Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

“Syam dalam Kenangan: Kisah Keramahan Penduduknya yang Tak Terlupakan”

Ahmad
Terakhir diupdate: 5 Juni 2025 11:18 11:18 am
Ahmad
Dipublikasikan 4 Juni 2025 15:00
Bagikan
Anak-anak berbaris untuk mendapatkan permen kapas di dekat benteng bersejarah kota Aleppo di Suriah utara tahun 2017, ketika masih dibawah penjagaan pejuang oposisi (Foto: Xinhua)
Bagikan

Syam, dulunya pusat peradaban Islam dan tanah yang diberakhi dengan penduduknya, namun diuji penindasan terorganisir dan sistematis oleh asing maupun antek-anteknya dari dalam

Hidayatullah.com | JATUHNYA rezim Bashar al-Assad baru-baru ini menandai lebih 100 tahun penduduk Suriah mengalami penindasan. Menandai ini, redaksi mengangkat kisah pengalaman Dzikrullah, wartawan Hidayatullah yang juga relawan KITA yang pernah tinggal di Suriah (Kawasan Syam).

Setelah penggulingan Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024, Komando Umum Revolusi Suriah memilih Ahmed al-Sharaa sebagai Presiden Suriah pada 29 Januari 2025 dalam Konferensi Kemenangan Revolusi di Damaskus, menandai lebih dari lima dekade kekuasaan keluarga Assad di Suriah.

Perlu diketahui, Suriah mengalami penindasan 4 fase. Fase Kolonial & Mandat Perancis (30 tahun, dari 1916–1946), Fase Instabilitas Pasca-Merdeka (24 tahun, dari 1946–1970), Fase Hafez al-Assad (30 tahun, dari 1970–2000) dan Fase Bashar al-Assad (24 tahun, dari 2000–2024), total 108–112 tahun dibawah penindasan.

Mulianya Penduduk Syam

Baca Juga

Kisah Mualaf Big Frank, Influencer Penuh Tato asal Inggris
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

Tahun 2008, saya dan istri menginjakkan kaki di Suriah — bagian dari negeri Syam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai “negeri yang diberkahi.”

Kami datang bukan untuk berlibur atau mencari penghidupan, tetapi membawa niat belajar dan mengabdi, menempuh kehidupan sederhana dalam tapak jejak para nabi.

Damaskus menjadi tempat tinggal kami. Kota ini bukan sekadar ibukota: ia adalah saksi bisu dari keberkahan yang telah mengalir selama ribuan tahun.

Dari sinilah para ulama besar muncul. Di tanah ini, saya belajar bahwa hidup bisa berada dalam dua alam yang bertentangan: satu sisi penuh cahaya, satu sisi penuh bayangan.

Di satu sisi, Suriah adalah negeri yang didoakan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, yang artinya; “Ya Allah, berkahilah negeri Syam dan Yaman.”   (HR. Bukhari dan Muslim).

Saya menyaksikan langsung keberkahan itu. Kami tinggal tidak jauh dari sekolah milik Syekh Nuruddin ‘Itr — seorang ahli hadis yang setiap tahun meluluskan 80 perempuan penghafal Shahih Bukhari dan Muslim.

Tak ada yang viral. Tapi keikhlasan ilmu nyata terasa di udara.

Saya melihat sendiri betapa penduduk Syam memuliakan ilmu dan para penuntutnya.

Suatu hari, keponakan saya yang masih remaja masuk ke toko kelontong. Pemilik toko bertanya, “Dari mana?” — “Indonesia,” jawabnya.

“Ngapain di sini?” — “Belajar Qur’an.”

Sang pemilik langsung berkata, “Ambil apa yang kamu butuh. Gratis.”

Dan itu bukan satu-satunya. Apotek di ujung gang memberi obat gratis bagi pelajar asing.

Seorang bidan menolak dibayar saat membantu istri penuntut ilmu melahirkan. Di Suriah, kami tak merasa seperti tamu, tapi seperti keluarga dari satu umat.

Lebih dari itu, saya menyaksikan bahwa akhirat benar-benar dekat di hati mereka. Saya sering berkata:  “Saya melihat, akhirat itu seperti ada di sebelah kamar mereka.”

Namun, di sisi lain, negeri ini (kala itu masih di tangan Assad) berada dalam genggaman tirani. Sejak 1973, kekuasaan dikuasai oleh keluarga Assad — minoritas Nushairiyah Alawiyah — yang mengendalikan segalanya meski 70% penduduk Suriah adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Rezim ini mewarisi kekuasaan dari ayah ke anak: dari Hafez ke Bashar, dari tangan besi ke tangan besi lainnya.

