SUATU hari, Sya`s bin Qais, seorang tua renta kafir dan sangat dengki terhadap Islam, mencoba mengadu domba Suku Aus dan Khazraj yang sedang berkumpul dalam suatu majlis.
Untuk meluluskan maksudnya, ia suruh pemuda Yahudi untuk memprovokasi mereka dengan bahasa yang menimbulkan bentrokan. Ia mengobarkan kembali dendam kesumat dalam Pertempuran Buâts. Cara yang digunakan ternyata ampuh. Masing-masing bangga dengan suku dang golongannya bahkan sudah siap bertempur di waktu Dzuhur.
Tak lama setelah itu, sampailah berita ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam. Melihat konflik tersebut, beliau lekas meredamnya. Inilah diksi yang digunakan nabi, “Wahai sekalian orang muslim, ingat Allah! Ingat Allah! Apa kalian (kembali) terprovokasi dengan propaganda Jahiliah padahal aku di hadapan kalian; setelah kalian dibimbing Allah kepada Islam; memuliakan kalian dengannya; memutus perkara jahiliah dengannya; menyelamatkan kalian dai kekufuran serta menyatukan hati-hati kalian?”
Mendengar diksi yang digunakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka pun pada akhirnya sadar sembari menangis dan saling berpelukan (Muhammad Shallabi, al-Sîrah al-Nabawiyyah, II/10). Kata-kata yang disampaikan nabi ini senada dengan firman Allah, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS: Ali Imran [3]: 103)
Baca: Takutlah Jadi Pemimpin
Bandingkan! Kalau diksi yang digunakan pemuda suruhan Sya’s mengandung unsur provokasi, adu domba dan penuh hasutan. Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyapaikan diksi yang membuat sejuk, damai, tentram dan harmoni.
Pada kesempatan lain, Jabir bin Abdullah menceritakan, dalam suatu pertempuran, seorang sahabat dari golongan Muhajirin mendorong sahabat dari golongan Anshar. Kondisi ini berbuntut konflik menegangkan yang didasarkan pada fanatisme golongan. Kedua pihak akhirnya memanggil kawannya masing-masing. Ketika nabi mendengar perbedaaan kontradiktif tersebut, beliau segera meredamnya dengan mengatakan, “Seruan Jahiliyyah macam apa ini?” (HR. Bukhari).
Setelah diberitahu alasannya, beliau menyuruh mereka meninggalkan atau menyudahi perselisihan karena itu buruk.
Dengan bahasa sejuk, penuh dengan narasi persatuan dan sarat akan persaudaraan, beliau mampu menjadi sang pemersatu. Percekcokan yang berpotensi menimbulkan persimbahan darah, akhirnya bisa reda dengan begitu mudah.
Begitulah seharusnya seorang pemimpin. Bila berbicara –apa lagi yang menyangkut hal yang bisa menyulut konflik internal— semestinya berhati-hati dalam mengundakan diksi. Bila tidak, maka akan menimbulkan kegaduhan di dalam internal yang dimimpin.
Apa yang sedang viral baru-baru ini, terkait diksi yang dipakai orang nomer satu negeri ini kepada para relawan, “Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani,” dan kalimat, “tapi jangan ngajak (berantem) loh. Saya bilang tadi, tolong digarisbawahi. Jangan ngajak. Kalau diajak, tidak boleh takut,” justru mengarahkan orang kepada konflik dan perpecahan yang bisa mengancam kesatuan bangsa.
Walaupun ke depan, tahun 2019, ada persaingan perebutan jabatan presiden, dan masing-masing memiliki calon yang diunggulkan yang merupakan hal wajar dalam demokrasi, tidak arif jika diksi yang disampaikan adalah “berani diajak berantem” dan “kalau ngajak, tidak boleh takut”. Apa kita sedang perang fisik dengan musuh? Bukankah walau berbeda calon, masing-masing adalah tetap saudara dan satu bangsa.
Dalam sejarah demokrasi Indonesia, persaingan atau konflik antar partai sudah biasa. Misalkan konflik antar Partai Masyumi dan PKI sebelum meletusnya G30S-PKI 1965.
Namun, di level pemimpin mereka terlihat rukun-rukun saja. Mohammad Natsir misalnya, biasa duduk bareng ngopi bersama D.N. Aidit. Demikian juga I.J. Kasimo dan Prawoto, hubungannya demikian harmonis walaupun haluan politiknya berbeda. Mereka para pemimpin menghadirkan kesejukan. Diksi yang dipilih pun tak membuat perpecahan.*/Mahmud Budi Setiawan