JAUH sebelumnya hal ini juga telah disampaikan oleh Al-‘Alamah Ibnul Qayyim, “Mencintai dan dicintai merupakan sesuatu yang mempunyai kaitan erat, tidak akan sempurna suatu perkara tanpa keduanya.
Sesungguhnya, bukan kita yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, akan tetapi Allah-lah yang mencintai kita. Allah tidak akan mencintai kita kecuali apabila kita mengikuti-Nya dalam keadaan lahir dan batin, meyakini kabar (yang datang dari-Nya), menaati perintah-Nya, menyambut dakwah sehingga dakwah pun membekas padanya dalam menjalankan ketaatan.
Menetapkan hukum dengan hukum-Nya dan tidak membutuhkan hukum selainnya. Mencintai orang lain karena cintanya kepada-Nya, taat kepada yang lain karena taat kepada-Nya. Apabila tidak menaati-Nya maka kita akan menderita. Jika kita hidup semau kita sendiri, niscaya kita akan menderita dan tidak akan mendapatkan petunjuk.
Renungilah firman Allah ini:
“…ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihimu…” (Ali ‘Imran: 31)
Ini sebagai bukti bahwa Allah yang mencintai kita, bukan kita yang mencintai Allah. Dalam hal ini kita tidak bisa mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan mengikuti Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam.
Inilah sebagian pendapat dari para pecinta yang berpengetahuan dengan mencurahkan segala potensi yang ada pada mereka untuk memberikan arahan kecintaan kepada Sang Pencipta mereka.
Bahkan, mereka tidak meninggalkan amalan/perbuatan yang mereka ketahui bahwasannya perbuatan itu dicintai Allah apabila dikerjakan. Karena itulah jalan yang akan menuju kepada kecintaan Allah. Mereka pun mampu memahami dan menjelaskan makna kecintaan Allah terhadap hamba-Nya sebelum melakukan berbagai aktivitas hidupnya.
Mudah-mudahan hal ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman kita tentang nilai kecintaan Allah kepada hambaNya. Hendaknya kita juga senantiasa mengingat bahwa Allah adalah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Setiap manusia pasti membutuhkan-Nya, mereka berkehendak terhadap apa yang ada disisi-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)
Ada pun kebanyakan manusia di sekitar kita cenderung mencintai orang-orang kaya dan mempunyai harta yang melimpah –meskipun harta itu digunakan bukan untuk kemaslahatan dan pemenuhan kebutuhan orang lain. Akan tetapi kekayaan itu menjadi ukuran bagi orang yang dicintai, dan dia berkata, “Sesungguhnya dia mencintai saya dan sayalah yang membutuhkannya bukan dia.”*/Dr. Imad Ali Abdussami’ Husain, dikutip dari bukunya Menjadi Manusia Paling Dicintai.