DALAM keseharian, manusia bisa melihat begitu banyak tanda di sekelilingnya. Bahkan pada diri manusia sekali pun terdapat tanda-tanda. Lebih luas lagi, seluruh alam semesta juga adalah penanda nyata akan Pencipta Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Umumnya, tanda atau alamat diartikan sebagai petunjuk dan isyarat terhadap sesuatu hal. Contoh sederhana, rasa lapar mengantuk, kulit keriput, rambut beruban, semuanya adalah isyarat dalam perjalanan hidup manusia.
Fenomena alam yang terjadi juga sekaligus terkadang sebagai isyarat dari bagaimana kelakuan manusia di sekeliling alam tersebut. Bahwa baik buruknya lingkungan menjadi cermin dan sinyal atas perbuatan manusia.
Jelang Hari Kiamat, juga disebut memiliki beberapa tanda, ada isyarat Kiamat Kecil dan Kiamat Besar sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an dan hadits Rasulullah ﷺ.
لَّقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِّلسَّائِلِينَ
Allah berfirman, “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (QS: Yusuf [12]: 7).
Sejalan makna di atas, Allah menyebut bahwa kisah Yusuf dan saudara-saudaranya, secara dituang pada surat khusus dan mengandung beberapa tanda-tanda kekuasaan-Nya. Uniknya, rambu-rambu itu dikhususkan hanya berlaku bagi mereka yang mau bertanya saja (lis sailin). Tidak bagi yang lain.
Siapa as-sailin itu?
Secara bahasa, sailin adalah bentuk jamak (plural) dari sail (orang yang bertanya atau meminta). Sail (subjek) berasal dari turunan kata kerja, saala – yasalu yang berarti bertanya atau meminta.
Ayat di atas mengingatkan bahwa tanda itu hanya berlaku bagi yang bertanya alias haus dengan ilmu. Isyarat hanya bisa berfungsi jika orang tersebut mau membaca gejala yang terjadi. Apalah arti dari tanda yang dipasang atau rambu yang disepakati jika dia sendiri kemudian mengabaikan dan tidak peduli dengan isyarat tersebut.
Setiap orang tahu bahwa kebaikan itu mendatangkan ganjaran pahala dan maslahat. Mereka juga paham bahwa kalau yang maksiat dikerjakan, selain mendapat dosa, juga berengaruh buruk kepada diri dan keluarganya. Tapi rupanya tidak semua hati manusia tergerak untuk mengerjakan keburukan dan meninggalkan keburukan.
Itulah mengapa persoalan ilmu tak langsung selesai hanya karena dia dianggap pintar atau hebat dengan tumpukan gelar dan sederet penghargaan manusia yang diperolehnya.
Sebab ada soalan yang lebih penting, yakni apakah ilmu itu mampu menjadikan pemiliknya makin dekat dan kian takut kepada Sang Pemberi ilmu? Apakah ilmunya bikin dia beradab atau malah berubah jadi sombong dan lupa daratan.
Setidaknya, ini di antara sebagian hikmah dari kisah Nabi Yusuf. Bahwa orang beriman diperintahkan untuk peka terhadap setiap gejala atau tanda kekuasaan Allah di muka bumi. Setiap aktifitas manusia tidak bisa lepas dari pondasi iman dan ilmu.
Iqra (bacalah), wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad menjadi bukti penegas atas kewajiban setiap Muslim untuk berilmu. Ilmu itu harus dilandasi dengan “Iqra Bismi Rabbika” agar bisa menghasilkan “Iqra wa Rabbukal Akram“.
Tak heran, ilmu itu tidak cukup dengan mengandalkan otak cerdas dan daya nalar serta analisis semata. Dibutuhkan instrumen berikutnya, berupa hati untuk mengolah dan mengontrol ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang diberkahi.
Saudara-saudara Yusuf sesungguhnya bukan kumpulan manusia tak berilmu. Mereka adalah orang-orang yang fisiknya kuat dan punya berbagai keterampilan. Sejak awal mereka sudah ikut membantu menggembala binatang ternak milik keluarga. Mereka telah bekerja dan turut menopang ekonomi keluarga Nabi Ya’qub.
Namun boleh jadi yang terjadi pada mereka adalah tersumbatnya ilmu itu sebagai kumpulan pengetahuan saja di kepala mereka. Ilmu demikian tidak melahirkan hidayah dan rahmat dari Allah. Akibatnya, hati-hati mereka mengeras batu dan merasa lebih baik, dan lebih berhak dari Yusuf, adiknya. Puncaknya, mereka berencana jahat, ingin menghilangkan Yusuf dari Nabi Ya’qub, ayahnya.*/Masykur