DALAM acara “Gala Dinner Pejuang Baitul Maqdis untuk Negeri yang Diberkahi” di Hotel Bidakara Jakarta (22/03/2018), ada kisah menarik yang disampaikan oleh Dr. Nawwaf Takruri (Ketua Ikatan Ulama Palestina Diaspor) terkait keberkahan dan manfaat sedekah pohon zaitun.
Bagi beliau masalah sedekah pohon zaitun ini bukan perkara sederhana. Di samping sebagai simbol keberpihakan dan kepedulian umat terhadap tanah Baitul Maqdis, Palestina, juga kepedulian kita terhadap tanah suci ini, seakan-akan sedang berkebun atau memiliki kebun di surga.
Dalam kesempatan yang cukup bersahabat ini, beliau mengangkat kisah menarik mengenai sahabat Nabi bernama Abu Dahdah. Ahmad bin Hanbal dalam “Musnad”-nya meriwayatkan:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِفُلاَنٍ نَخْلَةً وَأَنَا أُقِيمُ حَائِطِى بِهَا فَأْمُرْهُ أَنْ يُعْطِيَنِى حَتَّى أُقِيمَ حَائِطِى بِهَا. فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَعْطِهَا إِيَّاهُ بِنَخْلَةٍ فِى الْجَنَّةِ ». فَأَبَى فَأَتَاهُ أَبُو الدَّحْدَاحِ فَقَالَ بِعْنِى نَخْلَتَكَ بِحَائِطِى. فَفَعَلَ فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى قَدِ ابْتَعْتُ النَّخْلَةَ بِحَائِطِى. قَالَ فَاجْعَلْهَا لَهُ فَقَدْ أَعْطَيْتُكَهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «كَمْ مِنْ عَذْقٍ رَدَاحٍ لأَبِى الدَّحْدَاحِ فِى الْجَنَّةِ». قَالَهَا مِرَاراً. قَالَ فَأَتَى امْرَأَتَهُ فَقَالَ يَا أُمَّ الدَّحْدَاحِ اخْرُجِى مِنَ الْحَائِطِ فَإِنِّى قَدْ بِعْتُهُ بِنَخْلَةٍ فِى الْجَنَّةِ. فَقَالَتْ رَبِحَ الْبَيْعُ أَوْ كَلِمَةً تُشْبِهُهَا
Diriwayatkan dari Anas bin malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki yang berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulan memiliki sebuah pohon kurma dan aku membangun kebun kurmaku disana, maka perintahkanlah ia memberikan (pohon kurma)nya kepadaku sampai aku mampu membangun kebun kurmaku disana.”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun lalu bersabda: “Berikanlah kepadanya pohon kurma itu, maka kamu akan mendapatkan satu pohon di dalam Surga.”
Baca: Mengunjungi Taman Surga
Namun pemilik pohon ini menolak, maka Abu Dahdah mendatangginya dan berkata: “Juallah kepadaku pohon itu dan ambil kebunku”, lalu ia setuju, lalu Abu Dahdah mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Aku telah membeli pohon tersebut dengan kebunku, berikanlah pohon tersebut untuknya sungguh aku telah memberikan pohon itu untuknya.”
Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak kurma yang tinggi besar buah yang dimiliki oleh Abu Ad Dahdah”, (beliau mengulanginya berkali-kali ucapan itu), lalu Abu Dahdah mendatangi istrinya dan berkata kepadanya: “Wahai Ummu Dahdah, keluarlah dari kebun ini karena aku telah menjualnya dengan satu pohon kurma di dalam surga.” lalu Ummu Ad Dahdah berkata: “Perdagangan yang mendatangkan keuntungan”, atau ucapan yang semisal dengannya.” (HR. Ahmad)
Apa yang dilakukan Abu Dahdah ini mungkin dalam kaca mata orang ‘zaman now’ dianggap kurang waras karena kebun kurma yang sedemikian melimpah pohonnya ditukar dengan satu pohon. Padahal, dengan pohon yang dimiliki, bisa saja dia menjadi orang kaya raya saat itu.
Ternyata, cara pandang orang beriman berbeda. Baginya, tidak ada manfaatnya berkebun di dunia kalau tidak bernilai akhirat. Tidak ada gunanya memiliki harta yang melimpah tapi tidak berefek sampai Surga. Maka tidak berlebihan jika berangan memiliki pohon kurma (bahkan kebun) di surga. Dan ternyata, keinginannya kelak terkabul.
Dalam acara yang diadakan Spirit of Aqsa dari jam 18.00 sampai 22.00 ini, Dr. Nawwaf menekankan bahwa kalau Abu Dahdah dengan sedekah pohon atau kebunnya bisa memiliki kebun di Surga, lalau bagaimana dengan umat Islam sekarang yang berpartisipasi bersedekah pohon zaitun di tanah suci, tanah yang diberkati Al-Aqsha dan demi kebebasan umat Islam di sana, tentu saja –jika dilakukan dengan ikhlas- hasilnya akan dahsyat dan berujung manis di akhirat.
Maukah berkebun di Surga? Bersediakah memiliki kebun di akhirat? Dengan bergabung dengan program sedekah ini, dengan mengikuti jejak langkah Abu Dahdah, insya Allah yang dibangun umat Islam di surga bukan sekadar kebun, tapi bisa jadi taman luas nan indah yang keindahan dan pesonanya tidak akan dijumpai di dunia.
Apa menunggu harta dan kebun kita hancur dulu seperti yang dialami oleh pemilik kebun yang dengan sangat yakin dan bangga akan memanennya tanpa memperdulikan Allah sehingga kebunnya ludes dan gagal panen?, lalu mereka insaf seraya berkata:
عَسَى رَبُّنَا أَن يُبْدِلَنَا خَيْراً مِّنْهَا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا رَاغِبُونَ
“Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dati Tuhan kita.” (QS. Al-Qalam [68]: 32) Pilihan ada di tangan kita masing-masing.*/Mahmud Budi Setiawan