Sambungan artikel PERTAMA
Oleh: Muhammad Hanif Alatas
Keberagaman untuk saling melengkapi
DALAM sebuah wawancara, Imam Besar FPI al-Habib Muhammad Rizieq bin Syihab pernah mengatakan tentang banyaknya ormas Islam, apakah menjadi bukti perpecahan umat? “Saya melihat bahwa keberagaman ormas Islam adalah Rahmat Ilahiyyah. Sebab tanpa kita sadari, melalui keberagaman ormas Islam telah terjadi pembagian peran dan tugas dalam perjuangan Islam. Lihat saja, kebesaran NU dalam pemberdayaan pondok pesantren tradisional, kehebatan Muhammadiyah dalam pengembangan pendidikan formal modern, kesuksesan ICMI dalam kontribusi kebijakan negara, kedahsyatan DDII dalam antisipasi pemurtadan, kegigihan Hidayatullah dalam dakwah di pedalaman, belum lagi peran Parpol Islam yang bermain dalam sitem. Selanjutnya, soal fatwa ada MUI, Nahi Munkar ada FPI, kerjasama antar ormas Islam ada FUI, penegakkan khilafah ada DIN dan HTI, penerapan syariat ada KPPSI, advokasi ada TPM, palestina ada KISPA, zakat ada BAZNAS, kaum lemah ada DD Republika dan soal korupsi ada barisan pemuda dan mahasiswa seperti PII, HMI, GPI, dan KAMMI. Jadi, semua sudah ada lini juangnya, tinggal disinergikan saja. Semua itu adalah karunia Allah swt. Al-Hamdulillah, “ demikian tegas Habib Rizieq Syihab menjawab pertanyaan tersebut.
Islam merupakan agama yang komprehensif, medan juang Islam – di NKRI khususnya – mencakup semua sektor kehidupan, mustahil medan juang yang begitu luas hanya diarungi oleh golongan tertentu.
Tentu, membangun keharmonisan serta sikap bahu membahu dalam berjuang bukan perkara mudah. Konsisten memegang teguh kode etik yang digariskan oleh syariat dalam menyikapi keberagaman internal umat islam, merupakan harga mutlak yang harus dibayar oleh semua pihak, demi terealisasinya keharmonisan umat ditengah keberagaman. Ironisnya, egoisme dan fanatisme buta telah merasuki banyak elemen, sehingga lahirlah klaim disana-sini bahwa hanya kelompok tertentu yang benar-benar mewakili Islam. Pola pandang seperti ini, merupakan lubang besar penghalang jalan menuju persatuan.
As-Syekh Abdul Fattah al-Yafi’I dalam karyanya “Fi at-Thoriq ila al-Ulfah al-Islamiyyah” mengutip perumpamaan bijak dari seorang ahli tafsir abad 20 M as-Syekh as-Sya’rawi, dalam kutipan tersebut as-Sya’rawi mengumpamakan Islam dan berbagai golongan di dalamnya seperti air dan aneka jus.
Seseorang yang memiliki jus lemon, mangga, jeruk, dsb, tidak mungkin mengklaim bahwa air hanya ada pada jus yang ia miliki, dan memvonis bahwa yang lain bukan air. Ya, jus yang ia miliki memang lezat dan memiliki bahan dasar air, namun bukan berarti hanya jus itu yang punya unsur air. Menurut as-Sya’rawi, klaim demikian merupakan bentuk kebodohan atau berpura-pura bodoh.
Oleh karena itu, keberagaman ormas Islam di NKRI dengan potensi besar dan fokus juang di lini masing-masing, merupakan rahmat dari Allah Subhanahu Wata’ala bagi umat Islam. Di atas garis al-qowasim al-musytarokah (unsur pemersatu), sudah sepatutnya perbedaan ini menjadi keberagaman yang mewarnai bukan menodai, memberikan motivasi bukan main diskriminasi, saling memberi masukan bukan malah gontok-gontokan, saling mendukung bukan saling menelikung, membuat kita teguh bukan menyebabkan kita runtuh.
Allah ta’ala berfirman:
{وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ } [الأنفال: 46]
“Dan taatilah Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang. dan bersabarlah, sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS: al-Anfal: 46)
Penulis adalah santri Ma’had Darullughoh Wadda’wah dan mahasiswa fakultas Syariah Wal Qonun, Universitas al-Ahgaff, Tarim-Hadhramaut