Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Akhir Tragis Sang Penista

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 November 2016 11:24 11:24 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 November 2016 11:24
Bagikan
Talqin Mayit
ilustrasi: kuburan
Bagikan

Oleh: Mahmud Budi Setiawan

 

PADA zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ada dua orang penista yang seringkali disalahpahami karena kemiripan keduanya. Orang yang pertama pada akhirnya bertaubat dan masuk Islam dengan baik. Sedangkan yang satunya, murtad dan mati secara mengenaskan.

Pertama, adalah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Kedua, tidak diketahui namanya, tapi berasal dari Bani Najjar yang beralih ke agama Nashrani.

Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Ibnu Abi Sarh (saudara sesusu Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu) awalnya adalah seorang musyrik. Setelah hidayah Allah subhanahu wata’ala masuk ke dalam lubuk hatinya, dia pun memeluk Islam (sebelum Perjanjian Hudaibiyah). Tugas mentereng pun diembannya. Ia dijadikan sebagai salah seorang penulis wahyu.

Ketika menulis wahyu, ada yang disalahpahami oleh Ibnu Abi Sarh. Saat Rasul mendiktekan kata  as-sami’ al-‘alim, Abdullah menulis al-‘alim al-hakim. Nabi pun mengomentari, memang Allah memiliki sifat demikian. Namun, ia salah paham. Dikiranya nabi membenarkan dirinya merubah al-Qur`an. Padahal nabi ingin menunjukkan bahwa itu memang termasuk dari al-asma al-husna. Pada suatu malam ia pergi diam-diam ke Makkah kemudian murtad dan mengatakan kepada mereka bahwa dirinya telah mendistorsi al-Qur`an.

Menurut Ath-Thabari Surah Al-An’am, ayat 93 turun berkaitan dengan Ibnu Abi Sarah dan Musailamah bin al-Habib (Jāmi’ul Bayān fī Ta`wīli al-Qur`ān, 11/536).

Syaikul Islam, Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya yang berjudul al-Shārim al-Maslūl ‘Ala Syātimi al-Rasūl (Hal: 115) menyebutkan secara jelas kesalahannya.

Dari beberapa riwayat yang dihimpun, bisa diketahui bahwa Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh berdusta atas nabi. Dirinya beranggapan telah menyempurnakan wahyu nabi sehingga ia bisa menulis apa saja yang dikehendaki, ini karena dia merasa disepakati dan dibiarkan nabi. Sampai ia beranggapan akan turun wahyu kepada dirinya.

Perbuatannya ini jelas mencela Rasulullah dan kitabnya yang bisa membuat keraguan kepada kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pada masa Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah 8 H) sebenarnya Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam meminta sahabat untuk mencari dan membunuhnya. Namun tidak jadi karena mendapat ijarah (suaka) dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ditambah lagi ketulusan hati untuk bertaubat. Akhirnya taubatnya diterima dan melaksanakan keislaman secara baik. Pada zaman kekhilafaan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu ia menjadi Komandan Angkatan laut, serta berperan serta dalam jihad di benua Afrika dan Laut Mediterania.

Orang Nashrani yang Masuk Islam Kemudian Murtad

Orang kedua asalnya beragama Nashrani. Berasal dari kalangan Bani Najjar, masih sesuku dan kerabat Annas bin Malik. Pasca keislamannya, ia mendapat amanah untuk menulis wahyu, sebagaimana Ibnu Abi Sarh. Di mata sahabat, orang ini begitu dikagumi karena telah menghafalkan Surah Al-Baqarah dan Ali Imran. Waktu itu, siapa saja yang bisa menghafal keduanya sangat dihormati dan dikagumi.

Parahnya, dia murtad, kembali ke agama Nashrani dan menceritakan bahwa,  “Muhammad tidak mengerti apa-apa, melainkan apa yang aku tulis.”

Dalam riwayat Abu Daud Ath-Thayalisi dijelaskan, jika Rasul mendiktekan kata sami’an bashiran, oleh dia ditulis sami’an ‘aliman. Jika didektekan kata sami’an ‘aliman, maka ia tulis sami’an bashiran. Dia merasa telah membodohi Muhammad dengan melakukan perbuatan tersebut.

Setelah murtad, menista nabi, al-Qur`an dan tidak mau bertaubat, Allah menimpakan kepadanya balasan yang mengenaskan. Seketika dia dimatikan Allah subhanahu wata’ala.

Mirisnya, setiap kali jasadnya dimakamkan, maka dimuntahkan oleh bumi. Seolah-olah bumi menolak jasadnya. Sampai-sampai mereka (kawan dari orang Nahsrani yang mati ini) menyangka bahwa yang mengeluarkan jasadnya dari kubur adalah sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kisah ini bisa dilihat dalam riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud Ath-Thayalisi, Baihaqi, dan Ibnu Hibban.

Mensyukuri ‘Terplesetnya’ Lidah Sang Penista

Apa yang dialaminya sungguh luar biasa tragis. Biasanya orang murtad tidak sampai dihukum dengan hukuman seperti ini. Sebab, kesalahannya bukan hanya murtad, tapi juga menista nabi dan Al-Qur`an. Sebagaimana yang dicatat oleh Syekh Ibnu Taimiyyah dalam al-Shārim al-Maslūl ‘Ala Syātimi al-Rasūl (116, 117).

Di samping itu Syekh Ibnu Taimiyyah dalam kitab al-Jawābu al-Shahīh Liman Baddala Dīna al-Masīh (VI/296) memberikan penjelasan menarik dari sejarah mengenai penistaan terhadap nabi.

Dari pengalaman tentara umat Islam di Syam, jika mereka mengalami kesulitan mengepung benteng Ahlul Kitab, maka ditunggu sampai mereka menghina nabi. Saat terdengar hinaan kepada nabi maka benteng musuh bisa dijebol. Sebagai balasan dari Allah, sesuai dengan Surah Al-Kautsar, ayat tiga.

Pada kasus lain, ketika Kisra (Raja Persia) menyobek-nyobek surat nabi, maka Allah hancurkan kekuasaannya. Sedangkan ketika Heraclius dan Muqauqis menghormati surat nabi, maka kekuasaan mereka masih tetap. Ini menunjukkan bahaya penistaan kepada nabi, al-Qur`an dan Islam.

Pelajaran berharga dari kedua kisah ini ialah: Pertama, hati-hatilah terhadap penistaan, baik itu kepada nabi, kitab suci dan Islam. Kedua, akhir yang tragis akan dialami oleh penista. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang Nashrani.

Ketiga, bagi setiap penista, segera bertaubat sebelum terlambat. Dengan bertaubat, kembali ke Islam, maka dosa-dosa di masa lalu akan dihapuskan, sebagaimana hadits berikut:

إِنَّ الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ

“Sesungguhnya Islam menghapus (dosa-dosa) yang telah terjadi di masa lalu.” (HR. Ahmad).*

Penulis alumni Al Azhar, peserta PKU VIII UNIDA Gontor 2014

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Akhir tragisbalasan mengenaskanditolak bumiFathu Makkahjasadmenista al-Qur`anmenista nabipembebasan kota Makkahsang penistan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dukung Aksi Bela Islam 212, PPMI Pakistan Desak Polri Proses Tersangka
Tulisan selanjutnya Tudingan Adanya Makar, Ratna Sarumpaet: Saya Pengen Tahu Itu!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad

Berita
14 Oktober 2026 16:55
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?