Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Diksi Persatuan Pemimpin Teladan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Agustus 2018 12:59 12:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Agustus 2018 12:59
Bagikan
Bagikan

SUATU hari, Sya`s bin Qais, seorang tua renta kafir dan sangat dengki terhadap Islam, mencoba mengadu domba Suku Aus dan Khazraj yang sedang berkumpul dalam suatu majlis.

Untuk meluluskan maksudnya, ia suruh pemuda Yahudi untuk memprovokasi mereka dengan bahasa yang menimbulkan bentrokan. Ia mengobarkan kembali dendam kesumat dalam Pertempuran Buâts. Cara yang digunakan ternyata ampuh. Masing-masing bangga dengan suku dang golongannya bahkan sudah siap bertempur di waktu Dzuhur.

Tak lama setelah itu, sampailah berita ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam. Melihat konflik tersebut, beliau lekas meredamnya. Inilah diksi yang digunakan nabi, “Wahai sekalian orang muslim, ingat Allah! Ingat Allah! Apa kalian (kembali) terprovokasi dengan propaganda Jahiliah padahal aku di hadapan kalian; setelah kalian dibimbing Allah kepada Islam; memuliakan kalian dengannya; memutus perkara jahiliah dengannya; menyelamatkan kalian dai kekufuran serta menyatukan hati-hati kalian?”

Mendengar diksi yang digunakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka pun pada akhirnya sadar sembari menangis dan saling berpelukan (Muhammad Shallabi, al-Sîrah al-Nabawiyyah, II/10).  Kata-kata yang disampaikan nabi ini senada dengan firman Allah, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS: Ali Imran [3]: 103)

Baca: Takutlah Jadi Pemimpin

Bandingkan! Kalau diksi yang digunakan pemuda suruhan Sya’s mengandung unsur provokasi, adu domba dan penuh hasutan. Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyapaikan diksi yang membuat sejuk, damai, tentram dan harmoni.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Pada kesempatan lain, Jabir bin Abdullah menceritakan, dalam suatu pertempuran, seorang sahabat dari golongan Muhajirin mendorong sahabat dari golongan Anshar. Kondisi ini berbuntut konflik menegangkan yang didasarkan pada fanatisme golongan. Kedua pihak akhirnya memanggil kawannya masing-masing. Ketika nabi mendengar perbedaaan kontradiktif tersebut, beliau segera meredamnya dengan mengatakan, “Seruan Jahiliyyah macam apa ini?” (HR. Bukhari).

Setelah diberitahu alasannya, beliau menyuruh mereka meninggalkan atau menyudahi perselisihan karena itu buruk.

Dengan bahasa sejuk, penuh dengan narasi persatuan dan sarat akan persaudaraan, beliau mampu menjadi sang pemersatu. Percekcokan yang berpotensi menimbulkan persimbahan darah, akhirnya bisa reda dengan begitu mudah.

Baca: Menjadi Pemimpin Adil dan Bijaksana

Begitulah seharusnya seorang pemimpin. Bila berbicara –apa lagi yang menyangkut hal yang bisa menyulut konflik internal— semestinya berhati-hati dalam mengundakan diksi. Bila tidak, maka akan menimbulkan kegaduhan di dalam internal yang dimimpin.

Apa yang sedang viral baru-baru ini, terkait diksi yang dipakai orang nomer satu negeri ini kepada para relawan, “Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani,” dan kalimat, “tapi jangan ngajak (berantem) loh. Saya bilang tadi, tolong digarisbawahi. Jangan ngajak. Kalau diajak, tidak boleh takut,” justru mengarahkan orang kepada konflik dan perpecahan yang bisa mengancam kesatuan bangsa.

Walaupun ke depan, tahun 2019, ada persaingan perebutan jabatan presiden, dan masing-masing memiliki calon yang diunggulkan yang merupakan hal wajar dalam demokrasi, tidak arif jika diksi yang disampaikan adalah “berani diajak berantem” dan “kalau ngajak, tidak boleh takut”. Apa kita sedang perang fisik dengan musuh? Bukankah walau berbeda calon, masing-masing adalah tetap saudara dan satu bangsa.

Dalam sejarah demokrasi Indonesia, persaingan atau konflik antar partai sudah biasa. Misalkan konflik antar Partai Masyumi dan PKI sebelum meletusnya G30S-PKI 1965.

Namun, di level pemimpin mereka terlihat rukun-rukun saja. Mohammad Natsir misalnya, biasa duduk bareng ngopi bersama D.N. Aidit. Demikian juga I.J. Kasimo dan Prawoto, hubungannya demikian harmonis walaupun haluan politiknya berbeda. Mereka para pemimpin menghadirkan kesejukan. Diksi yang dipilih pun tak membuat perpecahan.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adu dombadiksipemimpinseruanteladan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Saudi Pulangkan 16 Ribu Mahasiswa, PM Justin Trudeau Enggan Minta Maaf
Tulisan selanjutnya Istri Bashar Al Assad Mengidap Kanker Payudara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?