Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Beragama Bukan Karena Harta

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Oktober 2019 16:13 4:13 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Oktober 2019 16:13
Bagikan
Bagikan

BAGI Muslim sejati, pilihan untuk memeluk agama Islam adalah murni karena Allah, tidak ada embel-embel apa pun selainnya. Hal ini, laksana Ahlul Kitab pada umumnya, mereka diperintah untuk menjadi abdi atau hamba Muslim yang beribadah dan beragama secara ikhlas karena-Nya (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).

Pada praktiknya, entah itu di awal, pertengahan, atau akhir perjalanannya dalam memeluk agama Islam, ada yang tergiur juga dengan embel-embel lain seperti: harta. Motivasi dari awal beragama bukan lagi karena Allah, tapi harta. Atau pada awalnya ikhlas, namun di tengah perjalanannya tergiur dengan harta.

Agama yang sedemikian “seksi” dipolitisasi sedemikian rupa untuk mengeruk harta. Atas nama agama, perjuangan yang dilakukan sebenarnya untuk mendapat keuntungan tinggi yang bersifat duniawi: harta berlimpah atau pengaruh jabatan.

Masih ingat dengan Abdullah bin Ubay bin Salul? Figur utama gembong kemunafikan ini motivasi beragamanya bukan murni karena Allah. Dia terpaksa melakukannya karena urusan duniawi. Dia sudah kehilangan pengaruh sebagai pemimpin pasca kedatangan Rasulullah di Madinah.

Tampuk kekuasaan yang sebelumnya digadang-gadang menjadi miliknya, seketika hancur lebur. Tentu ini berefek juga pada aspek finansial yang selama ini bisa didapat dari pengaruhnya di Madinah yang seolah terenggut.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Meski begitu, tidak ada pilihan lain baginya. Islam semakin bertambah kuat. Akhirnya dia terpaksa memeluk Islam. Namun, keislamannya justru menjadi benalu bagi umat Islam. Ia ibarat musuh dalam selimut. Secara lahir akan membela Islam jika menguntungkan dirinya, kalau tidak maka akan mencari beribu-ribu alasan untuk menghindarinya. Bahkan, tak jarang –secara diam-diam– ia menjelek-jelekkan Islam baik pada internal maupun eksternal.

Ada juga yang tergiur harta ketika sudah di pertengahan jalan atau akhir. Masih ingat dengan petaka yang menimpa pasukan Islam di Perang Uhud? Atau yang terjadi pada Perang Hunain? Salah satu alasan yang menyebabkan kalah mereka adalah –selain tidak taat pada perintah Rasul- juga karena tergiur dengan harta ghanimah (rampasan perang). Sementara dalam Perang Hunain, sempat kalah karena berbangga dengan jumlah banyak dan merasa bisa menang, padahal kemenangan itu datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala.

Bagi kita yang sudah beragama Islam, seyogianya senantiasa mengevaluasi diri mengenai keberislaman kita. Sudah benarkah selama ini dalam berislam? Benar-benar murni karena Allah atau harta? Betul-betul untuk penegakan agama atau justru karena embel-embel dunia? Semua itu bisa terjadi dari awal, pertengahan bahkan akhir. Karenanya, perlu diadakan evaluasi sejak dini.

Dalam sejarah, para pembaca yang budiman bisa mengambil keteladanan dari Amru bin Asha. Suatu hari, Sahabat yang dikenal dengan kecerdikannya dalam berdiplomasi ini bercerita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim utusan kepadanya dengan membawa pesan untuk bersiap memakai baju dan senjata kemudian langsung pergi bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika Amru sudah sampai di hadapan Nabi, beliau memandangnya dari atas dan sempat merapikannya. Dalam kondisi demikian, beliau bersabda, “Aku ingin mengutusmu menahkodai suatu ekspedisi. Semoga Allah menyelamatkan dan memberi ghanimah kepadamu. Aku juga berharap kamu mendapat harta (dalam misi itu).”

Mendapat tawaran itu, Amru sama sekali tidak menolak terkait intruksi untuk memimpin suatu ekspedisi. Hanya saja, ada catatan menarik yang disampaikan terkait statement akhir dari sabda Nabi mengenai harta.

“Wahai Rasulullah,” komentarnya, “aku berislam bukan karena harta. Aku masuk agama Islam karena memang cinta padanya. Selain itu, agar aku bisa bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Mendengar komentar Amru bin ‘Ash, Nabi menanggapinya dengan kalimat yang manis, “Wahai Amru!” panggil beliau, “sebaik-baik harta yang baik, adalah untuk orang yang shaleh.” (HR. Hakim dan Ahmad)

Entah bagaimana reaksi Amru ketika itu. Yang jelas, kalimat Nabi itu benar-benar disampaikan secara jujur. Siapa saja yang mendengarnya mungkin akan bangga bahkan tersipu malu. Amru memang pantas mendapatkannya lantaran keshalehan dan kapasitasnya dalam mengelola harta.

Terlepas dari bagaimana reaksi Amru mendengar sabda pamungkas Nabi kepada dirinya, yang penting untuk dijadikan pelajaran adalah sikapnya yang teguh berupa komitmen beragama bukan karena harta. Lalu, bagaimana dengan kita?* Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agamahartaImanislamMunafikNabiSahabat Nabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Politisi Senior Amerika Serikat: App TikTok Membahayakan Keamanan Negara
Tulisan selanjutnya Din: Pengangkatan Menteri Prerogatif Presiden, Tapi Harus Pahami Penilaian Rakyat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza

Berita
29 Agustus 2026 08:29
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?