DALAM al-Qur’an kisah seputar penciptaan manusia pertama, Nabi Adam sampai diturunkannya Adam ke bumi, direkam ulang berkali-kali. Kadang bahkan diceritakan secara detail tentang bagaimana penolakan Iblis ketika diperintah sujud kepada Adam, bagaimana akhirnya, Adam terbujuk sehingga ikut juga terusir dari surga. Demikian juga kisah tentang Qabil yang membunuh Habil, adik kandungnya sendiri.
Pengulangan kisah ini ini sama sekali bukan karna Allah kekurangan bahan cerita, sebagaimana yang dituduhkan para orientalis. Setiap pengulangan dalam al-Qur’an mengandung maksud agar ummat Islam benar-benar menghayati peristiwa tersebut. Pengulangan itu mempunyai arti bahwa peristiwa itu penting untuk dijadikan sebagai pelajaran, sebagaimana yang dijelaskan Allah sendiri:
ُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لَّأُوْلِي الأَبْصَارِ
“Sesungguhnya dalam kisah-kisah itu terdapat ibrah, pelajaran bagi orang-orang yang berfikir.” (QS. Ali Imraan: 13)
Melalui peristiwa ini Allah hendak menunjukkan kepada kaum muslimin tentang tiga sifat perusak. Siapa saja, baik golongan jin maupun manusia, jika terhinggapi penyakit ini, pasti sengsara. Hidupnya terlunta-lunta, jauh dari kebahagiaan yang menjadi idaman setiap manusia.
Pertama adalah sifat sombong. Sifat inilah yang menempel pada diri Iblis. Ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk menundukkan diri kepada Adam, ia menolak mentah-mentah. Sifat angkuhnya keluar menjadi pernyataan yang sangat vokal.
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِي
“Aku lebih baik dari dia (Adam), Aku diciptakan dari api, sedangkan dia diciptakan dari tanah.” (QS. al-A’raf: 12)
Orang sombong, sebagaimana dinyatakan dalam hadits, bukanlah mereka yang selalu berpakaian bagus dan berpenampilan trendi. Yang dimaksud orang sombong adalah mereka yang menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.
Iblis terjaring dalam definisi sombong, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah. Ia menolak kebenaran Allah, yaitu perintah sujud. Ia juga memandang rendah makhluq Tuhan yang berupa manusia, yaitu Adam. Ia melihat dirinya lebih mulia, lebih terhormat, dan lebih tinggi kedudukannya dibanding Nabi Adam. Terhadap hal ini Allah menggambarkannya, Aba wastakbara wakaana minal kafiriin.
Dosa kesombongan tidak akan diampuni Allah selama orang tersebut belum bertaubat secara penuh. Sedikit saja dalam hati seseorang terdapat penyakit sombong, maka haram baginya surga. Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda:
“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim)
Kehidupan surgawi tidak akan terwujud manakala sifat angkuh dan sombong masih hinggap dalam diri seseorang. Ia akan menjadi manusia yang asosial. Karenanya ia sangat dibenci dan disingkirkan dari masyarakatnya.
Sebuah rumah tangga akan berantakan jika salah satu diantara suami atau istri memiliki sifat sombong ini. Yang satu merasa tidak butuh kepada yang lain, bahkan sebaliknya ada perasaan dibutuhkan. Lebih-lebih jika ada perasaan bahwa dialah yang paling berjasa dalam membangun rumah tangganya.
Negara akan kacau jika para penguasanya merasa lebih terhormat dan mulia dibandingkan dengan rakyat yang dipimpinnya. Orang yang demikian merasa dirinya hebat, sehingga tidak perlu saran, apalagi kritik dari orang lain. Ia selalu merasa benar atas segala tindakan dan kebijakannya. Merasa paling banyak berjasa, yang pada akhirnya negara itu dirasa menjadi seperti miliknya.
Pertama seperti inilah yang hinggap pada diri Fir’aun dan Namrudz. Keduanya menjadi tiran yang sangat bengis dan menindas rakyatnya. Di telunjuk tangannya adalah hukum, dimulutnya adalah undang-undang. Artinya, hanya ada satu alternatif bagi rakyat, yaitu tunduk dan patuh kepada perintah penguasa. Jika tidak, maka mesin penindasan akan bergerak melenyapkannya.
Arogansi kekuasaan ini tak pernah terputus dari masa ke masa. Terjadi pada kekuasaan manapun juga, termasuk di negara yang menyatakan diri paling demokrasi. Tidak saja raja, tapi juga kepala negara yang dibatasi masa jabatannya. Bataan empat atau lima tahun bisa diperpanjang terus sampai akhir hayatnya. Bukankah ia sangat berkuasa, yang berarti berkuasa pula mengatur masa jabatannya sendiri?
Sifat perusak kedua adalah rerakah. Sifat inilah yang menyeret Adam bersama istrinya dari tahta surga. Ketika keduanya di surga. Allah memerintahkan untuk menikmati segala fasilitas yang tersedia. Makan dan minum sesukanya, kecuali satu saja larangannya, yaitu memakan buah khuldi. Di antara jutaan makanan dan minuman yang tersedia, hanya satu saja yang terlarang. Bukankah ini merupakan kemurahan Allah swt? Akan tetapi dasar manusia, satu larangan itupun dilanggarnya.
