Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Jika Ini Ramadhan Terakhirmu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 April 2023 12:29 12:29 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 April 2023 13:00
Bagikan
Bagikan

Berpuasalah sepanjang di dunia, dan jadikan berbukamu adalah saat mati. Dunia seluruhnya adalah bulan puasa bagi orang-orang yang bertakwa

Hidayatullah.com | KETIKA Allah memberi kesempatan seorang hamba untuk bersua Ramadhan, maka ini adalah kenikmatan yang tiada tara. Dari sekian banyak hamba Allah yang memohon agar disampaikan dan diperjumpakan dengan bulan Ramadhan, hanya pribadi-pribadi tertentu yang diizinkan sampai pada bulan Ramadhan dan bisa mengerahkan segenap jerih payahnya untuk memaksimalkan amal ibadah di dalamnya.

Hanya saja, ini kurang disadari. Persis tidak disadarinya oksigen yang dihirup secara gratis oleh orang sehat.

Demikian juga tidak disadarinya cahaya mentari yang setia menjalan titah Allah untuk terbit setiap harinya memberikan cahaya untuk kemaslahatan semesta. Padahal, apa jadinya jika hidup tanpa oksigen dan cahaya mentari yang telah ditetapkan Allah sebagai hal vital dalam kehidupan manusia?

Penulis akan mengajak pada peristiwa menarik pada zaman Nabi Muhammad tentang dua orang teman dari suku Bali yang bisa bersua dengan Ramadhan dan yang tidak bisa berjumpa karena meninggal dunia. Ibnu Majah dalam Sunan-nya meriwayatkan dari Thalhah bin ‘Ubaidullah bahwa dulu ada dua orang laki-laki dari Suku Baliy datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk Islam.

Baca Juga

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan

Dalam perjalanan keislamannya, secara lahiriah, salah seorang dari keduanya lebih semangat berjihad dari yang lainnya, kemudian dia pergi berperang sehingga ia menemui syahid. Sedangkan yang satunya lagi masih hidup hingga setahun setelahnya.

Maksudnya, dua orang kawan yang berasal dari suku yang sama ini, ada yang giat beribadah dan ada yang biasa-biasa saja. Ketika ada panggilan jihad, yang terkenal rajin ibadah ini ikut serta dan menemui syahidnya di medan perjuangan.

Sedangkan yang satunya, masih hidup dan bisa menjumpai Ramadhan pada tahun itu.

Suatu hari Thalhah bermimpi seakan-akan sedang berada di depan pintu surga. Dalam kondisi demikian, tiba-tiba Thalhah sudah berada di sisi kedua laki-laki itu, dan setelah itu Malaikat keluar dari surga.

Anehnya, malaikat itu mengizinkan laki-laki yang meninggal dunia belakangan yang kalau dibandingkan dengan yang pertama jelas terlihat kalah rajin dan giat. Setelah lelaki yang belakangan masuk, malaikat keluar dan mengizinkan laki-laki yang mati terlebih dahulu itu masuk.

Ini tentu menimbulkan keheranan bagi Thalhah. Dalam mimpi itu,  malaikat itu berkata kepadanya: “Kembalilah kamu, sebab belum saatnya kamu memperoleh hal ini.” Mimpi ini tentu saja membuat Thalhah penasaran. Oleh karena itu, keesokan harinya Thalhah menceritakannya kepada orang-orang, mereka pun heran. Mereka lalu memberitahukannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut.

Sikap Rasulullah ﷺ tidak menunjukkan mimik wajah keheranan. Malah beliau bertanya: “Perkara yang mana yang membuat kalian heran?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, laki-laki (yang pertama meninggal) adalah orang yang paling bersemangat dalam berjihad dari yang lain, lalu dia mati syahid. Tapi mengapa orang yang lain (laki-laki yang meninggal belakangan) justru masuk surga terlebih dahulu darinya?” Demikianlah pandangan kebanyakan orang. Dikira, yang terlihat lebih rajin dan giat dalam pandangan manusia, pasti berbanding lurus dengan pandangan Allah. Ternyata, tidak demikian.