Di Suriah, ada ungkapan populer: “Kalau di Saudi, dinding bisa mendengar. Di Mesir, dinding bisa melihat. Tapi di Suriah — dinding bisa menangkapmu.”

Saya merasakannya. Selama dua setengah tahun tinggal, rumah kami didatangi intelijen delapan kali.

Mereka tahu semua: nama mertua saya, saudara ipar, kegiatan kami, siapa yang datang dan pergi. Data itu bukan disimpan di komputer, tapi dalam lembaran kertas yang diketik rapi.

Saya pernah melihat langsung arsip mereka. Saat saya tanya mengapa tidak menggunakan sistem digital, mereka menjawab: “Justru karena manual, negara kami aman.”

Ironi yang menyakitkan. Kecurigaan menjadi kebijakan.

Shalat berjamaah pernah dilarang. Ustadz dan dai dibungkam. Kata “presiden” pun hanya diucap dengan kode. Semua hidup dalam sunyi yang mengawasi.

Tapi apa yang mengagumkan: dalam tekanan seperti itu, akhlak mereka tidak mati.

Pernah ada sebuah pertengkaran di jalan. Tiba-tiba ada orang lain meneriakkan “Shallu ‘alan Nabi!” semua langsung reda.

Bahkan saat mobil saling salip, sang sopir hanya turun untuk berkata, “Kamu baik-baik saja?”

Saya jadi merenung. Mengapa mereka yang diuji — bukan kita? Padahal kita di Indonesia hidup tenang, beribadah bebas, namun tak selalu bersyukur.

Jawabannya baru ketemu. Karena mereka lebih kuat. Karena iman mereka lebih tinggi, sesuai janji Al-Quran;  “Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian ujian seperti yang dialami orang-orang sebelum kamu?”   (QS. Al-Baqarah: 214).

Kini, ketika saya mengingat Suriah, saya tidak hanya ingat pelajaran agama dan sesi kuliah. Saya teringat pada tukang toko yang memuliakan Qur’an. Pada apoteker yang memberi obat tanpa meminta bayaran. Pada orang asing yang bershalawat saat orang lain marah. Dan pada rasa takut yang tidak membunuh iman.* (bersambung tulisan dua)>>> Sejarah Panjang Ujian Penduduk Syam

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bumi SyamHeadlinependuduk Suriahperadaban IslamPilihan RedaksisuriahSyamtanah yang diberakhi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Puncak Haji Dimulai, 203 Ribu WNI Mulai Bergerak ke Arafah
Tulisan selanjutnya Bahaya Screen Time Berlebih pada Anak: Hiperaktif hingga Gangguan Tidur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Dari Kaltim ke Maroko, Dua Hafidz Ini Wakili Indonesia di MTQ Internasional

Berita
10 Agustus 2026 17:00
Helikopter Tempur Apache Jatuh di Texas Dua Prajurit Amerika Tewas
Mantan Profesor Cambridge di Pusaran Tuduhan Plagiarisme Ditemukan Tak Bernyawa
Ratusan Orang Kurdi Suriah Kembali ke Kampungnya Setelah Bertahun-tahun Mengungsi
Menteri Ekstremis ‘Israel’ Desak Netanyahu Larang Presiden Palestina Kembali ke Tepi Barat

Terbaru

  • Iran Hadiahi Rp480 Juta Warganya yang Berhasil Tangkap atau Bunuh Tentara AS
  • Perang Iran Dongkrak Penjualan Truk Listrik China
  • Qatar Bantah Menahan Pilot Iran
  • Tidak Becus Tandai Kecurangan NTU Hentikan Penggunaan Detektor AI
  • Pakai Toilet Umum Kaum Hawa Disuruh Bayar Kaum Adam Gratis, Wanita Austria Ini Menggugat
  • Banyak Peluncuran Satelit Eropa Terancam Kekurangan Roket
  • Redam Aksi Protes PM Modi Janjikan Pelatihan AI Gratis untuk Pelajar India
  • PM Anwar Ibrahim Upayakan Pencabutan UU yang Membatasi Kegiatan Politik Mahasiswa
  • Uni Emirat Tetapkan Libur Maulid Nabi 1448 Hijriyah Tanggal 28 Agustus
  • Mantan Profesor Cambridge di Pusaran Tuduhan Plagiarisme Ditemukan Tak Bernyawa

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

30 Mei 2026 17:30
Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?