Ulama salaf dan khalaf berbeda pendapat mengenai ciri orang munafik zaman nabi dan munafik masa kini. Sebagian pendapat, ciri yang disampaikan nabi telah jauh berkembang lagi. Lantas bagaimana ciri orang munafik pada masa kini?
Hidayatullah.com | NIFAQ atau munafilk secara bahasa berarti ‘menyembunyikan sesuatu”. Nifaq dibagi menjadi dua, yaitu nifaq akbar (nifaq i’tiqadi) dan nifaq ashghar (nifaq amali).
Secara istilah, nifaq akbar (nifak besar) berarti “Seseorang yang menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul, dan hari akhir, namun kondisi batinnya bertentangan dengan semua hal tersebut atau sebagiannya.
Dengan kata lain, orang munafik adalah orang yang menampakkan Islam secara lahiriyah di hadapan kaum muslimin, menampakkan bahwa dirinya adalah seorang muslim, dan bisa jadi menampakkan sebagian amal ibadah seperti shalat, puasa dan zakat, akan tetapi hatinya pada hakikatnya tidak beriman.
Di antara sifat-sifat orang munafik ialah menyusup di tengah-tengah kaum Muslimin dan hidup bergaul bersama mereka untuk mencari-cari kesalahan mereka demi kepetingan musuh dan menyampaikan berita tentang mereka.
Selain itu, munafik memiliki sifat tega menjual agama mereka dengan kesenangan duniawi. Itulah sebabnya Allah Ta ala memperingatkan kita supaya berhati-nati jangan sampal orang-orang munafik melihat rahasia-rahasia atau informasi-informasi kita untuk kepentingan musun. Allah berfirman
“يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا۟ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ ٱلْبَغْضَآءُ مِنْ أَفْوَٰهِهِمْ وَمَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ
“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS:Ali Imran: 118).
Munafik Berbahaya
Munafik adalah salah satu sifat dan penyakit hati yang sangat berbahaya. Orang yang terjangkit penyakit munafik, niscaya ia akan membawa bencana untuk dirinya dan masyarakat sekitarnya.
Karena orang munafik adalah laksana ular berkepala dua. Jika kita tidak berhati-hati terhadapnya, niscaya kita akan digigitnya.
Orang munafik lebih berbahaya dari orang kafir sekalipun. Bedanya, orang kafir, ia memusuhi kita secara terang terangan, tetapi orang munafik, ia seolah-seolah sehati dan berada di barisan kita, padahal ia adalah musuh terselubung yang siap menikam kita dari belakang.
Ciri orang munafik ia senantiasa menggunting dalam lipatan, untuk mencapai maksud dan tujuannya. Biasanya, kaum munafik adalah orang-orang yang kelihatannya ramah, lembut, humanis, serta sangat fasih, pandai bertutur kata (pidato, menulis dll), padahal sesungguhnya hatinya jahat tiada tara.
Sampai-sampai Rasulullah ﷺ sendiri nyaris terpedaya oleh tipu daya kaum munafik. Karena sikapnya yang merusak dan berbahaya itulah Allah banyak mengingatkan secara khusus dalam banyak ayat di Al-Quran, bahkan ada surat khusus bernama Surat Al-Munafikun (orang-orang munafik). Surah Madaniyah yang terdiri atas 11 ayat ini mengungkapkan sifat-sifat orang-orang munafik.
Meski demikian banyak surat dalam Al-Quran juga menyinggung sifat-sifat kaum yang berbahaya ini. Di antaranya surat yang mengacu pada kaum munafik dapat ditemukan di Surat Ali Imran, Surat an-Nisa, al-Maidah, al-Anfal, al-Taubah, al-Ankabut, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Mujadalah, al-Hadid dan al-Hasyr.
Fitnah Abdullah bin Ubay
Jahjaah bin Mas’ud dari Bani Ghiffar adalah pelayan Umar bin Khattab untuk menuntun kudanya. Tentu saja, ia termasuk golongan Muhajirin.