Rasulullah ﷺ kemudian menjawab: “Bukankah orang ini hidup setahun setelahnya?” mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Bukankah ia mendapatkan bulan Ramadhan dan berpuasa? Ia juga telah mengerjakan shalat ini dan itu dengan beberapa sujud dalam setahun?” mereka menjawab, “Ya.” Rasulullah ﷺ kembali bersabda: “Sungguh, sangat jauh perbedaan antara keduanya (dalam kebajikan) bagaikan antara langit dan bumi.”

Luar biasa! Memang benar kalau hanya dilihat dari sisi sebelum orang yang rajin beribadah itu meninggal terlebih dahulu. Yang luput menjadi perhatian kebanyaka orang adalah rupanya pada tahun itu, orang yang dikatakan tidak lebih rajin dari yang pertama ini, masih diberi kesempatan oleh Allah untuk beribadah.

Di samping itu, dia masih mendapat kesempatan untuk berjumpa dengan  bulan Ramadhan sebelum meninggal dunia.

Ketika orang-orang hanya melihat masa lalunya, maka Nabi Muhamamd membuka sisi lain orang ini yang jarang diperhatikan bahwa waktu yang diberikan Allah hingga berjumpa Ramadhan tidak disia-siakannya.

Dan Ramadhan terakhirnya itu diisi dengan sebaik-baiknya, sehingga tidaklah mengherankan jika dia terlebih dahulu bisa masuk surga dibanding yang pertama. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apa yang dikatakan oleh Nabi ﷺ:

فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Sungguh, sangat jauh perbedaan antara keduanya (dalam kebajikan) bagaikan antara langit dan bumi.”

Maka dari itu, bagi yang masih diberi kesempatan hidup hingga Ramadhan tiba, maka sangat dianjurkan untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Dan sebagaimana kisah  orang kedua dari Suku Bali itu, jadikan seolah-olah ini adalah Ramadhan terakhirmu, sehingga yang akan dipersembahkan kepada Allah adalah amal ibadah kualitas terbaik sepanjang hayat.

Demikianlah orang beruntung yang mendapat kesempatan bersua Ramadhan. Baginya selagi masih hidup, maka nilai-nilai Ramadhan akan senantiasa dijaga.

Dan kalau berjumpa Ramadhan, maka kesungguhannya kian meningkat seakan-akan itu adalah Ramadhan terakhirnya. Ia menghayati betul perkataan orang saleh terdahulu:

صم الدنيا واجعل فطرك الموت الدنيا كلها شهر صيام المتقين يصومون فيه عن الشهوات المحرمات فإذا جاءهم الموت فقد انقضى شهر صيامهم واستهلوا عيد فطرهم.

“Berpuasalah sepanjang di dunia, dan jadikan berbukamu adalah saat mati. Dunia seluruhnya adalah bulan puasa bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka berpuasa dari syahwat, yang diharamkan. Maka ketika kematian telah datang, maka habislah bulan puasa mereka, dan mereka mulai (menyambut) Idul Fitri mereka (di akhirat).” (Ibnu Rajab, Lathā`ifu al-Ma’ārif, 2004: 147)

Secara filosofis, ungkapan ini bisa dimaknai bahwa selama di dunia, maka harus pandai menahan diri dan tidak memperturutkan hawa nafsu, sebab kemenangan sejati adalah ketika dua kaki sudah berpijak di surga. Dan momentum bulan puasa, sebagai waktu strategis untuk melejitkan amal dan menghayati filosofi ini.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlinePilihan RedaksiPuasaRamadhanRamadhan terakhir
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Saudia Airlines Sepajat Angkut 101.809 Jamaah Indonesia
Tulisan selanjutnya Empat Rumah Hancur dan Rusak Parah Akibat Petasan di Sumenep Madura

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Hikmah

Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba

5 Mei 2026 11:04
Jendela Keluarga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?

26 April 2026 14:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?