Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Tumbuhkanlah Rasa Takut pada Allah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Maret 2017 15:55 3:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Maret 2017 15:55
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

TAKUT kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah cara utama untuk menumbuhkan keikhlasan seseorang. Ia harus mendedikasikan dirinya kepada Allah dengan kecintaan yang mendalam setelah memahami kebesaran-Nya bahwa tidak ada kekuatan lain selain Allah.

Hanya Allah yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan dan yang memelihara makhluk hidup dengan penuh kasih. Dengan demikian, ia menyadari bahwa teman sejatinya di dunia dan di akhirat hanyalah Allah. Karena itulah, keridhan Allah adalah satu-satunya pengakuan yang harus kita cari.

Selain rasa cinta yang mendalam, rasa takut yang sangat kepada Allah, ditunjukkan pada firman Allah kepada manusia di dalam ayat-Nya untuk takut dan mengindahkan-Nya,

“…Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 203).

Rasa takut kepada Allah muncul dari pemahaman dan penghargaan akan kebesaran dan kekuatan-Nya. Seseorang yang memahami kebesaran kuasa Allah dan kekuatan abadi-Nya, akan mengetahui bahwa ia bisa saja menghadapi murka dan hukuman-Nya sebagai bagian keadilan Ilahi jika ia tidak mampu mengarahkan hidupnya sesuai dengan keinginan Allah.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Kesengsaraan yang disiapkan oleh Allah dalam kehidupan duniawi dan akhirat untuk mereka yang menafikan-Nya, dirinci di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Semua manusia diperingatkan untuk mewaspadai hal itu. Setiap mukmin sejati selalu menyadari akan hal ini.

Takut kepada Allah dilakukan agar ia selalu ingat bahwa kehidupan dunianya cepat atau lambat akan berakhir dan bahwa semua manusia pada akhirnya harus memperhitungkan perbuatan mereka di hadapan Allah. Jadi, ia akan selalu menyadari murka Allah. Kesadaran ini menyebabkan dirinya merasakan takut yang melekat saat menghadapi siksaan Allah dan karena itu ia berusaha menghindarinya.

Menahan diri berarti secara tegas menolak untuk melakukan hal-hal yang dilarang dan tidak diridhai Allah, dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan dalam memenuhi apa pun yang diperintahkan oleh Allah. Seorang mukmin yang ikhlas, merasa takut dan berhati-hati akan murka Allah.

Ia berhati-hati pada sikap apa pun yang tidak diridhai oleh-Nya dan berusaha menghindarinya. Sebagai contoh, ia akan menyadari jika sisi jahat jiwanya cenderung kepada keduniawian. Dalam kondisi demikian, ia akan memakai kekayaan dan kekuasaannya demi kepentingan Allah untuk mengendalikan kecenderungan batin tersebut. Ini adalah akhlak sejati yang paling sesuai dengan keihlasan.

Seseorang yang ingin mendapatkan keikhlasan, harus segera mengingat perintah Allah untuk “memberikan segalanya di jalan Allah” dan “takut kepada Allah sebanyak mungkin” untuk menghindari dirinya dari semua tingkah laku yang tidak disukai Allah.

Sebagaimana diperintahkan oleh Allah, ia harus berbuat untuk Allah, mengabaikan godaan sisi jahat jiwanya. Ayat berikut menyatakan,

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), orang-orang yang meminta-minta, (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177).

Allah memerintahkan manusia untuk takut kepada-Nya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah dan taatlah…” (QS. At-Taghaabun: 64).

Untuk menjalankan ayat tersebut, seorang mukmin tidak pernah merasa bahwa iman dan rasa takutnya kepada Allah telah cukup. Ia mencoba meningkatkan rasa takut dalam hatinya dan kekuatan untuk menahan diri hingga akhir hidupnya.

Berikut ini ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan mereka “yang hidup di dalam pengabdian kepada Tuhan”.

“Sesungguhnya, orang-orang yang takut kepada Tuhan-Nya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12).

“…dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d: 21).

Rasa takut dan keikhlasan kepada Allah kedua-duanya harus dipelihara. Mukmin sejati berusaha takut kepada Allah sebanyak mungkin untuk mengikuti ayat yang disebutkan di atas. Usaha-usaha ini juga merupakan bagian dari keikhlasan.

Jadi, orang-orang beriman dapat menjaga diri dan rasa takut kepada Allah, sebagaimana ditunjukkkan dalam ayat,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali-Imran: 102).

Orang seperti itu memiliki rasa takut yang mendalam kepada Allah. Tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk beribadah kepada Allah. Ia tidak akan pernah lupa bahwa Allah mendengar dan melihatnya, selalu dan di mana pun, baik sendiri maupun saat dikelilingi oleh orang banyak.

Ia melakukan sesuatu dengan memahami bahwa ia bisa saja berhadapan dengan siksaan Allah jika tidak berhasil mengadopsi perbuatan dan sikap yang baik. Ketika rasa takut kepada Allah yang dirasakan oleh seseorang meningkat, pemahamannya terus-menerus diperkuat. Jadi, ia tidak pernah mengorbankan keikhlasannya karena ia selalu ingat akan ancaman api neraka sepanjang hidupnya.*/Sudirman (dikutip dari buku Keikhlasan dalam Paparan Al-Qur’an, oleh Harun Yahya)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:keikhlasantakut Allah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ini Kata Menantu yang Gugat Ibu Rp 1,8 M di Garut
Tulisan selanjutnya Wasekjen MUI: Islam Mengatur Segala Hal Termasuk Urusan Negara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?