Oleh: Ahmad Kholili Hasib
Hidayatullah.com | PADA BULAN Februari 2020, terbit buku puisi bertajuk “Jalan Pulang” ditulis oleh Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud. Atau akrab dipanggil Prof. Wan. Seorang ilmuan Malaysia bidang pemikiran Islam, peradaban dan filsafat pendidikan.
Sebelumnya, Prof. Wan telah menerbitkan karya puisi-puisinya dalam tajuk “Mutiara Taman Adabi” pada tahun 2003, dan pada tahun 2004 terbit lagi karya puisi yang diberi tajuk “Dalam Terang”. Karya-karya seperti ini menunjukkan bahwa, Prof. Wan memiliki kemampuan sastra puisi Melayu yang kuat.
Tetapi, kekuatan karya pusi Prof. Wan tidak di situ. Namun, rangkaian kalimat puisi-puisi ini ditulis dalam kerangka Pandangan Alam (worldview) dan Peradabannya. Prof. Wan bicara tentang kehidupan dunia, sejarah, nasib dan kemajuan suatu bangsa, politik, filsafat dan lain-lain itu dari kerangka ini dan secara komparatif.
Ada 71 tajuk puisi di dalamnya. Tetapi secara umum membincangkan tentang jalan apa dan bagaimana yang tepat dalam menapaki kehidupan. Oleh karena itu diperlukan peta. Di katakan dalam prakata buku bahwa untuk perjalanan besar seperti ini, kita harus memiliki peta yang jelas, jalan terbaik, petunjuk-petunjuk yang tidak mengelirukan, bulan, bintang dan lampu yang terang.
Apa maksud Jalan Pulang? Prof. Wan menjelaskan, semua manusia akan pulang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, baik kita bersedia pulang atau tidak bersedia, cepat atau lambat, dalam keadaan susah atau bahagia. Semua pasti akan pulang. Adapun tujuan akhir perjal anan hidup manusia beriman adalah kembali kehadiran Allah Swt dengan mendapatkan ridha-Nya.
Selain peta kebenaran, diperlukan persiapan sikap. Akar sikap dan prilaku dalam setiap sudut kehidupan kita tidak keliru. Beliau menulis: “Siapkan semua bekalan. Berpandulah pada bintang-bintang. Perhatikan tanda-tanda di kiri-kanan. Kembangkan bangga makna diri. Hilangkan asap keliru di hati. Satukan saf-saf para pejuang. Jangan terusan dipermainkan orang (hal. 1).
Rangkaikan kalimat ini memberi petunjuk penting agar manusia iman tidak menggunakan kerangka berfikir orang ‘asing’ dalam memaknai diri, bangsa dan sejarah. Harus menggunakan kerangka berfikir yang sudah terang dan jelas yang dibangun oleh Nabi Muhammad, diteruskan oleh para sahabatnya dan diwariskan kepada para ulama dan pemimpin semua institusi otoritatif.
Karena itu, dalam puisinya ini beliau memberi peringatakan agar para ahli ilmu dan pemimpin sebagai penjaga bangsa jangan lalai, agar tidak kehilangan harapan masa depan. Jangan sampai harta ilmu lepas dari genggaman anak keturunan kita. Akibat para ahli itu lalai, maka akan terjadi, “Anakmu dan sepuluh keturunan. Tiada harapan masa depan. Kolam dan kepuk warisan. Sudah terlepas dari genggaman”.
Berbagai macam masalah-masalah lain yang timbul yang ikut merugikan masa depan antara lain; pertikaian antar saudara dan antar pemimpin. Prof. Wan menuliskan dalam puisi berjudul “Kerugian”. Diungkapkan antara lain adalah perpecahan. Baik perpecahan antara ulama, pemimpin dan ahli ilmu. Lembaga pendidikan tidak berfungsi mengajarkan adab. Mereka berlomba menjadi ketua, dan pemimpin. Ini masalah dalam umat Islam.
Disinggung pula masalah yang berasal dari cara berfikir asing. Menciptakan tuduhan-tuduhan tidak tepat. Seperti jika mempertahankan kebenaran ketika Tuhan dihina, agama diamalkan dituduh konservatif. Di saat lain atas nama toleransi dan kebebasan berbicara membiarkan agama dan Tuhan dihina. Seperti ditulis dalam tajuk Kenapa Begitu Sekali.
Menarik ketika puisi “Jalan Pulang” menjelaskan masalah epistemologis dan pemikiran pelik dengan bahasa puitis dan pemilihan kata bahasa Melayu yang kuat. Seperti ditulis dalam tajuk “Budaya Dungu”. Di dalamnya, diungkapkan masalah epistemolog Barat yang terlalu bertumpu pada data empirik dan sumber rasio, penyamaan Tuhan, menjatuhkan otoritas ulama dahulu (hal. 31). Prof. Wan menulis satu puisi berjudul “Inkar ilmu” (hal. 43). Tampaknya beliau menggambarkan sifat orang-orang yang keliru cara berfikir dan berilmunya. Di antaranya dicirikan ilmu dibatasi oleh hafalan kata-kata saja, tidak meresap sampai mempengaruhi adabnya. Ilmu diperjual belikan. Dihargai dengan harta. Di saat yang lain, ulama-ulama agung dijatuhkan kehormatannya.
