Hidayatullah.com | DALAM Dalam konteks pendidikan, guru adalah yang dianggap memiliki banyak ilmu dan keahlian. Guru adalah filosofi dari “digugu dan ditiru” begitulah salah satu adagium terkenal di Jawa, yang memberikan pesan bahwa seorang guru begitu besar perannya dalam kancah pendidikan karena dianggap sebagai orang yang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni serta menjadi contoh.
Namun sedalam dan seluas apapun pendidik dalam menguasai ilmu, tentulah memiliki batasan kemampuan. Apalagi yang hanya terfokus pada satu jurusan sementara ilmu adalah lautan yang tidak memiliki tepi, dan tidak akan menguasainya kecuali Dzat yang ilmunya yang menguasai segala sesuatu.
Patut direnungkan, Firman Allah:
وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
…Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al-Isra’ 85)
Berangkat dari kerangka berpikir di atas, maka bagi seorang pendidik tidak perlu malu dan takut jika pada saat tertentu kita ditanya oleh peserta didik namun tidak memiliki pengetahuan tentanganya sehingga mengatakan “Saya tidak tahu”. Hal ini tidaklah tercela bahkan inilah sikap baik dan terpuji berdasarkan argument-argumen di bawah ini.
Al-Mawardi, dalam Adab ad-Din wa ad-Dunya berkata, “Jika tidak ada jalan untuk menguasai seluruh ilmu, maka tidak ada cela untuk jahil pada sebagiannya, dan jika tidak ada cela dalam jahil pada sebagiannya, maka tidak boleh dihina untuk mengatakan “saya tidak tahu” pada apa yang tidak diketahuinya.”
Rasululullah ﷺ pernah mengatakan “Saya tidak tahu” pada perkara yang tidak diketahuinya hingga wahyu datang memberikan hal tersebut kepada Beliau.
Dikisahkan dalam hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki datang bertanaya; wahai Rasulullah, bagian bumi mana yang paling baik? Beliau menjawab “aku tidak tahu”. Dia bertanya lagi bagian bumi mana yang paling buruk? Beliau menjawab “Aku tidak tahu” laki-laki itu berkata: “tanyakanlah kepada Rabbmu”. Lalu Jibril datang kepada beliau maka beliau bertanya hal tadi Jibrilpun menjawab “Aku tidak tahu” setelah Jibril minta pengetahuan dari Allah maka Allahpun memberitahukan bahwa ‘sebaik-baik bagian bumi adalah masjid dan seburuk-buruk bagian bumi adalah pasar.” (HR. Ahmad)
Dari kisah di atas betapa Nabi bahkan Malaikat telah memberika teladan yang baik bahwa jika benar-benar tidak mengetahui jawaban dari sesuatu yang ditanya, mereka menjawab ‘saya tidak tahu’. Mereka tidak malu atau mencoba menjawab di luar dari pengetahuan karena jika itu yang dilakukan maka itu jatuh kepada penipuan dan dusta.
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya merupakan bagian dari ilmu jika kamu mengatakan; “Allahu A’lam” (Allah lebih mengetahui) pada apa yang tidak kamu ketahui.”
Ali bin Abi Thalib suatu ketika lantang berbicara di depan manusia seraya mengatakan ‘betapa ia menyejukkan hati’ lalu ada yang bertanya apakah itu? Ali berkata, kamu mengatakan “Allahu A’lam” pada sesuatu yang tidak kamu ketahui.
Ibnu Umar pernah ditanya sesuatu yang tidak diketahuinya maka dia menjawab “saya tidak tahu” dan beliau mengatakan kepada dirinya: sebagus-bagus yang di katakan Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) ketika ditanya sesuatu yang tidak diketahuinya, maka dia mengatakan “aku tidak memiliki ilmunya”.
Seorang penyair berkata;
Jika engkau tidak tahu apa yang ditanyakan kepadamu
Dan kamu tidak memiliki ilmunya
Maka jangan berkata di dalamnya tanpa dasar ilmu
Karena salah adalah dosa bagi ahli ilmu
Katakanlah jika perkara itu jika tidak diketahui olehmu
Aku tidak memiliki ilmu tentang apa yang kamu tanya itu adalah setengah ilmu menurut ulama
Demikian juga senantiasa dikatakan para orang bijak
Beberapa nukilan di atas sudah cukup bagi kita mengambil teladan bahwa katakanlah sesuatu itu dengan saya tidak tahu atau Allahu A’lam jika kita tidak memiliki ilmu tentangnya. Bahkan sikap ini adalah bagian dari ilmu itu sendiri dan salah satu sikap kejujuran dalam pengetahuan. Tapi hal ini jangan sampai menjadi pembenaran untuk kita malas belajar, justru mendorong kita agar Zidna Ilman, tambahkanlah ilmu kepada kami.*/ Mohammad Ramli