Oleh: Herman Anas
Hidayatullah.com | Setiap kejadian ada hikmah yang bisa diambil. Apakah itu kejadian besar atau kecil. Umat Islam adalah umat yang bertauhid. Umat yang mengesakan Allah. Tauhid (توحيد) yang bentuknya masdar dari fi’il madhinya wahhada (wahhada) bermakna mengesakan, “menjadikan esa atau tunggal”.
Sehingga, mereka tidak fokus pada makhluq yang nampak di alam ini. Mereka tidak melihat Si A punya kekuatan, Si B punya kekuatan, Si C punya kekuatan dst. Ada orang meninggal tabrakan, meninggal terkena sihir bahkan banyak orang saat ini meninggal karena corona tidak merisaukan hatinya. Sebab dia meyakini yang punya kekuatan hanyalah Allah, begitupula yang menghidupkan dan mematikan Allah semata, tiada sekutu baginya.
Tauhid ini didapat apabila tidak syirik. Apabila sudah benar-benar meyakini hanya Allah zat yang punya kekuatan, menghidupkan dan mematikan. Makhluk tidak mempunyai pengaruh (atsar) tapi Allah-lah sang pencipta yang mempunyai pengaruh (mu’attsir). Tauhid inilah yang akan melahirkan akhlak akhlak yang terpuji sebagaimana para sahabat. Seperti, sabar, ikhlas, tawakkal, syukur, cinta, ridha dst. Mau marah kepada siapa jikalau hatinya sudah diliputi rasa cinta, ridha dan mengetahui (makrifat) bahwa semua dari kekasih yang dicintainya.
Setidaknya ada 10 hal yang Allah ajarkan dengan corona pada umat saat ini :
Pertama, mudah bagi Allah, dengan mengirimkan satu tentara saja yang (makhluq Allah kasat mata) tidak kelihatan mampu mengguncang dunia. Mulai yang mempunyai kedudukan tertinggi sampai terendah tidak mampu mengatasi. Presiden, ilmuwan dan para hartawan mengerahkan segala upayanya. Harta, tahta dan kecerdasan sudah dimaksimalkan mengatasinya, namun tidak mampu. Kemana engkau bersandar dan meminta tolong?
Kedua, mudah bagi Allah mengembalikan kestabilan dunia sebagaimana dilansir banyak peneliti. Di mana banyak kerusakan oleh ulah tangan manusia baik di darat dan lautan. Pada 8 Maret lalu seperti dikutip dari kompas.com, peneliti sumber daya lingkungan dari Standford University, Marshall Burke melakukan beberapa perhitungan baik tentang penurunan polusi udara baru-baru ini di beberapa wilayah di China.
Peneliti ini kemudian mencoba menghitung pengurangan polusi selama dua bulan. Hasilnya, mungkin saja pengurangan polusi ini telah menyelamatkan nyawa 4.000 anak di bawah 5 dan 73.000 orang dewasa di atas 70 di China. Itu secara signifikan lebih dari jumlah kematian global saat ini dari virus corona.
Ketiga, syariat yang satu berkaitan dengan syariat lain. Syariat penanggulangan wabah ala Rasulullah ﷺ dan juga dilaksanakan di zaman Sayyidina Umar dapat berjalan mulus karena adanya tanggungjawab pemenuhan kebutuhan pokok. Kalau tidak, maka hanya teori belaka.
Keempat, adanya wabah corona menunjukkan bahwa alam ada yang menciptakan, mengatur dan memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan. Corona hanya salah satu perantara kematian, banyak orang terkena corona juga sembuh dan banyak orang yang tidak terdampak corona juga meninggal dunia. Jadi, orang meninggal karena telah sampainya ajal.
Kelima, adanya wabah corona menunjukkan manusia lemah. Makhluk kecil saja tak mampu mereka taklukkan. Dilarangnya rasa sombong dan merasa besar.
Keenam, banyak kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan di dunia ini, tapi umat Nabi Muhammad ﷺ tidak adzab sebagaimana kaum terdahulu. Sebab umat ini punya syariat dan hukuman bagi pelanggarnya. Namun saat ummat abai, Allah sendiri yang akan menghukumnya.
Ketujuh, Allah yang menjaga agama dan mengatur dunia ini. Jika seseorang tidak mampu atau malah berbuat kerusakan sebagai khalifah di bumi, maka Allah ganti yang lebih baik.
( وَإِن تَتَوَلَّوۡا۟ یَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَیۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا یَكُونُوۤا۟ أَمۡثَـٰلَكُم)
“Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).” [Surat Muhammad: 38]
Kedelapan, Allah perintahkan makan yang halal. Inilah awal mula dugaan terjadinya wabah kali ini. Sembarang hewan dimakan tanpa memperdulikan haram dan halal. Padahal Al-Qur’an bukan hanya petunjuk bagi orang bertaqwa (Al-Baqarah ayat 2) tapi juga petunjuk bagi manusia secara umum (Surat al-Baqarah ayat 185).
Kesembilan, Allah tampakkan syari’at menutup aurat, cuci tangan, wudhu, tidak jabat tangan non-mahram dst, meskipun mungkin saat ini dilakukan berdasarkan asas manfaat.
Sepuluh, Allah syari’atkan dakwah atas kemaksiatan karena kemaksiatan itu mengundang bencana yang akan menimpa juga orang-orang beriman, sebagaimana di surah al anfal ayat 25. Syaikh Umar Hasyim, Amirul Mu’minin Fil Hadits, Mesir juga menyatakan :
لم ينزل البلاء الا بالذنوبة ولم يكشف الوباء الا بالتوبة
“Tidaklah turun bencana kecuali karena dosa dan tidaklah diangkat wabah kecuali dengan taubat.”
Wal akhir, husnudzonlah pada Allah. Dzat yang menciptakan, memberi rezeki dan mengatur alam ini. Yakinlah yang ada di sisi Allah hanya kebaikan. Baik dan buruk kejadian hanya dalam sudut pandang manusia yang terbatas, berpatokan manfaat atau tidak terhadap dirinya secara akal. Padahal, makhluk Allah bukan hanya manusia.*
Alumnus Ponpes Annuqayah, Sumenep