Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Buya Hamka Tetap Produktif Menulis Walau Sakit

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 11 Juni 2020 07:56 7:56 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 11 Juni 2020 07:56
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | BIASANYA, sakit sering dikambing hitamkan orang untuk berapologi: tidak produktif dalam menghasilkan karya tulis. Namun, semua itu akan sirna di hadapan sosok sekaliber Buya Hamka.

Sudah umum diketahui beliau adalah salah satu tokoh Islam yang sangat produktif dalam menulis buku. Menariknya, produktifias beliau dalam tulisan, tidak dibatasi oleh usia senja atau sakit yang mendera.

Sebagai bukti sejarah, akan penulis nukilkan salah satu cerita Bapak M. Syarif Anwar yang mengisahkan kenang-kenangannya saat bersama Hamka di Panji Masyarakat dalam buku “Perjalanan Terakhir Buya Hamka” (1982: 205). Kita simak penuturannya secara singkat.

“Yang sangat mengagumkan, dalam usia lanjut dan kesibukkan seberat itu Buya masih produktif dalam tulisan-tulisannya. Belum lagi ceramah-ceramah yang sangat enak dan mengsyikkan untuk didengar. Ingatan Buya sangat tajam. “Pernah suatu kali ketika beliau sakit, saya dipanggilnya. Dalam keadaan sakit dan berbaring di tempat tidur, Buya mendiktikan artikel “Islam dan Nasionalisme Indonesia” untuk dimuat di Panjimas. Matanya terpejam menahan sakit, tetapi bicaranya lancar dan sistematis.”

Ia melanjutkan, “Saya sampai terheran-heran dibuatnya. Artikel “Islam dan Nasionalisme Indonesia” yang bagus itu adalah produk dari renungan Buya yang waktu itu sedang sakit dan berbaring di tempat tidur…..” –Selesai Nukilan—

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Perhatikan bagaimana usia senja dan sakit yang membuat Buya sampai berbaring di tempat tidur, tidak menghalangi beliau untuk menjadi penulis produktif. Oleh karena itu, para penulis muda atau yang baru meniti dunia tulis-menulis agar meneladani beliau, bahwa penyakit bukanlah penghalang untuk produktif.

Dua ulama generasi tempo dulu ini bisa juga dibuat semacam tambahan pelecut semangat. Mungkin di antara kita ada yang mengenal ulama tafsir kawakan Ibnu Jarir Ath-Thabari. Beliau ini, dikaruniai Allah usia hingga lebih dari 80 tahun.

Di antara hal yang sangat menarik dari lembaran emas hidup beliau adalah menjelang wafatnya. Pada waktu itu ada salah seorang ulama yang sedang membesuknya.

Rupanya, ulama itu  bukan sekadar menjenguk, tapi juga menyampaikan satu hadits Nabi ﷺ yang belum pernah didengar oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari.

Dengan lekas beliau mengambil kertas dan pena di bawah ranjangnya. Kemudian hadits yang disampaikan oleh rekannya itu langsung ditulis seketika itu juga, walaupun dalam kondisi sakit menjelang meninggal dunia.

“Sobat! Dalam kondisi seperti ini kamu masih menyempatkan menulis?” tanyanya keheranang.

Namun, yang luar biasa jusrtu jawaban Ibnu Jarir, “Manusia harus tetap menuntut ilmu hingga meninggal dunia, bahkan sampai akhir ajalnya.” Lihat bagaimana sakit tidak menghalangi beliau untuk menulis.

Bahkan sebelum beliau sosok sekaliber Sufyan Ats-Tsauri pun telah melakukan hal yang sama. Dikisahkan bahwa menjelang wafatnya, beliau masih menyempatkan diri untuk menulis suatu permasalahan tentang masalah keilmuan.

Apa yang dilakukan menimbulkan kekhawatiran rekan dan keluarganya sehingga mereka menegur Imam Sufyan Ats-Tsauri. Namun, beliau tetap saja menulis sembari menandaskan, “Aku akan tetap menulisnya. Jika aku masih diberi kesempatah hidup, maka aku telah melakukan dan menulis kebaikan. Jika ternyata aku wafat, maka aku telah meninggalkan kebaikan dan ilmu yang bisa diambil manfaatnya (oleh orang).”

Mendengar kisah-kisah semacam ini, maka kita malu sendir. Baru sakit biasa, atau kadang terkendala dengan fasilitas untuk menulis kadang sudah merasa terhalangi sehingga tak melanjutkan menulis.

Membaca sejarah penulis besar sekelas Hamka dan ulama-ulama Islam dalam cerita tadi, ada mutiara hikmah yang terkandung: yang menghalangi orang untuk produktif menulis bukan karena sakit atau keterbatasan yang menderanya, tapi karena mental dan hatinya yang gampang menyerah dan buntu setiap kali mendapat rintangan dan halangan.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:budaya menulisBuya Hamkaketeladananmenulis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Islam Bicara Soal Perempuan
Tulisan selanjutnya Jalan Pulang: Untaian Mutiara tentang Menjalani Kehidupan Sejahtera

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Amerika Serikat Menjatuhkan Sanksi Baru Berkaitan Iran Menyusul Serangan di Selat Hormuz

Berita
11 Juli 2026 16:47
MUI Jabar Berencana Bentuk Satgas dan Posko Anti LGBT, Terima Dukungan Puluhan Ormas dalam Audiensi
Laporan Pesawat Kepresidenan AS Hadiah Qatar Bermasalah Berujung Pemanggilan Jurnalis New York Times
Serukan Balas Dendam untuk Ali Khamenei, Lautan Pelayan Serukan Kematian Trump
Kisah Yono, Tangan Kanan Ustadz Adi Hidayat yang Ogah Jadi Komisaris

Terbaru

  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
  • ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
  • Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
  • Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
  • Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat
  • Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?