Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Dicari! Lelaki Sekaligus Suami yang Sholeh

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 November 2011 15:56 3:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 November 2011 15:56
Bagikan
Bagikan

Oleh: Paridah Abas

Ketiga, RINGAN TANGAN

BERKACA kepada akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wassalam terhadap isteri-isterinya.Di antara yang telah dimuat kemarin, selain beriman dan bertaqwa, ciri suami yang sholeh adalah PERHATIAN dan PENYABAR. Selain itu masih ada ciri yang lain, yakni RINGAN TANGAN.

Ringan tangan, maksudnya suka membantu. Suami yang ringan tangan, ia kerap membantu istrinya. Inilah salah satu pria idaman para isteri. Maknanya adalah, suami yang tidak segan membantu urusan-urusan rumah-tangga dan tidak takut dicela sebagai suami yang takutkan isteri. Bukankah Rasulullah juga menghulurkan tangan bagi meringankan beban isterinya?

At-Tabari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam membantu kerja-kerja rumah, membantu isterinya seperti memotong daging, menyapu rumah malah membantu pembantunya melakukan tugas. Dalam riwayat lain dinyatakan bahwa baginda menjahit pakaiannya dan menampal kasutnya.

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Al-Aswad bin Yazid pula berkata, aku bertanya kepada Aisyah tentang apakah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wassalam di rumahnya? Aisyah menjawab, “Beliau membuat tugas keluarganya, yaitu membantu kerja keluarganya. Apabila masuk waktu shalat, beliau pun keluar untuk shalat.” [Hadith riwayat Bukhari]

Banyak para suami kurang menyadari, bahwa bahwa pekerjaan istri di rumah itu tidak ada habisnya dan selalu diburu deadline. Ditambah lagi bila sudah memiliki cahaya mata atau cahaya hati, yang berarti ada penambahan tanggungjawab. Jadi, selain pekerjaan rumah, isteri juga mengharap agar dibantu dalam pengurusan anak. Memandikan, mengasuh, menghibur, mendidik adalah antara tugas-tugas yang dapat dilakukan untuk meringankan beban isteri.

Pepatah melayu menyatakan, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Begitulah seyogyanya pasangan suami-isteri. Tidak ada pembagian kerja berdasarkan gender di dalam rumah. Hikmahnya, kerja menjadi ringan dan segera dapat diselesaikan yang bermakna akan lebih banyak waktu untuk diluangkan bersama. Hikmah yang lebih besar, cinta isteri semakin subur karena bagi seorang isteri, kesanggupan suami membantu adalah salah satu manifestasi cinta. Secara tersirat ia menggambarkan betapa suami memahami isterinya, beban dan tanggungjawabnya.

Kempat, TIDAK EMOSI

Antara tanda sikap bijaksana dalah tidak mudah terpancing emosi, marah utamanya. Ada banyak hal yang dilakukan atau secara tidak sengaja dilakukan oleh isteri yang berpotensi membangkitkan kemarahan suami, membuat suami bersedih atau paling tidak, menyinggung hati suami. Sikap isteri yang berubah-ubah seperti lalai, lupa, malas, marah, mengada-ngada, melankolis berhari-hari, adalah hal-hal biasa, namun adakalanya terlihat luarbiasa dan membuat seorang suami merasa tak sabar.

Mencari tahu dan mencari sebab kenapa hal-hal tersebut terjadi adalah cara menahan diri yang baik. Wanita dilahirkan sebagai manusia, dengan perasaan, saraf dan hormon, sama seperti lelaki. Mereka tidak terlahir dengan manual program atau remote control. Sering pula mereka tidak sedar telah menyakiti hati suami. Dan sering pula kesalahan yang dikatakan dilakukannya sebenarnya tidak pernah dia lakukan.

Mari kita ambil pelajaran dari kisah fitnah yang menimpa Aisyah radhiyallahu anha dan Shafwan bin al-Mu’attal radhiyallahu anhu sepulangnya mereka dari ekspedisi penaklukan Bani Mushtaliq. Bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersikap dan bereaksi terhadap berita fitnah yang sampai padanya. Meski teriris hatinya, baginda tetap tenang dan memilih mengadu kepada Rabb-nya, meminta pendapat dan nasihat dari sahabat-sahabat yang terpercaya.

Musibah fitnah ini terjadi tatkala suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan.

