Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Benarkah Ratu Elizabeth II Keturunan dari Nabi?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Desember 2017 07:19 7:19 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Desember 2017 09:09
Bagikan
Bagikan

 

Oleh: Adi Zulfikar

 

LAMAN berita Observer pada Bulan Maret 2017 merilis sebuah artikel dari Persatuan Pers Internasional yang dikeluarkan pada tahun 1986. Isinya menerangkan bahwa Ratu Elizabeth II, merupakan keturunan ke-43 dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Berita ini pun kemudian diterjemahkan dan dipublikasikan juga di laman nasional republika.co.id pada tanggal 5 Desember 2017.

Rilis ini didasarkan pada catatan silsilah keluarga kerajaan yang diterbitkan oleh Burke Peerage (BP). BP sendiri telah menerbitkan catatan geneologi silsilah keluarga kerajaan yang otoritatif selama lebih dari 190 tahun. Keterangan tersebut bermula saat Harold Brooks-Baker, Direktur Penerbit Burke saat itu, menulis untuk Perdana Menteri Margaret Thatcher agar memberikan keamanan yang lebih baik untuk keluarga kerajaan. Ia mengatakan bahwa keturunan keluarga kerajaan yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassallam tidak dapat diandalkan untuk selamanya melindungi keluarga kerajaan dari “teroris Islam”.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Brooks-Baker mengatakan bahwa Keluarga Kerajaan Inggris merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad melalui Raja-Raja Arab yang pernah menguasai Sevilla. Melalui pernikahan, darah mereka mengalir ke Raja-Raja Eropa seperti Portugal dan Castilla sampai ke Raja Edward IV pada abad 15.

Kemudian disebutkan bahwa “Kekhalifahan Bani Umayyah, Khalifah Arab yang didirikan setelah wafatnya Nabi Muhammad, memerintah lebih dari 15 Juta km persegi dari Kaukakus (Eurasia) sampai ke Semenanjung Iberia. Khilafah Bani Umayyah kemudian jatuh setelah Revolusi Abbasiyah (661-750 M). Dinasti Abbasiyah dibentuk oleh Abu al-Qasim Muhammad Ibn Abbad yang diklaim oleh sejarawan sebagai keturunan langsung dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam melalui Fatimah.

Baca: Ketahuan, Ratu Elizabeth II Sembunyikan Harta di

Dari al-Qasim inilah, para sejarawan Barat mempercayai Ratu Elizabeth memiliki darah dari Nabi. Al-Qasim menguasai Sevilla hingga wafat pada tahun 1042. Cucunya, al-Mu’tamid menguasai Cordoba pada 1071 sekaligus menjadi pemimpin terakhir Abbasiyah. Tahun 1091, Abbasiyah jatuh ke tangan Dinasti Murabithun dan putri al-Qasim yang bernama Zaida melarikan diri ke Istana Raja Alfonso VI, Raja Leon, Castilla dan Garcia. Ia kemudian masuk Agama Katolik, berganti nama menjadi Isabella, dan menikah dengan Alfonso. Dari Zaida ini lah kemudian lahir keturunan yang menikah dengan putra Raja Edward III dari Inggris dan dari keturunannya lah lahir Ratu Elizabeth.”

Empat Kekeliruan Fatal

Banyak kekeliruan dalam penjelasan di atas. Kesalahan pertama, setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam wafat, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh Khulafaur-Rasydin, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan terakhir Hasan bin Ali. Kemudian Muawiyyah membentuk Khilafah Umayyah. Baru pada tahun 750 M, Khilafah Umayyah jatuh dan digantikan oleh Khilafah Abbasiyyah.

Kesalahan kedua,  Observer menyamakan Dinasti Abbasiyyah dengan Dinasti Bani Abbad. Padahal  Abbasiyah dan Bani Abbad adalah dua dinasti yang berbeda.

Pendiri Khilafah Abbasiyyah adalah Abdullah as-Saffah bin Muhammad, keturunan Abbas bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Sementara Abu al-Qasim Muhammad bin Abbad adalah penguasa Sevilla dari Bani Abbad pada masa Thawaif, yaitu masa setelah Bani Umayyah tidak lagi berkuasa di Andalus.

