Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Sayyidah Aisyah: Muslimah Intelek dan Kritis

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Januari 2021 10:33 10:33 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Januari 2021 10:33
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | Sayyidah Aisyah radhiallahu anha di masa jahiliyah yang nota benenya wanita masih dipandang sebelah mata. Bahkan bagi masyarakat pedagang dinilai sangat tidak menguntungkan, malah merugikan. Maka tidak heran jika para perempuan waktu itu pada akhir perjalanan hidupnya harus mengalami kematian tragis: dibunuh masih dalam kondisi bayi.

Berbahagialah para wanita yang dilahirkan pasca bimbingan Rasulullah ﷺ. Baik mereka yang dikaruniai anak secara normal maupun tidak. Laki-laki maupun perempuan mendapatkan perlakuan yang adil. Adanya keluhan “Bukanlah lelaki itu sama dengan perempuan” hanyalah refleksi manusia biasa yang pada zamannya masih mendewa-dewakan kelahiran anak laki-laki untuk dapat melanjutkan tampuk kepemimpinan bisnis atau dakwah di masa mendatang.

Di sisi lain, kondisi perekonomian keluarga sangat mempengaruhi aktivitas intelektual seseorang. Apa yang dikonsumsi juga sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sisi kognitif seseorang.

Aisyah Anak Bangsawan

Aisyah lahir lima tahun setelah masa kenabian. Ia putri Abu Bakar al-Shiddiq dengan Ummu Ruman. Abu Bakar sendiri telah memeluk Islam pada tahun pertama kenabian. Dengan demikian kelahiran Aisyah sarat diwarnai dengan tata cara yang Islami, mulai dari proses pembenihan sampai pasca neonatusnya. Jika kelahiran bayi dicetak dan diwarnai dengan cara yang Islami, insya Allah akan lahir dan berkembang menjadi generasi yang shaleh.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Ayahnyanya seorang bangsawan dan pebisnis sukses nan taat beragama. Maka sejak kecil aspek intelektualnya mulai terasah, celetukan dan responsipnya terhadap Barirah (sebagai baby sisternya) sangat mengagumkan. Sosok yang cerdas dan piawai yang tidak dimiliki oleh teman-teman sebayanya.

Bagi para pemerhati hadits, Aisyah bukan sekadar pakar menghafal hadits. Ia termasuk kategori al-muktrirun (yang banyak meriwayatkan hadits Nabi ﷺ). Bahkan ia sangat cerdas dalam memahaminya. Betapa banyak para sahabat yang hafal hadits, namun gagal faham sehingga dikoreksi oleh Aisyah.

Ambil sebuah contoh. Abdullah bin Umar yang meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Mayit disiksa lantaran ditangisi oleh keluarganya,” telah dikritik oleh Aisyah.

وَعَنْ عُرْوَةَ قَالَ: (ذُكِرَ عِنْدَ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ) (فَقَالَتْ: يَغْفِرُ اللهُ لِأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَمَا إِنَّهُ لَمْ يَكْذِبْ، وَلَكِنَّهُ سَمِعَ شَيْئًا فَنَسِيَ أَوْ أَخْطَأَ) (إِنَّمَا مَرَّتْ عَلَى رَسُول اللهِ صلى الله عليه وسلم جَنَازَةُ يَهُودِيٍّ, وَأَهْلَهُ يَبْكُونَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: أَنْتُمْ تَبْكُونَ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَيُعَذَّبُ) (بِخَطِيئَتِهِ وَذَنْبِهِ الْآنَ)

“Urwah berkata: (Disebutkan di sisi Aisyah bahwa Ibnu Umar berkata: ”Rasullullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya mayit disiksa dalam kuburnya karena ditangisi oleh keluarganya).’ (Maka Aisyah berkomentar: ‘Semoga Allah mengampuni Abu Abdurrahman -Ibnu Umar-. Sungguh ia tidak dusta, akan tetapi ia mendengar suatu sabda Nabi, lalu kadang lupa kadang salah). Waktu itu Rasulullah ﷺ sedang melintasi kuburan Yahudi, dan keluarganya menangisinya. Maka Nabi ﷺ bersabda: Kalian menangisinya, sungguh dia sedang disiksa (karena kesalahan dan dosanya).” (Riwayat Bukhari,  Muslim, Tirmidzi dan Nasai).

Dalam riwayat lain Aisyah berargumentasi dengan firman Allah SWT:

وَقَالَتْ: حَسْبُكُمْ الْقُرْآنُ: {وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى}

“Aisyah berkata, “Cukuplah bagi kalian firman Allah SWT. “Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” ( Al-An’am: 164).” (HR: 26481).

Sedemikian pula periwayatan Ibnu Umar terkait sabda Nabi ﷺ bahwa usia bulan Qamariyah hanya dua puluh sembilan, maka hal itu dikritisi oleh Aisyah bahwa sabda Nabi durasi bulan Qamariyah kadang dua puluh sembilan kadang tiga puluh hari.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لَا تَكْتُبُ وَلَا تَحْسُبُ، الشَّهْرُ كَذَا، وَكَذَا وَضَرَبَ الثَّالِثَةَ، وَقَبَضَ الْإِبْهَامَ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: غَفَرَ اللَّهُ لِأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّمَا هَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاءَهُ شَهْرًا، فَنَزَلَ لِتِسْعٍ وَعِشْرِينَ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ آلَيْتَ شَهْرًا، فَقَالَ: إِنَّ الشَّهْرَ يَكُونُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ

Abdullah bin Umar berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan berhitung, usia bulan itu begini, begini (dengan membuka semua jarinya) dan begini (untuk yang ketiga kalinya beliau melipat ibu jarinya, sehingga berjumlah hanya 29 hari).’ Maka Aisyah mengoreksinya: ‘Semoga Allah mengampuni Abu Abdurrahman. Kasusnya ketika Nabi meninggalkan para istrinya selama sebulan, ternyata beliau pulang pada hari yang keduapuluh sembilan. Para istrinya bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah tuan menginginkan selama satu bulan?” Lalu Nabi ﷺ bersabda: ‘Kadang durasi bulan hanya 29 hari.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah: 9609 dan Ahmad).

Catatan Akhir

Sikap kritis Aisyah terhadap periwayatan para sahabat bukan jarh pada nilai kredibilitasnya, melainkan sisi kecermatan, yang sebagaimana manusia kadang khilaf atau lupa. Begitulah sosok kepiawaian Aisyah dalam ilmu sehingga ia menjadi wanita terhormat. Setiap umat menyebut namanya, tak lupa ia mendoakan radhiyallah anha (semoga Allah meridhainya). Bukankah doa seperti ini yang diharapkan setelah manusia setelah kembali keharibaan-Nya?*/Zainuddin MZ, Direktur Turats Nabawi (Pusat Studi Hadits)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:'AisyahBunda AisyahIstri Nabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Polisi Banyak Dikecam, Bagaimana Polisi dalam Islam?
Tulisan selanjutnya Kapten Afwan Pilot Sriwijaya Dikenal Aktivis Masjid dan Donatur Pesantren, Jaga Pandangan dari Non-Mahram

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?