Kemudian ‘Aisyah naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan menyusul rombongan Rasullullah SAW dan para shahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai di Madinah.

Peristiwa fitnah terjadi tatkala ada hasutan dari golongan Yahudi dan munafik bahwa telah ‘terjadi apa-apa’ antara ‘Aisyah dan sahabat Shafwan.

Masalah semakin pelik karena sempat terjadi perpecahan di antara kaum Muslimin yang pro dan kontra atas isu tersebut. Sikap Nabi juga berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh ‘Aisyah untuk segera bertaubat. Sementara ‘Aisyah tidak mau bertaubat karena merasa tidak pernah melakukan dosa yang dituduhkan kepadanya, ia hanya menangis dan berdoa kepada Allah agar menunjukkan yang sebenarnya terjadi. Kemudian Allah menurunkan ayat yang menunjukkan kepada kaum Muslimin bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau, yaitu ‘Aisyah r.a.
Dari sinilah Allah kemudian menurunkan Surat An-Nuur: 26.

Fitnah yang menimpa Aisyah boleh kita kategorikan sebagai mimpi ngeri dan kasys berat bagi seorang isteri. Rrumah yang tak sempat ditata rapi, makan malam yang lambat dimasak, anak yang rewel, pakaian yang tak terbasuh dan seribu kecacatan lain hanyalah kasus kecil yang dapat dibicarakan dengan baik dan ditegur dengan sopan. Namun saya percaya, setiap isteri yang merupakan wanita sholehah tidak akan membiarkan hal-hal demikian terjadi di dalam rumahtangga mereka. Kalau pun ada, pastilah ia disebabkan hal-hal yang tidak disengajakan dan tak dapat pula dielakkan.

Bukankah Aisyah juga pernah tertidur waktu menjemur gandum sehingga gandumnya dimakan burung? Dan pernah menyedekahkan semua uang yang dia miliki kepada fakir miskin dan tidak menyisakan sedikitpun untuk sekadar membeli makanan ringan?

Saya belum pernah membaca atau terbaca Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memarahinya atas sebab-sebab itu.

Mengenali isteri dan memahami perwatakannya akan menbantu dalam menentukan sikap, kerana untuk tidak mudah emosi, sebenarnya sangat berkait erat dengan husnudzhon dan kesabaran dalam mendapatkan kebenaran.

Kelima, SOPAN dan BERADAB

Bersopan santun terhadap orang lain itu sangat mudah, terutama apabila orang tersebut darjatnya lebih tinggi; lebih alim, lebih amal, lebih dermawan, lebih berpengalaman….dan mungkin lebih kaya, lebih tinggi jawatannya , lebih besar pengaruh dan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Tetapi, berhadapan dengan seorang isteri, lain lagi ceritanya.

Dengan predikat sebagai Ketua Rumahtangga, seorang suami diharap dapat berlaku sopan terhadap isteri yang merupakan timbalannya, orang yang melakukan hampir segalanya untuknya, hidupnya dan anak-anaknya. Bukan hanya isteri yang berpendidikan tinggi dan berjawatan tinggi yang mendapatkan hak diperlakukan dengan sopan, malah semua isteri, tanpa mengira tahap pendidikan, latar belakang soaial, asal usul keluarga dan sejarah silamnya.

Sopan meliputi penggunaan bahasa, cara bergaul dan cara hidup. Ucapan ‘tolong’, ‘terima kasih’ selalu digunakan walaupun untuk hal-hal kecil. Makan dengan beradab walau hanya di depan isteri, memakai pakaian yang menyenangkan mata yang memandang (ini juga bermakna tidak makan dalam keadaan tidak berbaju), menegur dan marah dengan suara yang rendah, meminta izin bila berurusan dengan barang-barang kepunyaan isteri dan banyak lagi hal-hal lain yang kalau kita ringkaskan, sebenarnya inilah apa yang apa yang kita namakan ‘sunnah Rasul’. Jadi maksud ‘sunnah Rasul” tidaklah hanya masalah poligami saja.*

Penulis adalah seorang pendidik dan ibu dari enam orang anak

/Seri Pertama/

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Netralitas Media dan Prinsip Jurnalisme ‘Impossible’ Barat
Tulisan selanjutnya Pada 2012 Pondokan Haji Kemungkinan Lebih Jauh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?