Namun, gara-gara soal air di lembah Musyiyi, Jahjaah bin Mas’ud bersengketa dengan Sinan bin Wabar Al-Juhani dari Bani Auf bin Khazraj, yang termasuk kaum Anshar.
Di lembah Musyiyi, suatu kawasan yang membentang antara Qodid sampai tepian Laut Merah, antara Jeddah dengan Rabigh, air memang merupakan kebutuhan vital. Tak anehlah jika gara-gara air seringkali terjadi sengketa.
Pun demikian halnya yang terjadi antara Jahjaah bin Mas’ud dengan Sinan bin Wabar. Cuma sayangnya, dari perkara antar pribadi (oknum), persengketaan itu merembet menjadi persengketaan antar golongan sesame umat Islam; yang masing-masing membawa-bawa nama golongan Anshar dan Muhajirin.
Inilah awal mula Perang Murasyi atau Perang Bani Musthaliq yang dikobarkan oleh Bani Mushtholaq. Kaum ini hidup di tengah Bani Khuza’ah yang tinggal di sekitar daerah pengairan Musyiyi.
Pada bulan Sya’ban tahun keenam Hijriah, Bani Mustholaq bahkan sudah siap menyerang bersama kabilah Arab lainnya. Ini semua gara-gara omongan beracun sang dedengkot munafik, Abdullah bin Ubay bin Saul.
Untunglah persengketaan itu segera dapat diselesaikan oleh Rasulullah ﷺ. Tapi, siapa yang menyangka Abdullah sebagai biang keladinya.
Dia sahabat dekat Rasulullah di Madinah. Bahkan ketika keluar dari Madinah menghadapi Bani Mushtholaq, Abdullah bin Ubay keluar bersama-sama Rasulullah.
Di hadapan Rasulullah Abdulllah bin Ubay berlagak membela beliau, tetapi di hadapan Bani Mushtholaq dari golongan Anshar, dia menebar isu dan fitnah. “Sebagai pendatang, kaum Muhajirin memadati negeri kita di Madinah. Kini beraninya mereka berbuat semacam itu kepada kita, kaum Anshar. Hai kaum Anshar! Ingatlah, jika kalian membesarkan anjing, pasti akan menggigitmu sendiri, demikian provokasi Abdullah bin Ubay.”
Mendengar intrik jahat Abdullah bin Ubay itu, Zaid bin Arqom pun melaporkan yang dilihat dan dengarnya itu kepada Rasulullah. Umar bin Khattab yang berada di dekat Rasulullah spontan berdiri.
“Wahai Rasulullah, omongan Abdullah bin Ubay itu omongan seorang munafik yang beracun. Perintahkan saja Ubad bin Basyir untuk membunuhnya.”
“Wahai Umar, bagaimana nanti kalau orang-orang mengatakan Muhammad telah membunuh sahabatnya?” jawab Rasulullah.
“Dia orang munafik. Omongannya berbahaya karena dapat memecah-belah persatuan umat. Jangan dibunuh, biarkan Abdullah bin Ubay kembali ke Madinah,” kata Rasulullah sambil meneruskan perjalanannya menemui Bani Mushtholaq. Bahkan Rasulullah dan para sahabatnya bermalam di sana.
“Wahai Rasulullah, betapa engkau menjalani perjalanan yang tak menentu. Dan ini belum pernah engkau alami sebelumnya, “ kata Usayad bin Hudhair dari golongan Anshar.
“Belum tahukah engkau apa yang dikatakan oleh kawanmu? “ tanya Rasulullah.
“Kawan yang mana?”
“Abdullah bin Ubay,” jawab Rasulullah.
“Demi Zat yang aku ada di tangan-Nya. Allah telah mendatangkan engkau untuk kami semua, sedang kaum Abdullah bin Ubay telah menyiapkan mahkota kepemimpinan untuk dia sendiri. la memang menduga bahwa engkau dan kaum Muhajirin lainnya akan mengambil alih mahkota kepemimpinan itu darinya.”
