Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Empat Tingkatan Taubat Menurut Ghazali

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Mei 2017 12:59 12:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Mei 2017 12:59
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

IMAM Al-Ghazali mengungkapkan bahwa orang yang melakukan taubat itu dapat ditilik dari keadaan taubatnya dan sikapnya dalam empat tingkatan:

Pertama, seorang yang bertaubat dan terus tetap bertaubat hingga akhir usianya. Di dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan dosanya lagi. Tentu saja hal ini dikecualikan atas kesalahan yang menurut kebiasaan manusia tidak dapat menghindarinya. Inilah yang disebut istiqamah, kemantapan dalam taubatnya.

Taubat semacam ini dinamakan taubat nasuha, taubat yang mampu menasehati dirinya sendiri. Untuk selanjutnya tidak membuat pelanggaran lagi dengan keinsyafan yang sebenar-benarnya. Orang yang bertaubat seperti itu adalah orang yang memiliki jiwa yang tenang nafsul mutmainah.

Kedua, orang yang bertaubat tetapi belum dapat melepaskan diri dari berbagai dosa yang menghinggapinya. Dalam hatinya sama sekali tidak terketuk untuk berbuat dosa. Namun keadaan memaksa ia terjebak dosa. Saat dosa menghampirinya, saat itu pula ia bertaubat, dan benar-benar menyesalinya.

Jiwa orang semacam ini tergolongan nafsu lawwamah, jiwa penyesalan; jiwa yang selalu menyesal atas dosa yang dilakukannya. Padahal dosa itu sendiri bukan dorongan hati dan tidak ada kesengajaan sama sekali.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Taubat semacam ini tergolong taubat yang nilainya tinggi, tetapi lebih rendah mutunya dari taubat yang pertama. Dan taubat ini umumnya dilakukan oleh kebanyakan orang. Pelakunya berhak diberi janji baik dari Allah:

“Orang-orang yang mendapatkan kebaikan yaitu orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan beberapa kemaksiatan, kecuali yang hanya merupakan lintasan dalam hati. Sesungguhnya Tuhanmu adalah amat luas pengampunannya.” (QS. An-Najm: 31-32)

Oleh karena itu, maka segala yang terlintas dalam hati dianggap dosa kecil, yang bukan keinginannya sendiri. Kesalahan semacam ini dapat dimaafkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang memperoleh kebahagiaan ialah orang-orang yang apabila melakukan keburukan atau menganiaya dirinya sendiri, maka mereka segera mengingat pada Allah, kemudian memohon ampunan dari dosa-dosanya.” (QS. Ali-Imran: 135)

Dalam hadist disebutkan:

“Setiap mukmin tentu terkena dosa yang menimpanya pada setiap waktu.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Keterangan ini sebagai dalil bahwa kadar dosa yang demikian itu tidak merusak taubat yang sudah diikrarkan dan orang yang melakukannya tidak termasuk yang mengekalkan kemaksiatan.

Ketiga, seseorang yang bertaubat namun pada saat-saat tertentu ia dikalahkan oleh nafsu syahwatnya dengan melakukan beberapa macam kemaksiatan. Dan ia sadar bahwa kemaksiatan yang dilakukannya sengaja, karena memang tidak mampu mengekang nafsu syahwatnya.

Dalam waktu yang sama ia tetap melaksanakan ketaatan dan sebagian dosa-dosa besar ditinggalkan. Dalam hatinya ia berkeinginan agar mampu menghindari dorongan nafsu syahwatnya. Malahan saat selesai melaksanakan kemaksiatan, ia menyesali dirinya sendiri. Namun kekuatan nafsunya terkadang berimbang dengan iman.

Jiwa yang demikian itu dinamakan nafsu musawwalah; jiwa yang memerintah diri. Mereka ini tergolong orang yang disinggung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firmannya:

“Ada pun orang-orang lain yang sudah mengakui dosa-dosanya, tetapi mereka itu suka mencampurkan amalan baiknya dengan amalan buruknya.” (QS. At-Taubah: 102)

Keempat, seorang yang bertaubat dengan waktu yang terbatas untuk selanjutnya ia kembali menjerumuskan dirinya dalam berbagai perbuatan dosa. Orang semacam ini sama sekali tidak menyesali perbuatan dosanya itu dan tidak ada keinginan segera bertaubat.

Jiwa yang demikian itu disebut nafsu amarah bissuui, yaitu jiwa yang mengajak pada kejahatan. Indikasinya ia suka mendekati keburukan dan menjauhi kebaikan.

Taubat ketiga dan keempat ini dikhawatirkan berujung pada su-ul khatimah, yakni penghabisan yang buruk.*/Sudirman STAIL (Sumber buku: Generasi Muda Islam di Ambang Kehancuran, penulis: Haris Firdaus)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BertaubatImam Al Ghazalinafsu amarah bissuuinafsu lawwamahnafsu musawwalahnafsul mutmainah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pria Bunuh Dua Orang yang Lecehkan Wanita Muslim di Oregon
Tulisan selanjutnya Perbaikilah Akhlak terhadap Ulama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?