Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Zainatun Nahar Potret Istri Pejuang yang Tegar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Juni 2022 07:47 7:47 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Juni 2022 12:05
Bagikan
Bagikan

Sebagai istri dan ibu, Zainatun Nahar yang dikenal ulet dan kreatif dikenal sabar menemani Agus Salim dan mendidik anaknya semasa perjuangan

Hidayatullah.com | WANITA hebat ini dilahirkan di Kota Gadang pada 16 Desember 1893. Menikah dengan H. Agus Salim pada 12 Agustus 1912.

Beliau terhitung masih sepupu dengan Agus salim. Dari hasil pernikahan ini, lahir sepuluh anak dan ada dua yang meninggal saat kecil sehingga tersisa 8 anak.

Menarik untuk dicatat ketika membicarakan keluarga ini, meskipun Haji Agus Salim termasuk tokoh Islam besar di Indonesia dan kontribusinya juga tidak kecil, untuk agama, bangsa dan negara,  kehidupan rumah tangganya terbilang sangat sederhana, malah oleh orang kebanyakan dinilai melarat. Hidupnya berpindah-pindah dari kontrakan satu ke kontrakan lain.

Begitu sederhananya kehidupan yang dijalani bersama suami, sampai ketika ada anaknya yang meninggal dunia, tak mampu membeli kain kafan. Akhirnya, anak itu dikafani dengan taplak mejal dan kain kelambu.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Sebuah pemandangan yang mengiris hati, dari seorang yang kontribusinya cukup besar untuk bangsa dan negara semacam Agus Salim. Namun, semua dihadapi dengan tegar.

Mohamad Roem dan Kasman Singodimedjo menyaksikan sendiri betapa bersahaja dan sederhananya hidup kelurga ini. Pernah keduanya berkunjung ke rumah Agus Salim yang jalannya kalau hujan, becek berlumpur sehingga tidak bisa dilewati dengan sepeda.

Yang lucu, kalau dalam kondisi cerah bisa naik sepeda, tapi dalam kondisi hujan, sepedanya yang naik orang. Itu dialami oleh Kasman Singodimedji. Sampai muncuk kata-kata yang cukup terkenal dari bahasa Belanda menyikapi betapa sederhananya Agus Salim dan keluarga: “Leiden is lijden” (Memimpin itu menderita). Dan ini tergambar jelas dalam kehidupan Agus Salim dan keluarganya. (Catatan Moh. Roem, Memimpin adalah Menderita : Kesaksian Haji Agus Salim, dalam buku Manusia dalam Kemelut Sejarah, 1978: 103-104).

Suatu hari, saat anaknya meninggal, ketika ada yang ingin memberi bantuan untuk kafan anaknya, maka oleh Agus Salim ditolak secara halus dengan mengatakan kain yang baru bisa dipakai yang masih hidup, sedangkan untuk yang meninggal, biar kain bekas saja. Sebuah pernyataan yang tak kan lahir, kecuali dari keluarga yang tegar.

Kesusahan hidup tidak cukup sampai di situ. Suatu hari, Agus Salim mengajak istri dan anaknya ke tempat yang jorok dan kakusnya meluap. Melihat ini, karena tak tahan bau, Zainatun Nahar sampai muntah-muntah.

Kejadian seperti ini hampir mustahil terjadi pada era-era pejabat kontemporer. Semua dihadapi dengan tegar.

Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, Zainatun Nahar begitu ulet terampil dan kreatif. Beliau menemani Agus Salim untuk mendidik anaknya di rumah, tidak di sekolahkan di luar. Bisa dibayangkan, betapa repotnya mengurus pendidikan anak yang banyak dalam rumah.

Hanya satu yang disekolahkan ke sekolah negeri, yaitu si bungsu, Sidik Salim. Itu pun pasca kemerdekaan Indonesia.

Zaenatu Nahar menjalankan peran sebagai istri, ibu, pendidik dengan sangat baik. Semuanya dijalan dengan penuh ketegaran. Dalam keluarga ini, diterapkan pendidikan bebas, disiplin dan bertanggung jawab. Sejak awal anaknya, lahir sang istri sudah dianjurkan untuk membaca karena di kemudian hari akan mendidik anaknya sendiri sehingga membutuhkan wawasan yang memadai.

Dalam buku Hadji Agus Salim Pahlawan Nasional, (101) karya Solichin Salam disebutkan kalimat yang disampaikan oleh Agus Salim kepada istrinya sejak awal menikah, “Kamu mesti banyak membaca dan belajar. Sebab kalau nanti kita mendapat anak, kemungkinan tidak akan kita sekolahkan.”

Terlepas dari kesusahan yang dialami dalam menjalankan mahligai rumah tangga, keduanya tetap bisa menciptakan keharmonisan dan kemesraan keluarga. Menariknya, ketika usia pernikahan mencapai 50 tahun, kemesraan masih terpancar jelas.

Dalam suatu perjalanan, H. Agus Salim dan isteri menaiki taksi. Di dalamnya, antara kedua pasangan yang saling mencintai dan setia ini terjadi obrolan hangat, “Mace,” panggil Agus Salim kepada Zainatun Nahar, “Sudah 25 tahun yang lalu kita datang di Jakarta. Masih ingat itu’

“Tentu ingat,” jawab sang istri. “Oh, sudah lama benar. Tetapi agaknya seperti baru-baru saja,” respon H. Agus Salim. Tak sampai di situ, dalam kondisi yang dingin kala itu, beliau bertanya kepada Zainatun Nahar, “Mace, dinginkah? Mari kututup kakimu dengan mantel.“

Kemudian Agus Salim membuka mantelnya lantas menutupkan pada tangan dan kaki istrinya. Sebuah pemandangan romantis laiknya muda-mudi, padahal waktu usia pernikahannya sudah 50 tahun.

Inilah diantara rahasia mengapa Zainatun Nahar bisa tegar hidup bersama Agus Salim di tengah berbagai kekusahan hidup. Dia memiliki suami mesra, romantis, sayang isteri, ramah, bisa melucu, menggembirakan suasana dan mencintai istri sepenuh hati.

Kemesraan ini tetap terlihat sekalipun 26 hari menjelang wafatnya Agus Salim. Saat itu beliau (Agus Salim) merayakan usianya yang 70 tahun. Keduanya terlihat asyik bersanding bak pengantin baru. Orang yang melihat tidak akan menyangka, di balik pancaran wajah bahagia yang tampak dari kedua sejoli ini, telah terukir perjuangan, kesusahan, kemelaratam yang bisa diatasi bersama. Hidup boleh saja susah, tapi keharmonisan dan kemesraan tidak boleh tanggal dari rumah tangga.

“Teman hidup yang senantiasa menyertainya, baik di kala duka maupun di waktu suka. Suatu contoh yang patut dijadikan teladan bagi angkatan muda sekarang, maupun yang akan datang,” demikian Solichin Salam mencatat tentang Zainatun Nahar.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agus salimHaji Agus SalimPejuang KemedekaanZainatun Nahar
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Khutbah Jumat: Hikmah dan Keutamaan Berkurban
Tulisan selanjutnya timnas israel konstitusi Partisipasi Timnas Zionis ‘Israel’ ke Piala Dunia U-20 Indonesia Bertentangan dengan Konstitusi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?