Munafik masa kini
Rasulullah ﷺ telah memberikan 3-4 ciri orang munafik. Sebagaimana disampaikan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
“Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Muslim no. 59)
Ciri orang munafik juga disebutkan di hadis lain; Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: jika diberi amanat, khianat; jika berbicara ia berdusta; jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; dan jika berselisih, dia akan berbuat zalim.” (HR: Muslim).
Dalam hadits lain disebutkan, di antara ciri-ciri lain orang munafik adalah enggan shalat berjamaah dan enggan ke masjid. Hal ini didasarkan pada dua riwayat;
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata;
وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ
“Aku telah melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jama’ah hanyalah orang munafik, di mana ia adalah munafik tulen. Karena bahayanya meninggalkan shalat jama’ah sedemikian adanya, ada seseorang sampai didatangkan dengan berpegangan pada dua orang sampai ia bisa masuk dalam shaf.” (HR. Muslim).
Dari Ibrahim An Nakha’i rahimahullah ia mengatakan;
كَفَى عَلَماً عَلَى النِّفَاقِ أَنْ يَكُوْنَ الرَّجُلُ جَارَ المسْجِد ، لاَ يُرَى فِيْهِ
“Cukup disebut seseorang memiliki tanda munafik jika ia adalah tetangga masjid namun tak pernah terlihat di masjid.” (dalam Fathul Bari karya Ibnu Rajab, Ma’alimus Sunan. Lihat Minhatul ‘Allam, 3: 365).
Tanda-tanda lain seorang munafik menurut Nabi adalah pandai bicara dan meyakinkan jika berdebat.
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti menimpa umatku, adalah setiap munafik yang pandai bicara (bersilat lidah).” (HR: Ahmad no. 143).
Suatu ketika Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu naik mimbar kemudian berpidato :
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُنَافِقُ الْعَلِيمُ ، قِيلَ : وَكَيْفَ يَكُونُ الْمُنَافِقُ عَلِيمٌ ؟ قَالَ : عَالِمُ اللِّسَانِ، جَاهِلُ الْقَلْبِ وَالْعَمَلِ
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini adalah orang pintar yang munafik. Para sahabat bertanya: Bagaimana bisa seseorang itu menjadi munafik yang pintar? Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Yaitu orang yang pandai berbicara (bak seorang alim), tapi hati dan perilakunya jahil”. (dalam Ihya Ulumuddin, hlm. 1/59)
***
Ulama salaf dan khalaf berbeda pendapat mengenai ciri orang munafik zaman nabi dan munafik masa kini. Sebagian pendapat, ciri yang disampaikan nabi telah jauh berkembang lagi.
Di bawah ini beberapa kutipan ulama, terkait ciri orang munafik masa kini;
Pertama, antara lisan dan hatinya tidak sama
“Di antara tanda kemunafikan adalah berbeda antara hati dan lisan, berbeda antara sesuatu yang tersembunyi dan sesuatu yang nampak, berbeda antara yang masuk dan yang keluar.” (Hasan al-Bashri dalam Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam)
Kedua, dahulu sembunyi-sembunyi, sekarang terang-terangan
“Orang munafik saat ini lebih jelek dari orang munafik di masa Rasulullah ﷺ . Dahulu kemunafikan disembunyikan, sedangkan saat ini terang-terangan.” (Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu dalam Hilyatul Auliya’, 1:280).
Ketiga, tidak segan melakukan sumpah palsu
Empat, gembira barisan Islam pecah dan mendapat bahaya
Lima, menuduh Nabi tidak adil (Surat At Taubah : 58)
Enam, suka menyakiti hati Rasul (baik di saat baginda hidup, bahkan ketika Nabi tidak ada (QS: attaubah: 61).
Tujuh, suka mengolok-olok orang Mukmin & sangat takut rahasia kebusukan hatinya diungkap Al-Quran. (QS: At-Taubah : 65)
Delapan, semua munafikun pria dan wanita saling menyerupai (baik sifat dan perangainya) dan merusak (Suruat At Taubah: 67). Semua ciri-ciri ini disampaikan Prof Dr Teungku M Hasby Ash-Shiddieqy. (dalam Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur).*