Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Peran Wanita dalam Sirah Nabawiyah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Februari 2019 10:22 10:22 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Februari 2019 10:22
Bagikan
istri sholehah
ilustrasi
Bagikan

SEBELUM kedatangan Islam, wanita hampir tak memiliki peran. Keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Abu al-Hasan al-Nadawi, ulama kenamaan asal India, dalam buku masyhurnya Mādza Khasira al-`Ālāma binkhiṭāti al-Muslimīn (h. 55) menggambarkan kondisi wanita di masa memilukan itu: “Pada masyarakat jahiliah perempuan rentan (mendapat perlakuan) tak adil dan zalim, hak-haknya dirampas, hartanya diambil, tak mendapat warisan, setelah talak atau ditinggal mati suaminya mereka dihalangi menikah dengan lelaki yang disukai, serta dijadikan sebagai warisan sebagaimana barang atau hewan.”

Saat Islam datang, kegelapan yang menyelimuti wanita menjadi sirna. Mereka seakan terlahir kembali. Hak-haknya dipenuhi, keberadaannya diperhitungkan, bahkan memiliki peran-peran yang tidak kecil. Pada tulisan ini akan dibahas peran wanita dalam sirah nabawiah.

Ada dua fase penting yang menjadi latar untuk menjelaskan peran mereka di masa nabi. Pertama, Fase Makkah. Kedua, Fase Madinah. Bila ditinjau dari sirah nabawiah, pada kedua fase tersebut, wanita sangat berperan aktif. Berikut ini –tanpa bermaksud membatasi- ada beberapa contoh wanita yang akan diangkat:

Baca:  Wahai Muslimah, Jadilah Pendukung Dakwah

Fase Makkah

Pada fase Makkah beberapa wanita yang bisa dijadikan contoh adalah: Pertama, Khadijah binti Khuwailid: di samping sebagai wanita pertama yang masuk Islam, ia juga memainkan peran penting sebagai istri shalihah yang mampu menjadi pendukung (materi maupun rohani), penentram jiwa, penenang hati, mitra dialog asyik, serta pendidik hebat bagi anak-anak nabi. Kehidupannya adalah contoh ideal bagi setiap Muslimah yang berperan sebagai seorang istri.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Kedua, Samiyyah : Ibunda Ammar bin Yasir memerankan peran penting sebagai wanita mujahidah pertama yang dengan ketabahan, kesabaran, dan keyakinannya mengantarkannya pada kemulian syahid. Ia adalah wanita Muslim pertama yang mati fi sabilillah. Darinya Muslimah bisa belajar kemulian wanita bukan berada pada kedudukan dan harta, tetapi pada seberapa tabah memperjuangkan keimanan.

Ketiga, Asma binti Abu Bakar, Dzun Nithaqaini: Berperan penting dalam suksesi hijrah nabi. Ia adalah sosok wanita tangguh. Dalam kondisi hamil tua, menempuh jarak perjalanan sekitar delapan kilo dari Makkah sampai gua Tsur, mendaki gunung, bolak-balik sendirian selama tiga hari berturut-turut untuk mengantarkan bekal makan dan minum, penjaga rahasia, serta menyampaikan kabar terkini terkait perkembangan Makkah. Sosok sepertinya sangat layak untuk diteladani.

Baca: Ketika Perempuan Minta Dipinang Laki-laki

Keempat, Istri `Amir bin Rabi`ah: Di samping ikut hijrah ke Habasyah, ia juga memiliki firasat kuat tentang keislaman Umar bin Khattab yang waktu itu masih kafir.  Kelima, Ummu Salamah dan Ruqayyah binti Muhammad Shallallahu `alaihi wasallam: dengan kesabaran tinggi ia mampu berperan baik dalam hijrah ke Habasyah. Dengan begitu telaten dan sabar mereka mampu menjadi teladan bagi setiap Muslimah yang menghendaki kemulian.

