Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Siti Raham Takdir Cinta Buya Hamka

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Januari 2024 10:14 10:14 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Januari 2024 10:13
Bagikan
[Ilustrasi] Buya Hamka dan istrinya Sitti Raham.
Bagikan

Banyak gadis pilihan Buya Hamka, ada Kulsum, Maryam, dan wanita Hijaz di rumah Syeikhnya di Makkah yang mendesaknya untuk menikah, tapi mengapa pilihannya jatuh Siti Raham?

Hidayatullah.com | PERNIKAHAN Haji Abdulmalik bin Abdulkarim Amrullah (HAMKA) dengan Siti Raham berlangsung pada tanggal 5 April 1929, di usia keduanya masih muda belia.

Hamka saat itu berusia 21 tahun dan istri berumur 15 tahun. Seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan rumah tangga yang pada awalnya melalui proses perjodohan atas inisiatif ayahnya, Syaikh Abdulkarim Amrullah, pada tahun 1928.

Hamka menyadari bahwa ternyata Siti Raham adalah takdir cinta sejatinya, sehingga tidak ada niat untuk menduakannya.

Padahal sebelumnya,  seperti diungkap Hamka dalam biografinya “Kenang-Kenangan Hidup” jilid I, saat di Padang Panjang dan ketika berlayar dalam perjalanan menuju Makkah pada bulan Pebruari 1927, kemudian bermukim di sana sekian bulan lamannya, kembali pulang ke tanah air dan menetap di Medan, telah ada wanita lain yang pernah hadir di hatinya.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Adalah gadis bernama Kulsum, dara Cianjur berusia 17 tahun yang berangkat haji bersama kedua orang tuanya. Ia terpesona kepada Hamka karena dikenal rajin mengumandang adzan setiap masuk waktu shalat dan suaranya yang merdu ketika membaca Al-Quran di atas kapal Karimata yang membawa mereka ke tanah suci.

Kulsum bahkan memanggil Hamka dengan sebutan “Ajengan”.  Ajengan adalah panggilan untuk orang terkemuka, terutama guru agama Islam.  

Pada tahun 1928, ketika pulang dari Medan bersama kakak iparnya Ahmad Rasyid Sutan Mansur dan baru sehari sampai di Maninjau, hari itu hari Jumat, setelah shalat Maghrib, adik ayahnya yang bernama Haji Yusuf  Amrullah mengajaknya bercakap empat mata di sudut Surau.

“Malik, obatlah hati Buya-mu, beliau sudah mulai tua. Engkau telah dipertunangkan dengan anak perempuan Endah Sutan, namanya Siti Raham!”.

Pikirannya melayang ke Kulsum. Terbayang pula Maryam, wanita Hijaz di rumah Syeikhnya di Makkah yang mendesaknya untuk menikah.

Melintas pula di ingatannya seorang gadis yang sama-sama berasal dari Maninjau dan telah lama menetap di Medan. Pada saat akan pulang ke Maninjau, gadis tersebut bertanya: “Jika Tuan Haji pulang, tentu tidak ada niatan akan balik ke Medan lagi, ya?.”     

“Ah, tentu saja kembali”, jawabnya.

“Jangan mendorong-dorongkan mulut, Tuan Haji, kampung kita “kramat”, balas wanita tersebut. 

“Kembali jugalah ke Medan, Haji, sebab ada orang yang menunggumu”, pesan kakak gadis itu.

***

Buya Hamka menuturkan cuplikan dialog dengan ayahnya pada tahun 1943 di Tanah Abang, Jakarta, setelah sebelumnya ayah Buya Hamka ini dibuang ke Sukabumi oleh pemerintah Belanda karena dianggap mengganggu stabilitas misi kolonialnya di Minangkabau :

“Pada suatu hari, ketika kami duduk bercengkerama bersama-sama, beliau bersenda-gurau, seraya berkata: “Engkau sudah seperti batu terbenam ke bencah, tidak timbul lagi. Isteri hanya satu. Apalah agaknya “ramuan” yang dimakankan isterimu kepadamu, sehingga engkau tidak berani beristeri seorang lagi?”.

Dengan gaya berkelakar Buya Hamka menjawab secara serius: “Ini  bukanlah soal ramuan atau soal pekasih (guna-guna). Soalnya ialah soal Abuya sendiri. Abuyalah dahulu yang mencarikan dan menetapkan dia menjadi isteriku. Rupanya Abuyalah yang memilih gadis yang ananda tidak sanggup menduakannya dengan yang lain.”

Kutipan dialog di atas diabadikan Buya Hamka dalam rubrik “Dari Hati ke Hati” di Majalah Panji Masyarakat edisi 95/1972 yang berjudul “Hj. Siti Raham: Dia adalah Obat Hati Ayahku.”

