Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Indahnya Persatuan: Saat NU dan Muhammadiyah Ajak Umat Islam Bersatu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Oktober 2024 15:17 3:17 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Oktober 2024 15:05
Bagikan
Seruan yang dimuat di Majalah Kiblat No. 3 (XIII/1966: 36)
Bagikan

Seruan bersama NU dan Muhammadiyah pada tahun 1966 adalah bukti nyata betapa pentingnya persatuan dalam menghadapi ancaman bersama

Hidayatullah.com | PADA tahun 1966, Indonesia berada di tengah-tengah periode transisi yang kritis setelah peristiwa kudeta yang gagal oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965.

Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, mengambil langkah penting untuk menyerukan persatuan umat Islam.

Seruan ini tidak hanya bertujuan untuk mengatasi perbedaan internal di antara umat Islam, tetapi juga untuk menghadapi ancaman eksternal yang mengancam kestabilan negara.

Berdasarkan seruan bersama yang diterbitkan dalam Majalah Kiblat No. 3 (XIII/1966: 36), NU dan Muhammadiyah yang diwakili oleh KHM. Dachlan dan Subchan ZE dari PBNU serta Prof. H. Farid Ma’ruf dan H. Marzuki Jatim dari PP Muhammadiyah, menyerukan kepada seluruh anggotanya untuk menggalang persatuan yang kuat dan menghilangkan prasangka buruk.

Baca Juga

KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

Mereka menekankan pentingnya memupuk prasangka baik (husnudhdhon) dan menyelesaikan perbedaan pandangan melalui musyawarah, sesuai dengan prinsip ukhuwah Islamiyah.

Dalam seruan tersebut, NU dan Muhammadiyah menyatakan bahwa peningkatan aktivitas politik oleh sisa-sisa Gestapu/PKI dan kaum vested interest dari orde lama serta para petualang politik yang mencoba memecah belah persatuan progresif revolusioner adalah ancaman serius.

Untuk menghadapinya, mereka mengajak seluruh umat Islam untuk bersatu dalam Front Pancasila dan ABRI, waspada terhadap unsur pemecah belah, dan menjaga persatuan nasional.

Persatuan dalam Menghadapi Ancaman Bersama

Persatuan yang diusung oleh NU dan Muhammadiyah pada masa itu bukan hanya sekadar retorika, tetapi merupakan kebutuhan mendesak dalam menghadapi situasi politik yang genting. Kudeta yang gagal oleh PKI menimbulkan kekhawatiran akan adanya ancaman komunis yang terus membayangi, dan hal ini menjadi pemicu utama bagi kedua organisasi untuk menyatukan kekuatan.

NU dan Muhammadiyah memahami bahwa perpecahan di antara umat Islam hanya akan menguntungkan pihak-pihak yang ingin merusak stabilitas negara.

Oleh karena itu, mereka mengesampingkan perbedaan ideologis dan fokus pada tujuan bersama yaitu menjaga keutuhan negara dan melindungi Pancasila sebagai dasar negara.

Sikap ini menunjukkan kedewasaan politik dan kesadaran akan tanggung jawab besar yang mereka emban sebagai pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Seruan Bersama: Membangun Persatuan yang Kuat

Seruan bersama yang ditandatangani oleh para pemimpin NU dan Muhammadiyah mencakup beberapa poin penting yang menekankan pentingnya persatuan dan waspada terhadap ancaman yang merongrong negara. Berikut adalah beberapa kutipan dari seruan tersebut:

Pertama, Menghilangkan Prasangka Buruk: “Kepada seluruh warga Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah di seluruh Indonesia untuk menggalang persatuan yang bulat serta melenyapkan setiap perbedaan pandangan dan penilaian apabila ada dan menghilangkan segala macam su’udhdhon (prasangka buruk) serta memupuk husnudhdhon (prasangka baik).”

Kedua, Musyawarah untuk Menyelesaikan Perbedaan: “Menyelesaikan setiap perbedaan pandangan dan pendapat dengan musyawarah sesuai dengan ukhuwah Islamiyah.”

Ketiga, Meningkatkan Persatuan dengan Kekuatan Progresif Revolusioner: “Meningkatkan persatuan dengan kekuatan-kekuatan progresif revolusioner lainnya dalam rangka Front Pancasila dan ABRI.”

Keempat, waspada pemecah belah

Seruan bersama NU dan Muhammadiyah pada tahun 1966 adalah bukti nyata betapa pentingnya persatuan dalam menghadapi ancaman bersama. Dengan mengutamakan kepentingan nasional di atas perbedaan, kedua organisasi ini berhasil menggalang solidaritas umat Islam untuk menjaga stabilitas negara.

Persatuan semacam ini adalah pelajaran berharga bagi generasi berikutnya, bahwa di tengah perbedaan, kita tetap bisa bersatu untuk mencapai tujuan bersama demi kebaikan umat dan bangsa.

Seruan ini juga menunjukkan bahwa persatuan tidak hanya diperlukan dalam situasi krisis, tetapi juga harus dipelihara dan ditingkatkan dalam setiap aspek kehidupan.

Hanya dengan persatuan yang kokoh, kita dapat menghadapi berbagai tantangan dan membangun masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan negara.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineMuhammadiyahNUpersatuanPersatuan IslamPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kominfo jadi Komdigi, Tugasnya Melanjutkan Berangus Judi Online
Tulisan selanjutnya Proyek Masam Saudi Bersihkan 829 Ranjau di Yaman dalam Sepekan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’

Berita
13 Oktober 2026 13:01
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway
Bangun Sinergi Strategis, Hidayatullah Sumut dan Kadin Medan Jajaki Kolaborasi Penguatan Ekonomi Serta SDM
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi

Terbaru

  • Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’
  • PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak
  • Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi
  • Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan
  • Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway
  • Serangan Drone Paramiliter Sudan Tewaskan 41 Orang Dekat Perbatasan Ethiopia
  • ‘Israel’ Klaim Tutup Konsulat Inggris dan Usir 20 Stafnya
  • Bangun Sinergi Strategis, Hidayatullah Sumut dan Kadin Medan Jajaki Kolaborasi Penguatan Ekonomi Serta SDM
  • Arab Saudi: Tiga Orang Tewas dalam Serangan di Bandara Internasional Riyadh
  • Bantah Pakai RS untuk Aktivitas Militer, Hamas: Tuduhan Palsu ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?