Oleh: Dr. Ali Ash-Shalabi
Hidayatullah.com | SAYA masih tetap berpendapat bahwa saat ini kita menjalani tahapan yang terberat dalam pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Mungkin inilah tahapan terakhir dari pertarungan dahsyat ini. Yaitu: Pertarungan batin yang kita rasakan dalam diri kita sendiri.
Yaitu pertarungan yang terjadi antara apa yang kita yakini kebenarannya dengan apa yang dikehendaki oleh pihak lain untuk kita yakini sebagai kebenaran.
Pertarungan antara keyakinan dalam Agama Islam, nilai-nilai mulia dalam Agama Islam, dengan hiruk pikuk dunia yang sangat menggoda, yang menyalahi akhlak mulia dan melanggar keyakinan dalam Islam.
Akhirnya, setelah pertarungan batin yang panjang, banyak dari kita yang kalah. Keyakinan mereka jatuh. Akhlak mulia mereka tumbang.
Saya mengenal dengan baik beberapa orang yang menang dalam pertarungan di banyak penjara. Mereka mampu bertahan di hadapan para tukang pukul yang sangat kejam, tapi akhirnya mereka tumbang kalah di hadapan pertarungan dengan jiwa mereka sendiri. Tiba-tiba mereka mundur seribu langkah ke belakang, lalu mereka melakukan banyak hal yang pada beberapa tahun yang lalu, tidak pernah mereka bayangkan untuk mereka lakukan seujung kuku dari pelanggaran yang mereka lakukan saat ini.
Wahai saudaraku para pemimpin umat.
Jiwa kita masing-masing adalah benteng pertahanan terakhir. Terutama mereka yang masuk dalam pertarungan ini sejak awal. Ketika pertarungan yang terjadi ialah pertarungan antara rakyat dengan penguasa yang zhalim. Kemudian dengan cara-cara yang licik, para tirani itu mengubah pertarungan itu menjadi pertarungan antar sesama rakyat. Pertarungan antar kelompok masyarakat. Kemudian pertarungan itu berkembang menjadi pertarungan antar komponen kelompok masing-masing. Setiap kelompok berpecah belah. Akhirnya, pertarungan ini sampai pada tahap terakhirnya, yaitu pertarungan setiap kita dengan diri kita masing-masing. Pertarungan batin.
Inilah sunnah kauniyah, ketetapan Allah pada pertarungan antara Al-Haq dan Al-Bathil. Pertarungan itu dimulai dari pertarungan sengit antara Jalut dan Kelompok Mu’min, kemudian berakhir dengan pertarungan antar kelompok mu’min itu dengan diri mereka masing masing. Pertarungan yang terakhir ini lahiriyahnya kecil, tapi sesungguhnya ia jauh lebih dahsyat dari pertarungan yang pertama, melawan musuh berwujud manusia yang nyata. Medan pertarungan itu lahiriyahnya adalah pembatasan minum air sungai, tapi pada hakikatnya, ini adalah pertarungan yang luar biasa, karena yang banyak minum berarti jiwanya kalah dalam menahan hawa nafsu; dan yang tidak banyak minum berarti jiwanya menang dalam mempertahankan prinsip kebenaran, membuat hawa nafsu terjungkal di bawah kakinya. Dengan jiwa para pemenang inilah Allah segera memberikan kemenangan kepada mereka:
( فهزموهم بإذن الله )
“Maka mereka mengalahkan (musuh musuh) mereka, dengan izin Allah”. (QS: Al-Baqarah: 251).
Ketika Nabi Musa -‘Alaihissalam- dan para pengikut beliau sampai ke tepi pantai Laut Merah, Allah menunda terbelahnya laut, sampai mereka didekati oleh Fir’aun dan pasukannya, agar mereka tiba pada pertarungan yang terakhir, yaitu pertarungan orang beriman dengan diri mereka sendiri, sebelum Allah membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya; lalu goyahlah iman sebagian pengikut Nabi Musa -‘Alaihissalam-, yaitu mereka yang beranggapan bahwa mereka pasti kalah. Saat itulah, Nabi Musa -‘Alaihissalam- mengatakan:
(كلا، إنني معي ربي، سيهدين)
“Sekali kali tidak!. Sesungguhnya aku bersama Rabbku, pasti DIA memberi petunjuk kepadaku. (QS: Asy-Syu’ara’: 62).
Saat ini, kita berada pada tahap ini. Pertarungan tahap akhir. Begitu dahsyatnya pertarungan ini, sampai berguguran ratusan orang setiap hari, padahal mereka itu adalah para pemenang yang sangat tegar pada berbagai pertarungan yang lalu. Begitu dahsyat pertarungan ini dan begitu mengerikannya mereka yang berjatuhan itu, sampai saya berdo’a sekitar seribu kali dalam sehari:
“Ya Allah, Selamatkanlah saya”.
“Ya Allah, Selamatkanlah saya”.
Pada satu hari saya menguatkan sahabatku yang mulai putus asa:
“Wahai sahabatku, Tenangkan dirimu. Kebenaran ini dijamin oleh Allah untuk menang. Sudah pasti pada akhirnya menang. Tapi yang paling mengerikan ialah bahwa kebenaran ini menang lalu kita tidak punya saham walau satu pohon pada taman kebenaran, atau kita tidak meletakkan walau satu batu sekalipun pada bangunan kebenaran”.
“Wahai sahabatku. Jangan engkau sibukkan dirimu dengan sesuatu yang bukan tanggung jawabmu, sampai engkau lupa banyak hal yang sesungguhnya itu semua adalah tanggung jawabmu”.
“Jagalah keyakinan dalam dirimu. Peliharalah ketinggian akhlakmu. Lindungilah kesucian hatimu. Pertahankanlah kesucian lisanmu. Perkuatlah keteguhan jiwamu. Bersamaan dengan itu dan setelah itu semua, tidak usah peduli dengan apa yang terjadi!. Karena sungguh, sekiranya bukan karena kemenangan para pengikut Thalut dalam pertarungan pembatasan untuk minum itu, niscaya Allah tidak memberikan kemenangan kepada mereka dalam pertarungan melawan musuh mereka yang paling beringas”.
“Siapa yang menyangka bahwa tak ada sungai selain sungainya Thalut dan para pengikutnya, maka sungguh ia belum mengenal Allah dengan baik”. (Maksudnya, ujian dan pertarungan batin itu terus berlanjut sepanjang masa).
“Wahai sahabatku. Apa gunanya kebenaran itu menang kalau kita kalah?!”.
“Wahai sahabatku. Jangan biarkan musuh-musuh itu membobol benteng terakhir kita pada jiwamu. Jangan biarkan mereka merampas senjata termahalmu yaitu imanmu dan tekadmu!”.
“Sahabatku. Ini adalah pertarungan terakhir. Sangat sedikit yang selamat. Kebanyakan orang binasa”.
“Ya Allah, Selamatkanlah kami.”
“Ya Allah, Selamatkanlah kami.”
Mari kita memperbanyak Shalawat dan Salam kepada Nabi yang do’a paling banyak beliau ucapkan ialah:
(يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك)
“Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, Teguhkanlah hatiku pada AgamaMu”.
اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.