Begitulah penulis roman “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” ini menemukan kedamaian dan ketentraman hidup bersama Siti Raham yang dalam pergaulan hidup berumah tangga sampai wafatnya panggilan romantis Siti Raham untuk Buya Hamka adalah Engku Haji.

Buya Hamka mengenang pada saat beliau akan ditahan oleh rezim Orde Lama dan ketika akan berpisah untuk selamanya dengan wanita tangguh yang telah melahirkan 12 orang anak ini:

“Di waktu aku ditangkap dan ditahan (27 Januari 1964), dia meratap: “Bawo den Angku Haji, jan den ditinggalkan”. (Bawa saya serta Engku Haji, jangan saya ditinggalkan).”

“Bahkan 5 menit sebelum Siti Raham menghembuskan nafasnya yang penghabisan, dipegangnya tanganku dengan tangannya yang mulai kaku: “Beri maaf saya Engku Haji!….”.

Setelah merasakan bahwa saat ajalnya telah dekat, Siti Raham berucap: “Kalau saya meninggal lebih dahulu, apakah di akhirat kita kan bertemu kembali, Engku Haji?”.

Buya Hamka menjawab: “Aku akan berusaha supaya kita bertemu hendaknya di akhirat kelak!”.

“Mengapa begitu?”, tanyanya.

“Ada tersebut di dalam Sabda Nabi kita Muhammad ﷺ bahwa jika seorang perempuan meninggal dunia, sedang suaminya ridha kepada kesetiaannya dikala hidupnya, perempuan itu akan masuk Surga. Sebab itu, menurut hadits itu Ummi akan masuk Surga. Dan aku, kalau kau tinggalkan menyimpang dari jalan yang digariskan Tuhan, niscaya masuk Neraka. Sebab itulah jika aku engkau tinggalkan akan selalu berusaha sampai panggilan datang pula, agar tetap dalam iman dan istiqamah, agar kita dapat bertemu kembali,” jelas Buya Hamka.   

“Benar begitu…!”

“Benar……!”, jawab Buya Hamka.

Dan di menit-menit terakhir, pada saat pegangan tangannya dirasakan mulai melemah oleh Buya Hamka, ia meminta maaf: “…Angku Haji,……beri maaf saya.”    

“Janganlah disimpangkan ingatan kepada Engku Haji, luruskan ingatan kepada ALLAH !”, seru Buya Hamka kepada kekasih hati dan belahan jiwanya itu.

“…Allah…!”, ucapnya lirih.  

Tidak berselang lama, sampailah waktunya berpisah dengan Engku Hajinya untuk selama-lamanya pada hari Sabtu, 1 Januari 1972, jam 8.45 pagi, di kamar 6 Paviliun Cenderawasih Rumah Sakit Umum Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta.*/Roni Candra, Pegiat Pendidikan dan Sosial Kemanusiaan Yayasan Swadaya Ummah Pekanbaru  

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya HamkaHamkaHeadlineistri buta hamkaPilihan RedaksiSiti Raham
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perusahaan Pengiriman Kontainer Terbesar Dunia Maersk Setop Lewat Laut Merah
Tulisan selanjutnya Korban Kekejaman ‘Israel’ Capai 22 Ribu, Kemenag Gelar Doa Bersama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Label Teroris untuk Palestine Action Dibenarkan Pengadilan Banding Inggris

Berita
20 Juni 2026 10:49
Pentagon Perlu $80 Miliar untuk Tutup Biaya Perang Iran dll
Dicabut, Zelensky Kembalikan Medali Penghargaan dari Polandia
MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT
Gegara Perang Iran Saudi Aramco Pertimbangan Perluasan Kapasitas Penyimpanan di Luar Negeri

Terbaru

  • Ledakan di Fasilitas Gas Terbesar Qatar Merenggut 13 Nyawa
  • Turki Tangkap 209 Orang di Ankara Jelang KTT NATO
  • Prancis dan Jerman Sepakat Kelola Bersama Perusahaan Senjata KNDS
  • Serangan Islamofobia, Imam Masjid di Kanada Diserang usai Pimpin Shalat Berjamaah
  • Kabar Mualaf Giancarlo Esposito: Aktor “Breaking Bad” Dilaporkan Memeluk Islam di Saudi
  • Al Jazeera Desak Masyarakat Internasional Hukum ‘Israel’ usai Pembunuhan Jurnalisnya
  • Taliban Melarang Penggunaan Ponsel Pintar oleh Aparat Pemerintah
  • Gegara Perang Iran Saudi Aramco Pertimbangan Perluasan Kapasitas Penyimpanan di Luar Negeri
  • ISIS Klaim Serangan di Aleppo yang Tewaskan 2 Tentara Suriah
  • Produksi Minyak Iraq Diperkirakan Normal Dalam Dua Bulan

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?