Jika umat bersatu dengan memahami makna diri dan tujuan hidup sebenar maka akan menjadi kekuatan positif yang membina . Bisa menata pendidikan dengan rapi, membina lembaga yang bagus, kuat dan dihargai. Batu bata pun asalnya pasir, disatukan dalam acuan yang pasti, dibakar dalam api yang degil, mencapai tujuan yang lebih bererti. Demikian ditulis dalam tajuk “Perihal Pasir”.
Banyak kerugian yang didapat hanya dikarenakan mereka berpecah berdepat di dalam urusan-urusan remeh-temeh. Malah ulama-ulama besar dikecilkan. Bahkan dicela. Lupa bahwa ada masalah besar yang harus diselesaikan secara bersama-sama agar umat Islam tidak kehilangan identitas diri.
Sifat meremehkan orang besar, hasad, dan khianat pada amanah juga menjadi faktor kerusakan itu. Ulama besar dicari-cari kesalahan meski kecil kemudian dibahas seakan besar. Kata beliau, kekhilafan sedikit janganlah dibuat bukit. Sementara jasa agung ulama akhirnya terlupakan. “Pabila hati diasap hasad; Silap sekelumit diingat berabad, Setiap luka disiram cuka, Segunung jasa sengaja dilupa. Pulangkanlah amanah pada yang berhak. Teguhkan jiwa dengan ilmu al-haqq. Inilah problem yang disebut menjatuhkan otoritas. Kehilangan adab, yang akhirnya menjadi rusak perilaku beragamanya. Mata dan hati terhijab dari melihat kebenaran.
Puisi Jalan Pulang karya Prof. Wan ini kemudian mengungkapkan pentingnya maAkna diri. Supaya tidak lalai dan tertipu kepalsuan. Jumlah sedikit, jika masing-masing mengenal diri maka akan menjadi kekuatan luar biasa. Untuk itu, dalam puisi berjudul “Makna Diri” Prof. Wan menganjurkan untuk menghiasi diri dengan adab, menghapus kekeliruan yang dalam diri, membersihkan akal, sehingga tegaklah bangunan peradaban.
Puisi “Jalan Pulang” ini sejatinya mengajak untuk menyadarkan diri jiwa yang lalai melalui pengenalan diri. Sebab, pengenalan diri merupakan jalan mengenal kebenaran al-Haqq. Untuk menuju ke sana puisi ini beberapa kali menyinggung tentang usaha untuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Prof. Wan mengungkap penyakit membinasakan (al-muhlikah) dalam sejumlah puisinya. Seperti hasad, dengki, riya’, sombong, nifaq, dusta dan lain-lain.
Maka diperlukan adalah ahli ilmu yang mengamalkan ilmunya. Menyambung tradisi para ulama dahulu. Mereka para ahli ilmu yang ikhas, tidak mabuk kemasyhuran, tidak hasad kepada ahli ilmu yang lain. Tetapi, yang patut disayangkan adalah ada orang yang tidak menghargai ahli ilmu yang hidup di zaman ini. “Tiada tempat tidak terpakai. Guru diukur bagai niaga”, tulis Prof. Wan dalam puisi berjudul Guru di Zamanku.
Guru ahli ilmu di zaman ini diperlukan karena ia yang bisa menunjukkan peta hidup ini. Dengan mencurahkan segala kasih, dari lidah dan amal perbuatan, guru berupaya menuntut murid di tengah dunia yang tiada lampu penerang. Maka, sang guru ahli ilmu membawa lentera sehingga umat sampai pada tujuan hidup yang benar.
Walhasil, karya puisi ini kaya dengan nilai-nilai dan pelajaran. Dari mulai sejarah, politik, pendidikan, filsafat, peradaban, dan lain-lain. Semua diuraikan persoalannya. Kemudian disinggung jalan selamatnya. Prof. Syed M. Naquib al-Attas, dalam karyanya Risalah untuk Kaum Muslimin menjelaskan bahwa tujuan hidup dalam pandangan Islam merupakan cita-cita yang sifatnya tetap tidak berubah-ubah. Puisi “Jalan Pulang” ini merupakan renungan berisi ajakan untuk memperbaiki jiwa manusia agar berkembang dan maju, yakni perkembangan spiritual menuju maqam yang mulia. Sebagaimana dijelaskan juga oleh Prof. Al-Attas, bahwa kemajuan manusia itu dinilai dari perkembangan spiritual jiwa manusia yang taqarrub pada Allah Swt. Inilah puisi yang bermanfaat kandungannya bagi kita yang ini membangun peradaban mulia yakni harus terang dulu peta menuju cita-cita agung yaitu kebahagiaan (as-sa’adah) tidak lain dengan membangun manusianya.*
Bangil, 10 Juni 2020
Penulis adalah dosen IAI Darullughah Wadda’wah Bangil-Pasuruan