IMAM AR RAFI’I suatu saat mengunjungi sultan Khawarzmi Syah setelah tiba dari medan pertempuran. Ulama tarjih madzhab As Syafi’i tersebut menyampaikan,”Saya telah mendengar bahwa Anda memerangi orang-orang kafir dengan tangan Anda sendiri, saya ke sini untuk mencium tangan Anda itu.”
Namun Khawarizmi Syah menjawab,”Tapi saya yang ingin mencium tangan Anda”, dan akhirnya Khawarzmi mencium tangan Imam Ar Rafi’i dan mereka berdua bercakap-cakap lantas kemudian berpisah.
Namun tidak lama setelah Imam Ar Rafi’i pergi beliau terjatuh dari kendaraan dan tangan beliau yang telah dicium oleh Khawarzmi Syah cidera. Imam Ar Rafi’i pun berkata,”Subhanallah, sultan telah mencium tanganku hingga aku merasa ada kebesarkan dalam diriku, maka aku dihukum dengan hukuman ini.” (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 8/284)
Demikianlah kepekaan ulama terhadap amalan hati, hingga musibah yang menimpa dikaitkan dengan amalan hatinya.