Bani Abbad sendiri tidak pernah menjadi kerajaan besar seperti halnya Khilafah Umayyah atau Khilafah Abbasiyyah.

Kesalahan ketiga,  berkaitan dengan Zaida yang disebut sebagai putri dari al-Qasim. Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, dalam  Qishotul Andalusi: min al-Fath ila as-Suquth, justru menyebutkan bahwa Zaida adalah seorang budak yang dinikahi oleh al-Ma’mun, anak al-Mu’tamid. Ia membelot dan menikahi Alfonso VI setelah Sevilla dikuasai Murabhitun. Ini berarti Zaida bukan keturunan asli Bani Abbad, apalagi keturunan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Tidak mungkin ada yang berani memperbudak keluarga Rasulullah sementara masih banyak ulama dan ahli nasab di zaman tersebut.

Dalam rilis tersebut juga disebutkan silsilah lengkap Ratu Elizabeth hingga ke Hasan bin Ali karena Zaida memiliki nasab yang tersambung hingga ke Zahra binti Husain bin Hasan bin Ali. Klaim ini juga bermasalah.

Selain status Zaida yang sudah dijelaskan sebelumnya, Prof. Dr. Raghib as-Sirjani juga menuliskan bahwa Bani Abbad berasal dari keturunan Suku Lakhm (yaitu Athaf bin Nu’aim yang disebut kakek dari seluruh Bani Abbad). Tidak diceritakan adanya hubungan pernikahan antara suku Lakhm dengan anak keturunan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang disebutkan dalam artikel bernama Zahra binti Husain.

Seandainya memang ada hubungan ini, pastilah akan dituliskan karena ini merupakan peristiwa penting dalam hubungan nasab. Asep Sobari, Peneliti Insists dan pendiri Sirah Community Indonesia (SCI), menyebutkan bahwa berdasarkan pendapat terkuat ahli nasab, dari 19 anak Hasan bin Ali, hanya 3 yang memiliki keturunan yaitu al-Hasan (al-Mutsanna) bin al-Hasan, Zayd bin al-Hasan, dan Umm Abdillah binti al-Hasan.

Baca: Sejarah Muslim Inggris yang Terlupakan

Sebagian ahli nasab lain yang meyakini al-Husain bin al-Hasan memiliki keturunan sekalipun tidak menyebut nama az-Zahra sebagai anak perempuannya.

Terakhir, Burke Peerage sebagai penerbit ternyata memiliki reputasi yang kurang baik. Laman Koran Independent dari Inggris mengutip pernyataan Antony Camp, Direktur Komunitas Geneologis, yang mengkritisi terbitan Burke Peerage.

Ia mengatakan “The World Book of Surname” hanyalah daftar alamat yang diambil dari daftar pemilihan umum, biasanya sudah kadaluarsa. Harold Brooks-Baker juga memiliki reputasi yang kurang baik. Laman Koran Berita Telegraph dari Inggris, menulis tentangnya sebagai seorang jurnalis yang sering salah. The Guardian pun menyebutnya sebagai seorang yang sok tahu.

Dari analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa klaim tersebut masih simpang-siur alias kurang dapat dipercaya. Selain banyaknya kesalahan pada data yang disajikan, Burke Peerage dan direkturnya saat itu, Harold Brooks-Baker sendiri memiliki reputasi yang kurang baik. Wallahu ‘alam.* 

Penulis Pegiat Sirah Community Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AbbasiyahAbu al-Qasim Muhammad Ibn AbbadBani Abbadbani UmayyahBurke PeerageDinasti AbbasiyahHarold Brooks-BakerKerajaan Inggrisketurunan NabiMargaret ThatcherNabi MuhammadObserverRaja ArabRaja Edward IVRatu Elizabeth IIZaida
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Literasi di Indonesia Dinilai Berkembang Pesat
Tulisan selanjutnya Liberalisasi Pemikiran Jenis ‘Pembunuhan Akidah, Lebih Kejam dari Membunuh Manusia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Berita
1 September 2026 09:01
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?