Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

“Om Telolet Om “ dari kacamata Parenting

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Desember 2016 12:32 12:32 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Desember 2016 12:31
Bagikan
Bagikan

Oleh: Elly Risman

 

CEPAT sekali fenomena Om Telolet Om (OTO) merebak dan nampak benar kedahsyatan kerja sosial media, langsung menembus manca negara dan menggelitik tokoh tokoh dunia .

Peniruan menjadi jadi. OTO juga digunakan juga dalam perang cyber kampanye Pilkada bahkan untuk mengeskpresikan rasa jengkel pada pernyataan pimpinan Negara, tokoh, kebijakan pemerintah sampai olok olok politik.

Bagi saya, kenyataan ini memilukan hati dan karena itu pula mungkin saya tidak berhasil menemukan apanya yang lucu dari fenomena ini.

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Saya sangat prihatin dan sedih melihat bukan saja anak-anak dan remaja tapi juga orang dewasa dan ibu-ibu ikutan yang berdiri dipinggir jalan. Anak dan remaja ini bahkan ada yang berdiri di depan bus-bus, menghalangi jalannya , menyodor-nyodorkan tulisan di karton, lupa bahkan keselamatan dirinya hanya untuk meminta supir bus menekan tombol klakson dan gembira mendengarkan ragam suara yang keluar dari bus yang berbeda.

Untuk mengecek kewarasan pikiran saya yang saya kawatirkan terlalu berbeda dengan orang banyak, termasuk Menteri yang mengurusi masalah transportasi yang mengatakan bahwa bagi beliau ini bukan masalah. Beliau juga suka, asal jangan mengganggu arus lalu lintas dan membahayakan keselamatan jiwa.

Maka duduklah saya dan ibunya, di samping cucu lelaki sulung saya berusia 10 tahun yang sedang terbaring sakit. Kami menonton sebentar berita yang kebetulan sedang menyinggung berita OTO.

“Untuk Mendidik Seorang Anak, Butuh Orang Sekampung”

“Itu apaan sih ma?” tanyanya pada ibunya. Ibunya menjelaskan secara ringkas, lalu saya timpali.

“Astagfirullaaah!” ujarya.. “Ngapain begitu! buat dengerin bunyi klakson yang cuma sebentar?” tanyanya. Lalu saya lanjutkan cerita tentang luasnya fenomena ini sampai menimbulkan reaksi tokoh-tokoh dunia seperti pesepakbola terkemuka.

Ibunya menambahkan bagaimana anak dan remaja ini sampai memblok jalan , berjalan didepan bus hanya untuk minta bus itu OTO.

Cucu saya menutup muka dengan kesepuluh jemarinya, sambil berucap: ”Astagfirullah.. astagfirullah malu-maluin aja.. gak mikir apa?”

“Dheeng!” batin saya, anak 10 tahun aja ngerti…

Saya menyeru Allah dan bersyukur dalam hati, setidaknya kalau cucu saya termasuk yang berdiri di pinggir jalan itu, insha Allah dia bukanlah anak atau remaja yang mudah ikut ikutan…

Mengapa hal ini terjadi dan mengapa sekarang boomingnya?

Hal pertama yang muncul dalam benak saya ketika melihat kejadian ini adalah:

Pertama, kemana orang tua anak anak ini?

Kedua, apakah mereka tahu anaknya terlibat aksi ini?

Ketiga, bagaimana mereka menanggapinya? Apakah ini dianggap lucu lucuan juga?

Keempat, apakah setelah mereka ketahui anaknya ikutan melakukan hal serupa, mereka duduk membicarakannya dengan baik baik atau sekedar mengatakan: ”Ngapain ikut-ikutan?, bahaya!” – Sudah segitu saja!

Kelima, atau seperti yang saya saksikan, mereka merupakan sebagian dari orang orang yang dipinggir jalan yang turut “menikmati” fenomena ini.

Saya kawatirkan ini adalah sebuah petunjuk kecil dari suatu hal yang lebih besar tentang: sebegitunya kemampuan berfikir, memilih dan mengambil keputusan bukan sesuatu yang penting atau mungkin tidak sempat dilakukan dalam pengasuhan.

Apa yang Akan Kita Wariskan Pada Anak?

Bagaimana mungkin kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung, kalau orang tua perduli? Berarti terbukti, bahwa dialog hilang dalam pengasuhan, anak mudah kehilangan arah dan jadi pengikut dan peniru yang luar biasa bahkan untuk hal hal yang tidak terpuji.

Hal lain yang berkelebat dalam fikiran saya adalah kaitan masalah pengasuhan ini dengan beratnya beban pelajaran disekolah. Sudah pernah kita bahas dalam tulisan beberapa pecan yang lalu, bahwa beratnya beban pelajaran dan sekolah yang panjang membuat anak lelah dan menjadikan orang tua kehilangan spektrum pengasuhan sehingga terfokus hanya pada sukses akademis semata. Banyak sekali hal hal yang menyangkut kepribadian, akhlak, kemampuan mengontrol emosi dan kecerdasan sosial anak jadi tak terperhatikan sama sekali. Inilah antara lain akibatnya. Anak-anak bisa bergerombol dan berbondong bondong mengerjakan pekerjaan yang tidak terpuji dan tidak masuk akal, lalu kemudian dianggap lucu dan PANTAS!.

