ADA lima jenis berpikir. Pertama, berpikir mengenai kembali kepada-Nya dan mengenai nikmat-Nya. Manusia harus memikirkan hal yang sangat krusial; adakah saat ini ia berada dalam ketaatan, lalu mengerjakannya, atau berkubang dalam kemaksiatan, untuk kemudian keluar darinya.
Kedua, berpikir mengenai keseimbangan antara berbagai amal perbuatan; menimbang segala sesuatu untuk mengerjakan yang lebih utama. Ketiga, berpikir mengenai egoisme. Egoisme hanya milik Allah dalam segala urusan. Keempat, berpikir mengenai keagungan-Nya.
“Tidakkah mereka memperhatikan unta; bagaimanakah ia diciptakan.” (Al-Ghasyiah: 17).
Mengapa manusia tidak memperhatikan Allah Yang Mahaagung dengan memperhatikan ciptaan-Nya yang sempurna? Dia menciptakan segala sesuatu dengan elegan dan tepat guna ditinjau dari segala segi.
Dia adalah Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Dia telah menentukan kadar yang tepat untuk semua makhluk-Nya. Jadi, adalah hal yang lumrah jika Dia mengharuskan makhluk memuji-Nya atas nikmat yang telah Dia anugerahkan.
Kelima, berpikir mengenai kematian, kebangkitan, pertanyaan-pertanyaan yang nanti akan diajukan Allah, guncangan dan berbagai kesibukan di akhirat, serta mengenai surga dan neraka.
“Berpikir sejenak lebih baik daripada ibadah setahun.” (HR Al-Qurthubi).
Berpikir dalam hadist di atas ialah berpikir mengenai perpindahan dari maksiat menuju taat, berpikir yang dapat menumbuhkan pengetahuan tentang yang wajib dan yang sunah, atau berpikir mengenai sesuatu yang dapat menghasilkan sikap mengagungkan dan mencintai Allah.
Semua jenis berpikir tersebut akan menggiring seseorang pada instrumen yang positif. Itulah yang dimaksud dengan ibadah yang lebih utama. Sebuah pemikiran yang akan membuat seseorang mendapatkan anugerah dari Allah; baik dalam bentuk mengetahui hikmah yang tersembunyi, atau mendapat nikmat yang membuatnya tenteram.* [Tulisan selanjutnya]
Dari buku Hidup Tanpa Derita karya Abu Abdillah Al-Muhasibi.