Sambungan artikel PERTAMA
Oleh: Alwi Alatas
DALAM beberapa riwayat tampak bahwa orang-orang badui sering menampilkan etika yang kurang baik serta kurang serius dalam agamanya. Satu riwayat dari Jabir al-Salami menyebutkan adanya seorang badui yang masuk Islam dan berbaiat pada Nabi, tapi kemudian terkena demam di Madinah. Ia datang lagi pada Nabi minta baiatnya dibatalkan, sampai tiga kali, dan tiga kali pula nabi menolaknya. Orang Arab badui itu akhirnya pergi meninggalkan Madinah. Berkenaan dengan ini Nabi berkata bahwa Madinah “menolak kotorannya dan membersihkan yang baik-baiknya” (HR Bukhari). Pada kesempatan lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk makan bersama enam orang sahabatnya, kemudian masuk seorang Arab badui dan menghabiskan makanan yang ada hanya dalam dua kali suapan. “Kalau saja ia menyebut nama Allah (membaca bismillah),” ujar Nabi, “tentu makanan ini akan cukup buat kalian semua.” (HR Tirmidzi, sebagaimana disebutkan dalam Riyadh al-Shalihin). Pernah ada seorang Arab badui mendatangi rumah Nabi dan mengintip pada celah pintu beliau. Nabi mengambil anak panah atau tongkat yang tajam dan mengarahkannya pada orang badui itu seolah-olah hendak mencungkil matanya. Si badui pun pergi dari tempat itu.” (HR Bukhari dalam Adab al-Mufrad).
Beberapa orang badui pernah berkata kepada Nabi – setelah tahu bahwa Nabi biasa mencium anak-anaknya – bahwa mereka tak pernah mencium anak-anak mereka. Nabi pun berkata, “Saya tak dapat melakukan apa-apa sekiranya Allah mencabut rasa kasih sayang dari hati-hati kalian” (HR Bukhari, Muslim). Begitu pula kisah yang cukup sering diceritakan tentang orang yang kencing di dalam masjid, ini pun dilakukan oleh seorang Arab badui. Beberapa orang hampir bangkit untuk memukulnya, tetapi Nabi menahannya. “Biarkan dia dan siramkan air ke atas bekas kencingnya. Kalian diutus untuk membuat mudah, bukan untuk membuat susah,” nasihat Nabi (HR Bukhari).
Terlepas dari karakternya yang cenderung kasar, ada juga orang badui yang jujur dan sungguh-sungguh dalam Islamnya. Dalam satu hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwa seorang badui bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tunjukkanlah pada saya amalan yang akan membuat saya masuk Surga jika mengerjakannya.” Nabi menjawab, “Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya, tegakkan solat lima waktu yang wajib, keluarkan zakat yang difardhukan, dan berpuasalah di bulan Ramadhan.” Orang badui itu kemudian berkata, “Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, saya tidak akan melakukan lebih daripada ini.” Setelah orang itu pergi, Nabi bersabda, “Barangsiapa yang suka melihat ahli Surga, maka hendaklah melihat kepada orang ini.” (HR Bukhari).
Ada seorang Arab badui lain yang masuk Islam dan menetap di Madinah. Ketika Nabi pergi berperang di Khaibar dan mendapatkan pampasan perang, Nabi mengutus sahabatnya untuk memberikan sebagian pampasan perang kepada orang badui ini. Saat pampasan perang disodorkan kepadanya, orang badui ini berkata, “Saya tidak mengikuti beliau untuk mendapatkan ini (pampasan perang), melainkan agar saya masuk Surga ketika ada panah yang menancap di sini.” Ia menunjuk ke arah tenggorokannya. Saat mendengar itu, Rasulullah bersabda, “Jika engkau berkata benar, Allah akan membuat hal itu benar-benar terjadi.” Beberapa waktu kemudian, ia menyertai jihad dan benar-benar mati syahid dalam keadaan lehernya tertancap oleh anak panah (Kandhlawi, 1989: 640-641).