Kita ungkapkan kisah ini bukan untuk menghujat Nabi Adam, yang notabene adalah cikal bakal manusia, termasuk kita semua. Nabi Adam sejak semula memang sudah diplot menjadi khalifah di muka bumi. Akan tetapi proses turunnya ke bumi dibikin skenario yang indah, yang dengan itu anak keturunannya bis mengambil pelajaran yang sangat berharga.
Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa ada seorang kaya-raya yang telah memiliki harta mencapa 999 dinar. Tetangganya yang miskin, dengan tanggungan anak dan keluarga yang banyak hanya memiliki 1 (satu) dinar. Tetapi eloknya, si kaya berusaha merebut harta si miskin dengan berbagai cara untuk menggenapkan uangnya supaya mencapai angka seribu dinar.
Begitulah gambaran orang yang serakah. Ia tak pernah puas dengan kekayaannya. Ia terus menambah dan menambah sampai jumlah yang tak terbatas. Dalam perhitungannya, harta yang dimilikinya selalu belum genap. Dalam pikirannya selalu menari-nari berbagai keinginan untuk menggenapinya.
Semestinya orang yang kaya, konglomerat misalnya, tidak sampai bergerak pada usaha-usaha kecil yang sama ditangani rakyat jelata. Tapi kenyataannya, dengan berbagai slogan manis dan alasan pemerataan, mereka merangsek juga. Tak terlalu lama kemudian, semua usaha kecil itu tutup.
Betapa susahnya para nelayan yang harus bersaing dengan pemilik-pemilik kapal trol yang menjaring ikan-ikan laut dalam jumlah yang sangat besar. para nelayan ini berteriak keras sekali, tapi siapa yang mau mendengarnya?
Bagaimana sakitnya pengrajin kecil menghadapi penguasaha-pengusaha besar yang membabat habis usahanya. Para pengrajin batik misalnya, dalam waktu relatif pendek bisa habis ketika para pengusaha besar mendatangkan mesin-mesin raksasa yang bisa menghasilkan kain batik yang kualitasnya lebih baik dari yang dihasilkan para pengrajin gurem.
Bagaimana para pengusaha besar membeli tanah-tanah rakyatnya dengan harga murah, kemudian mereka sulap menjadi real estat atau lapangan golf. Para pengusaha ini dengan sangat mudahnya melipatgandakan harga tanah, lima hingga sepuluh kali. Dalam kasus ini, siapa yang menyumbang siapa? dunia jadi seperti terbalik. Jika demikian, mana kebenaran teori trickel down effect itu? yang terjadi adalah para konglomerat merampa harta rakyat kecil secara sistematis.
Para konglomerat yang serakah ini lupa bahwa mereka tidak bisa hidup sendiri. Dagangannya laku jika rakyat mau dan mampu membeli. Jika rakyat tak lagi mampu membelinya, maka pelan-pelan mereka akan menuai akibatnya. Krisis ekonomi akan terjadi, yang kemudian diikuti dengan krisis sosial dan politik. Selanjutnya mereka sendiri yang akan terkena akibatnya.
Sifat perusak ketiga adalah hasud, iri dan dengki. Inilah dosa pertama yang dilakukan anak keturunan Adam, yang akibatnya sangat mengerikan, yaitu pembunuhan. Qabil tega membunuh adik kandungnya sendiri hanya karena iri, sebab istri Habil lebih cantik dari istrinya sendiri.
Orang yang memiliki sifat hasud selalu memandang apa yang dimiliki orang lain lebih menarik dari yang dimilikinya. Ketika tetangganya memiliki kendaraan baru, maka tergelaegak hatinya. Pertama-tama ia mengembangkan sifat su’udhannya. Dengan penuh selidik, ia menyangka bahwa kendaraan itu hasil dari usaha tidak halal. Selanjutnya ia merasa tidak suka jika orang lain mendapat karuniia tersebut, bahkan ada usaha agar nikmat karunia itu lenyap lagi. Ketika nikmat itu masih ada pada orang lain, ia merasa tak puas. Perasaannya dongkol, benci, dan marah.
Dalam hal ini Rasulullah mengingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap penyakit hasud. Beliau bersabda:
“Waspadalah terhadap hasud, sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR. Abu Daud)
Penyakit hati ini sangat berbahaya, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Orang yang memiliki sifat hasud pasti tidak pernah merasa bahagia, sebab hatinya selalu gelisah jika ada orang lain memperoleh kebahagiaan. Hatinya meronta jika orang lain mendapatkan karunia. Maunya semua kebahagiaan dankarunia Allah hanya diberikan kepadanya.
Orang yang hasud juga bisa membahayakan orang lain, sebab ia bisa saja melakukan berbagai tindak kejahatan untuk melenyapkan karunia yang diberikan Allah kepada orang lain. Tindakan orang yang hasud ini terkadang nekad, sehingga mengganggu keselamatan banyak orang.
Setiap negara mengandung tiga golongan masyarakat, yaitu penguasa, pengusahan, dan rakyat kebanyakan. Karena itu, biasanya, jika penguasanya sombong, pengusahanya serakah, dan rakyatnya iri hati, maka negara itu pasti hancur. Inilah yang barangkali terjadi sekarang.
Itulah sebabnya kita selalu dianjurkan berdoa dan berdzikir pada saat pagi dan petang. Juga dianjurkan sering-sering berdoa meminta perlindungan Allah dari orang-orang yang hasud. Di antara isi doa itu terselip permintaan kita kepada Allah agar dilindungi dari kejahatan orang-orang yang hasud. Mudah-mudahan, tulisan ini bisa membuat kita mau mengoreksi diri.*/shd