Tak hanya itu, Keenam, Fathimah binti Khattab: Wanita tabah dan pemberani, saudara Umar yang mempu mempertahankan keimanannya. Ia berperan besar dalam mengajak suami serta saudaranya dalam memeluk Islam. Sebagai wanita ia pemberani dan gigih dalam perjuangan.

Fase Madinah

Fase Madinah juga tak sepi dari peran wanita. Sebagai contoh: Pertama, Aisyah binti Abu Bakar: Di samping sebagai seorang istri ia juga berperan aktif dalam bidang kelimuan. Hafalan yang begitu kuat memungkinkannya menceritakan peristiwa yang ia alami sejak di Makkah hingga ihwal Rasulullallah ﷺ. Hadits yang diriwayatkan begitu banyak (2210 hadits. Baca: Taisir Musṭalah al-Hadits, 107), pemahaman terkait fikih begitu mendalam, kemampuanya dalam memahami, menganalisa, dan mengambil faidah dari teks al-Qur`an dan Hadits begitu tinggi.

Kedua, Pada Perang Khandaq mereka menyiapkan makanan bagi para sahabat yang sedang menggali parit. Umayyah binti Shalat menceritakan bahwa ada perempuan muda dari bani Ghifar yang turut serta dalam perang Khaibar, ia bertugas mengobati luka dan memberi bantuan sesuai kadar kemampuan.

Ketiga, Ummu `Imarah Nasibah binti Ka`ab al-Maziniyah: Saat darurat berpartisipasi dalam medan jihad perang. Dalam Perang Uhud ia turut berperang melindungi Rasulullah. Ia bertugas memberi minum para mujahid, bahkan sempat berperang. Dhimrah bin Sa`id –cucu Nasibah- pernah menghitung lukanya sekitar dua belas atau tiga belas luka tusukan (Sirah Nabawiah, Muhammad Shallabi).

Keempat, Ummu Salamah: Pasca perjanjian Hudaibiah berperan penting dalam memberikan pendapatnya kepada nabi terkait para sahabat yang tak segera menjalankan titah nabi. Di sini wanita juga berperan sebagai pihak yang bisa diajak musyawarah dengan suami untuk memecahkan masalah.

Baca: Antara Kartini dan Sayidah Aisyah 

Kelima, Ibu Zaid bin Tsabit: Berperan aktif dalam pendidikan anak. Zaid yang ditolak berpartisipasi dalam perang, dibesarkan hatinya oleh ibunya, bahkan dididik sedemikian rupa hingga Zaid dalam sejarah tercatat sebagai Pencatat dan Ahli Al-Qur`an.

Keenam, ada riwayat dari Bukhari dan Muslim yang menjelaskan adanya seorang wanita  (ada yang berpendapat: Ummu Sulaim, sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar di Fath al-Bari) yang mengusulkan agar ada bagi wanita waktu khusus untuk ta`lim.  Para istri nabi pun berperan efektif dalam menjelaskan ihwal internal nabi yang perlu diketahui oleh umat. Mereka berperan aktif dalam pemberdayaan wanita.

Bila dirangkum, beberapa peran wanita dalam sirah nabawiah ialah: sebagai istri shalihah, penyokong dakwah, pendidik bagi anak-anaknnya, jihad di medan laga sesuai dengan bidang yang dikuasai, mitra musyawarah suami, dan pemberdayaan wanita sesuai dengan kodratnya. Demikianlah salah satu gambaran penting mengenai peran wanita di sirah nabawiah. Semoga setiap wanita Muslimah, mampu meneladani peran mereka.

Sebagai penutup perlu kiranya dibaca kembali hadits nabi: “Wanita adalah saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi). Mereka sama-sama memiliki peluang sama dalam berperan aktif mengaktualisasikan ketaatan pada Allah sesuai dengan kodrat masing-masing. Lantas apa peran kita?*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamSahabat Nabishahabiyahsirah nabawiwanita
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Zionis Israel Tembak Gadis Palestina di Tepi Barat
Tulisan selanjutnya Komunitas Konsumen Somasi Pemerintah, Desak Cabut Izin Bagasi Berbayar Pesawat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Berita
4 Juni 2026 21:20
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?