Sebenarnya ada juga penduduk padang pasir yang dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namanya Zahir radhiallahu ‘anhu. Ia seorang yang buruk rupa, tetapi Nabi menyintainya. Bila ia berkunjung ke Madinah, ia akan membawakan hadiah dari daerah gurun untuk Nabi, dan saat ia hendak kembali pulang, Nabi pula membalas dengan memberi perbekalan dari kota Madinah. Pada suatu hari, Nabi melihatnya sedang sibuk berniaga. Nabi menghampirinya dan mendekapnya dari belakang sementara ia tidak melihatnya. “Siapa ini? Lepaskan saya,” kata Zahir. Ia berputar sedikit ke belakang dan melihat bahwa ternyata Rasulullah yang telah mendekapnya. Ia pun tidak lagi berusaha melepaskan pelukan Nabi dan membiarkan punggungnya menempel pada dada Nabi lebih lama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata kepada orang-orang di sekitar tempat itu, “Siapa yang ingin membeli budak ini?” Zahir pun berkata, “Wahai Rasulullah, engkau akan mendapati saya tidak laku di jual.” Tetapi Nabi berkata kepadanya, “Namun di sisi Allah engkau bukan seorang yang tidak bernilai,” atau Nabi berkata, “Engkau berharga di sisi Allah.” (Al-Tirmidzi, 1988: 113).
Secara umum orang-orang Arab badui pada masa itu memiliki beberapa karakteristik yang kurang ideal. Kehidupan nomadik dan badāwah kurang begitu disukai di dalam Islam, walaupun juga tidak dilarang. Sebaliknya kehidupan urban dan perkotaan lebih disukai dan lebih sejalan dengan aspirasi Islam, bukan dalam arti yang hingar bingar, mewah berlebihan, dan individualis, tetapi lebih kepada adanya nilai lebih dalam hal ilmu, iman, dan adab. Kehidupan badāwah ketika itu dipandang kurang ideal karena banyak masyarakatnya yang kurang memperhatikan agama dan kurang memiliki adab yang baik. Walaupun begitu, pola hidup gurun pasir tidak dimusuhi atau didiskriminasi oleh masyarakat Muslim urban, melainkan disikapi dengan sabar ketika dijumpai kekurangan, dilindungi hak-haknya, sementara mereka berproses menuju pada taraf kehidupan dan kebudayaan yang lebih maju.
Akhirnya, ketika seorang badāwah tampil dengan karakteristik yang lebih baik daripada sebelumnya, atau daripada kebanyakan sejawatnya, terutama dalam hal iman dan adab, maka sebenarnya ia tidak berbeda dengan masyarakat urban yang baik. Mereka bersaudara dan saling memberikan hubungan timbal balik yang positif, dipenuhi rasa cinta dan percaya. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang lelaki gurun yang dicintainya itu ketika beliau suatu kali berkata, “Sesungguhnya Zahir adalah padang pasir kami, dan kami adalah kotanya.”. */Kuala Lumpur, 24 Rabiul Awwal 1437/ 4 Januari 2016
Penulis buku-buku sejarah pahlawan Islam
Daftar Pustaka
Haekal, Muhammad Husain. Abu Bakar as-Siddiq yang Lembut HatiL Sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi (diterjemahkan oleh Ali Audah), cetakan ketiga. Jakarta: Litera AntarNusa. 2003.
Hitti, Philip K. History of the Arabs: From the Earliest Times to the Present, revised tenth edition. Houndmills: Palgrave Macmillan. 2002.
Ibn Khaldun. The Muqaddimah: An Introduction to History (diterjemahkan oleh Franz Rosenthal). Princeton: Princeton University Press). 2005.
Ibn Mandzur. Lisan al-‘Arab. Kairo: Dār al-Ma’ārif. 1119 H.
Kandhlawi, Maulana Muhammad Yusuf. Hayatus Sahabah: The Lives of the Sahabah (diterjemahkan oleh Dr. Majid Ali Khan), vol. 1, second edition. New Delhi: Idara Isha’at-E-Diniyat. 1989.
Kister, Meir, “Mecca and the Tribes of Arabia: Some Notes on Their Relations” dalam M. Sharon (ed.). Studies in Islamic History and Civilization in Honour of Professor David Ayalon. Jerusalem: Cana and Leiden: E.J. Brill. 1986.
Al-Thabarī, Ibn Jarīr. Tafsīr al-Thabarī, jil. 14. Kairo: Maktabah Ibn Taimiyah. 1374H.
Al-Tirmidzi, Syama’il Muhammadiyya, cetakan ketiga. Beirut: Dār al-Hadīth. 1988.
Wehr, Hans. A Dictionary of Modern Written Arabic (edited by J. Miilton Cowan). Wiesbaden: Otto Harrassowitz. 1966.