminah yang merupakan satu-satunya manusia yang paling sayang kepadanya juga menemui ajalnya.

Bayangkan saat sore hari, dimana Rasulullah yang yatim piatu sedang bermain atau berjalan. Kemudian beliau terjatuh dengan lutut terluka dan tidak lama setelah itu hujan deras mengguyur. Kepada siapakah beliau berkeluh kesah, nama siapakah lagi yang bisa dipanggil dan memberikan sentuhan lembut terhadap luka dan dirinya. Memanggil ayah, ibu, jelas tidak mungkin. Dan, demikian Nabi menghadapi situasi sulit seperti itu.

Hikmahnya, kita akan punya kepekaan untuk memiliki perhatian dan kepedulian terhadap anak-anak yatim dan yatim piatu. Subhanalloh, baper terhadap masa kecil beliau benar-benar akan menghidupkan hati kita.

Namun, jangan salah. Rasulullah juga seorang remaja yang gigih dan amanah dalam kehidupannya. Beliau tidak berpangku tangan dan menggantungkan hidupnya dengan bergantung kepada orang lain. Beliau berani menggembala dan menekuninya dengan penuh cinta. Termasuk kala ikut berdagang.

Jika secuil sejarah ini dibaca dengan baik penuh perasaan, cinta dan kesungguhan, maka kita akan memiliki jiwa yang tegar, sabar dan gigih dalam perjuangan. Sebab, hanya Rasulullah suri teladan kehidupan yang dijamin memberika kebahagiaan dunia-akhirat.

لَّقَدۡكَانَلَكُمۡفِىرَسُولِٱللَّهِأُسۡوَةٌحَسَنَةٌ۬لِّمَنكَانَيَرۡجُواْٱللَّهَوَٱلۡيَوۡمَٱلۡأَخِرَوَذَكَرَٱللَّهَكَثِيرً۬

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Oleh karena itu, sangat tepat apa yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Menurut Ibnul Qayyim,  “Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantungkan kebahagiaan dunia dan akhirat pada ittiba kepada beliau, dan menjadikan celaka di dunia dan akhirat disebabkan menentang beliau.”

Dengan demikian, baper itu penting terutama dalam membaca sejarah kehidupan Nabi Muhammad.

Jadi, jangan sampai salah kaprah, terhadap keinginan yang belum bisa diwujudkan jiwa bisa sangat baper, sementara terhadap apa yang akan membahagiakan kehidupan dunia-akhirat, kita justru tidak bisa baper. Padahal, dengan baper dalam membaca sejarah Nabi, kebahagiaan itu telah kita buka dalam kehidupan kita sekarang dan selamanya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baperbawa perasaangenerasi millenialsejarah Nabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid Harus jadi adalah Sarana Perjuangan dan Dakwah
Tulisan selanjutnya New York Larang Pokemon Go Bagi Pelaku Tindak Kejahatan Seksual

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?