Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Ramadhan dan Kemerdekaan Indonesia

Ahmad
Terakhir diupdate: 8 April 2023 09:47 9:47 am
Ahmad
Dipublikasikan 8 April 2023 09:45
Bagikan
Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada Ramadhan 1364 H - Agustus 1945
Bagikan

Dan pada Ramadhan 1364 H yang bertepatan dengan Agustus 1945, negeri ini pun merdeka!

Hidayatullah.com | BAGI bangsa Indonesia, Ramadhan adalah bulan sangat bersejarah. Di bulan Ramadhan inilah rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Lapar, haus, dahaga saat Ramadhan tak menghalangi perjuangan umat Islam dari masa ke masa memperoleh kemenangan. Dari Badar, Fathul Makkah, hingga kemenangan Ain Jalut terlakon pada bulan Ramadhan.

Dan pada Ramadhan 1364 H yang bertepatan dengan Agustus 1945, negeri ini pun merdeka! Pada bulan Ramadhan saat itu, berita menyerahnya Jepang memang simpang siur di Indonesia.

Bagi kaum yang memercayainya, khususnya para pemuda yang gejolak semangatnya sangat tinggi, menuntut segera para tokoh nasional seperti Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Namun, Soekarno-Hatta masih ingin memastikannya pada Jepang, berharap PPKI dapat berjalan sebaik-baiknya. Tentara Nasional PETA dan para pemuda seperti: Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni mendesak Bung Karno untuk bersua dengan masyarakat, memproklamasikan segera Republik Indonesia.

Para tokoh PETA dan pemuda ini sempat bersua dengan perwakilan ulama K.H. Abdul Mukti. Kiai Abdul Mukti merupakan Konsul Muhammadiyah yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Harian Masyumi di Jakarta.

‘Sebaik-baiknya memilih tanggal dengan segera ialah 9 Ramadhan, bertepatan dengan 17 Aqustus 1945/ kata, “ K.H. Abdul Mukti yang pernah mendekam satu sel dengan para pemuda seperti Soekarni dan Chaerul Saleh saat masa kolonialisme. (Ahmad Mansur Suryanegara  (dalam Api Sejarah).

Darah kaum muda yang bergejolak memang tak sabaran. Rakyat di mana-mana sudah turun ke jalan meneriakkan Indonesia Merdeka.

Soekarno dan Hatta masih  saja menanti petunjuk Jepang. Hingga akhirnya mereka ‘diculik’ ke Rengasdengklok, hingga kembali ke rumah Laksamana Maeda, 9 Ramadhan 1364 H, atau 16 Agustus 1945 malam hari. Di sana sudah berkumpul ratusan pemuda, puluhan anggota Tjoou Sang In yang berada di Jakarta juga anggota PPKI.

Saat itu, Hatta mengaku tak membawa pernyataan proklamasi yang sudah dibuat tanggal 22 Juni 1945.  “Kami duduk sekitar sebuah meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang pun di antara kami yang membawa dalam sakunya teks proklamasi, yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, “ kenang Hatta.

Setelah mencapai kebulatan tekad, semua bersepakat bahwa Soekarno-Hatta didaulat mengatasnamakan rakyat Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan pada pagi harinya, jam 10.00 di halaman rumah Bung Karno. Dalam suasana haru di bulan Ramadhan, mereka pun bersantap sahur bersama.

Laksamana Maeda tak menyediakan nasi. Hanya ada beberapa butir telur, roti, dan ikan sarden. Dengan lahap, mereka pun makan.

Mereka kemudian kembali ke rumahnya masing-masing. Usai shalat, Bung Hatta tertidur sejenak di rumahnya. Semburat pagi menyapa jalanan padat ibu kota.

Tentara Jepang mencium gelagat tak beres. Ratusan tentara PETA berdatangan ke Pegangsaan Timur.

Dalam buku Sekitar Proklamasi (1981) Bung Hatta mengatakan bahwa dirinya sempat diberi makan sahur di kediaman Laksana Maeda.

“Waktu itu bulan puasa. Sebelum pulang saya masih dapat makan sahur di rumah Admiral Maeda,” kenang Hatta.

Makanan itu telah disiapkan oleh Satsuki Mishina, selaku asisten rumah tangga Maeda dan satu-satunya perempuan yang ada dalam rumah tersebut. Dia membuat dan menyiapkan nasi goreng, telur dan ikan sarden.

Setelah selesai masak, jamuan segera dihidangkan kepada para tokoh perumus proklamasi. Tanggal 9 Ramadhan, pagi-pagi ada suasana yang begitu aneh. Suasana yang dinanti-nanti.

Berbilang abad, negeri impian itu kian dekat, jelas sekali depan mata. Piagam Jakarta yang tersimpan rapi selama 52 hari akan mulai di jalanan.

Kesepakatan Bapak-Bapak Bangsa akan syariat dapat segera mewujud. Darah para syuhada membanjir di penjuru negeri.

Api yang terus berkobar di pelosok negeri. Cahaya yang menyelusup anak-anak bangsa. Kini, negeri impian itu semakin dekat. Bangsa ini menyatakan kemerdekaannya!

Dalam suasana haru dan sangat sederhana, negeri ini diproklamasikan. Atas berkat rahmat Allah, negeri ini merdeka!

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Kemerdekaan yang sudah sepatutnya kita syukuri, terjadi pada tanggal 9 Ramadhan. Di bulan suci nan mulia ini, rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Bulan Ramadhan nan mulia benar-benar menjadi bulan kemenangan. Semoga Ramadhan kali ini, menjadi bulan kemenangan bagi kita, keluarga, masyarakat dan bangsa ini. Marhaban Ya Ramadhan!*/Rizki Lesus, wartawan, peminat sejarah)

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinekemerdekaan IndonesiaPilihan RedaksiRamadhanRamadhan 1364 H
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pentagon Selidiki Kebocoran Dokumen Rahasia Perang Ukraina
Tulisan selanjutnya Paus Fransiskus Basuh Kaki Narapidana Anak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon

Berita
17 Oktober 2026 09:35
Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?