BANYAK orang memuji seseorang di hadapan Fudhail ibnu `Iyadh: “Sungguh orang ini tidak pernah makan khabish (campuran halal dan haram).” Fudhail berkata, “Tidak, ia tidak pernah meninggalkan makan khabish. Lihatlah oleh kalian bagaimana silaturahminya, lihatlah bagaimana ia membendung ladangnya, bagaimana belas kasihnya kepada tetangga, para janda, dan anak yatim, dan lihatlah bagaimana akhlaknya terhadap saudara-saudaranya.”
Ahmad ibnu Harb berkata, “Orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan membimbing mereka kepada kebaikan, bagaikan orang yang mengupah para pekerja, yang dengan tubuh dan harta mereka, bekerja untuknya, siang malam, di kehidupan dunia dan akhirat.”
Yahya ibnu Mu`adz mendengar seseorang mengidam-idamkan harta. Yahya berkata kepadanya, “Apa yang akan kau perbuat dengan harta itu.” Orang itu berkata, “Aku akan dermawan kepada orang-orang yang kekurangan.”
Yahya berkata, “Tinggalkanlah mereka, biarlah Allah yang menanggung pembiayaan mereka, agar engkau mencintai mereka. Karena, jika biaya hidup mereka menjadi tanggunganmu, engkau akan membenci mereka, dan mereka akan memberati hatimu.”
Yahya juga berkata, “Untuk menghormati saudara sesama Muslim di negeri lain yang ditinggal mati seseorang, adalah melayatnya ke tempat ia berada, untuk berbela sungkawa. Abu Mu`awiyah al-Aswad berangkat dari Syam ke Makkah untuk melayat seseorang yang dipandang istimewa oleh putranya, `Ali. Ia pergi ke Makkah bukan untuk melaksanakan haji maupun `umrah.”
Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. berkata, “Barangsiapa mendambakan naungan Allah Ta`ala di hari kiamat nanti dari neraka Jahannam, ia mesti mengasihi orang Mukmin dan berhati lembut.”
Muhammad ibnu al-Munkadir selau melaksanakan ibadah malam. Namun, jika Ibunya minta agar ia memijat kakinya sampai subuh, ia melihat itu lebih utama daripada shalatnya.
Kahmas ibnu Hasan berkata, “Aku selalu melayani Ibuku dan membersihkan kotorannya. Kemudian Sulaiman ibnu `Ali mengirimiku kapas dan berkata, `Dengan kapas ini, belilah seorang pelayan untuk melayani ibumu.’ Aku menolaknya, dan kukatakan, ‘Semasa aku kecil, Ibuku tidak rela kalau orang lain yang melayaniku. Dan aku pun tidak rela orang lain yang melayaninya, sementara aku sudah dewasa.’”
Mauriq al-`Ajli r.a. suka mencarikan kutu di kepala Ibunya. Dan ia tidak akan membiarkan selain dirinya yang melakukan itu.
Tentang firman Allah Ta`ala: “Janganlah engkau mengatakan “ah” kepada keduanya”, Hasan al-Bashri berkata, “Jika kedua orang tua sudah renta, kemudian mereka meminta anaknya untuk membersihkan kotoran mereka, sebagaimana mereka membersihkan kotorannya semasa ia kecil, maka ia tidak boleh mengatakan `ah’, tidak boleh membentak mereka, bahkan untuk sekadar menghindari bau dengan menutup hidung pun tidak boleh, karena mereka pun tidak menutup hidung saat mencium bau kotoran anaknya semasa kecil.”*
Dari buku Terapi Ruhani karya Syaikh ‘Abdul Wahhab asy-Sya’ani.