ISLAM sedang bangkit dan bergerak. Ajarannya dimana-mana di“kerdilkan”. Ummat Islam juga bangkit, karena dimana-mana diintimidasi –baik halus maupun kasar–, didiskreditkan, bahkan dijajah dan dilenyapkan. Palestina, Iraq, Suriah, dan Myanmar diantara contohnya.
Di Indonesia, Islam dan ummatnya juga mengalami hal yang sama: didiskreditkan, diintimidasi, bahkan dijajah –terutama secara ekonomi dan politik.
Hal ini mengingatkan kita kepada pernyataan politisi Muslim dari Masyumi, pahlawan nasional, sekaligus guru bangsa, Dr. Mohammad Natsir. Katanya, “Umat Islam jika beribadah akan dibiarkan. Jika berekonomi akan diawasi. Dan jika berpolitik akan dicabut ke akar-akarnya”
Meskipun ada Muslim yang jadi politisi saat ini, kiprah bela Islam mereka harus masih dimotivasi. Begitu juga yang ekonom, kedermawanannya untuk umat ini masih butuh stimulus lanjutan.
Namun, pasca Aksi Damai Bela Islam ll yang saat ini masyhur dengan sebutan Aksi 411, riak kebangkitan Islam dan umatnya semakin nyata.
Aktivis 98: Ajaib, Al-Maidah:51 Datangkan 2 Juta Massa Aksi 411
Jika ada yang menilai umat Islam sebelum 411 sebagai the sleeping giant, maka “raksasa” itu sekarang sudah bangun. Jika ada yang menilai bahwa Indonesia dikenal pada saat ini sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia
Tetapi anehnya tak seorang pun merasa gentar atau menaruh hormat dengan kebesaran jumlah tersebut, nampaknya ia kosong dari substansi (Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam (Jakarta Pusat: Baitul Ihsan, 2006), 1), tampaknya saat ini lain.
Meskipun sepertinya pandangan ini murni dilihat dari sisi tradisi ilmiah. Namun, sisi ini pun umat Islam Indonesia tengah bangkit.
Energi Al-Ma’idah 51 memang memang sangat ‘magis’. Mampu menyadarkan umat bahwa kitab suci mereka sedang “diserang”, ulama’ mereka dilecehkan, dan ‘aqidah mereka dipertaruhkan. Maka, lahirlah kesadaran kolektif dan kekuatan ukhuwwah yang selama ini banyak yang mempertanyakan. Peristiwa bersejarah 411 adalah jawaban untuk sebuah keraguan.
Memang, kecintaan kepada Al-Quran adalah bagian dari keimanan. Dan beriman kepada kitab suci adalah satu dari enam fondasi keimanan. Maka, yang KTP-nya doank namun tak tergerak bela Al-Quran harus segera check up ‘aqidahnya. Saat ini, Islam KTP hanya berlaku di sinetron.
Namun begitu, kebangkitan ini jangan sampai sebatas euforia sesaat. Karena bisa melenakan, menina-bobokan siapapun. Ia harus dikawal ketat, agar berjalan sampai ke puncak: Islam dijadikan sebagai the only way of our life: jadi pandangan hidup, jadi sandaran hukum, jadi sumber peradaban dan kebudayaan. Untuk itu, kebangkitan ini harus diakhiri dengan kemenangan. Tetapi Allah kasih syaratnya kepada kita, yaitu: (1) beriman dan (2) perbanyak amal-saleh.
Kalau dua hal di atas dapat diwujudkan, maka hadiah dari Allah adalah: (1) umat Islam akan jadi pemimpin dunia; (2) Islam akan jaya; (3) umat Islam hidup dengan aman dan damai; dan (4) Tauhid pun tegak. Tapi, kata Allah, jangan kufur setelah peroleh karunia ini, karen bisa jadi fasiq (Qs. an-Nur [24]: 55).
Mari kita lanjutkan perjuangan; wujudkan kemenangan; dan jangan absen dalam “panggilan” Allah. Wallahu’l-Musta‘an.*/Qosim Nursheha Dzulhadi @Majelis As-Shuffah