Bayangkan dengan bahaya minuman keras (Miras), narkotika dan obat terlarang (narkoba), pornografi dan kekerasan serta kejahatan seksual yang sengaja ditebarkan dengan menjadikan anak dan remaja sebagai targetnya? Innalillah!

Lalu, Mengapa Sekarang?

Yak karena Libur!

Bus dengan klakson Te Lo Let bukan sekarang saja kan kita dengar? Sudah lama sekali bus antar kota di Aceh saya dengar menggunakan klakson seperti itu walau tidak dengan irama yang sama seperti sekarang ini.

Kalaulah tidak dalam keadaan libur, bagaimana anak anak secara bersamaan berada di jalan jalan raya?

Artinya, Libur tidak direncanakan dalam keluarga untuk sejuta alasan. Pemerintah juga belum memperhatikan secara seksama hal ini.

Minimal fasilitas olah raga, kesenian dan budaya Anda tahu sendiri, apakah ada apalagi memadai dilingkungan Anda? Budaya kompetisi berbagai cabang oleh raga belum lagi jadi tradisi seperti hal nya di Negara maju.

Teringat sekali saya ketika tiga tahun yang lalu saya mengunjungi sahabat baik saya asal Nigeria yang bermukim di Tallahassee, Florida. Kami menyempatkan mampir untuk belasungkawa, karena sahabat kami ini baru saja kehilangan putra sulungnya yang ditembak mati perampok di pom bensin yang tak jauh dari rumahnya. Kami singgah dalam perjalanan pulang setelah menghadiri acara penyerahan award untuk Yayasan yang saya pimpin di Salt Lake City, sekaligus mempelajari tehnik terapi adiksi pornografi terbaru dan penyelenggaraan rumah singgah bagi anak anak yang adiksi pornografi.

Waktu yang pendek bersama teman saya tersebut harus selalu terpotong karena sebagai orang tua tunggal dia harus mengantar dan menjemput anak bungsunya yang remaja dari latihan base ball.

Kami merasa sangat terganggu dan terburu-buru bersangkutan dengan jadwal antar jemput tersebut, tapi tidak bisa tidak karena anak itu akan ambil bagian dari musim lomba olah raga menjelang libur tahunan.

Sudah terbiasa, orang tua akan duduk di tribune-tribune dari berbagai kompetisi cabang olah raga yang diikuti anak anaknya. Kemudian orang tua akan berbagi tugas menghadiri pemberian pialanya pula. Hari hari anak padat dengan kegiatan yang positif dan menantang.

Saya dan pak Risman tidak pernah lupa bagaimana saya sudah berkeliling kota jauh jauh hari, mengunjungi beberapa sekolah untuk mengecek dengan detail berbagai program yang mereka tawarkan akan diselenggarakan sepanjang libur musim panas yang cocok untuk ketiga putri kami.

Setelah itu saya dan pak Risman akan sibuk menghantar jemput mereka pada hari dan jam yang berbeda. Semuanya mau tidak mau harus sebelumnya direncanakan dengan rapih dalam beberapa kali pertemuan keluarga.

Anda mungkin berfikir bahwa saya terlalu serius menyikapi hal hal yang bagi orang banyak merupakan fenomena yang lucu, menarik dan menghebohkan bukan saja senegeri tapi juga sedunia. Tak apa.

Saya sengaja menuliskan nya dengan harapan dan doa, agar Anda: orang tua pembelajar yang saya kagumi bisa juga mengambil iktibar dari fenomena ini, betapa memprihatinkannya pengasuhan dan pendidikan di sekitar kita.

Kita harus berjuang bersama untuk membuat anak anak kita berbeda, dengan alasan yang jelas dan anak anak kita juga tidak malu untuk BERBEDA .

Kalau perlu mereka bangga Berbeda karena BENAR. Semakin hari kenyataan seperti ini semakin mahal dan nyaris langka di negeri kita ini, bahkan semakin tidak banyak tokoh yang bisa dijadikan teladan.

Mari kita sama sama berjuang untuk tidak menghasilkan anak anak kebanyakan yang tidak punya pendirian, ikut bagaimana kata dan perbuatan orang.

Yuk! jadi pahlawan untuk anak kita sendiri.

Kalaulah anak kita tak sempat menjadi pemimpin Negeri, Insha Allah mereka akan jadi yang terbaik dalam memimpin keluarga mereka sendiri..menghasilkan cucu cucu kita yang bukan saja terpelajar tapi TERDIDIK dan Menyejukkan hati.*/Bekasi, 25 Desember 2016

 Seorang psikolog asal Indonesia spesialis pengasuhan anak dan menjabat sebagai direktur pelaksana di Yayasan Kita dan Buah Hati

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakElly Rismankecerdasan sosial anakKejahatan Seksualmembahayakan keselamatan jiwamenjadi berbedaOm Telolet OmOTOparentingpengasuhan anakperang cyberPornografisosial media
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tak Ada Penahanan, Tim Advokasi GNPF-MUI: Itu Mencederai Rasa Keadilan Masyarakat
Tulisan selanjutnya Muhammad, Nama Paling Populer di Wilayah Penjajahan Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?