Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Cinta Kasih Ibu Dapat Tumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak

Ahmad
Terakhir diupdate: 2 April 2018 15:00 3:00 pm
Ahmad
Dipublikasikan 2 April 2018 15:00
Bagikan
Bagikan

PENDIDIKAN yang baik dan benar adalah pendidikan yang mampu membentuk kepribadian anak dengan ciri-ciri, di antaranya, sebagai berikut:

  • Pemberani
  • Penyabar
  • Penyantun
  • Hormat, tunduk, dan patuh kepada kebenaran
  • Menjauhi kezaliman dan mengembangkan keadilan
  • Berbakti kepada orang tua
  • Tunduk dan patuh kepada perintah Allah Subhanalah Wa Ta’ala
  • Mencintai sesama makhluk Allah Subhanalah Wa Ta’ala

Pendeknya, pendidikan anak yang baik dan benar adalah pendidikan yang dapat membentuk kecerdasan dan kesholehan pada diri anak. Pertanyaan yang muncul dari sini adalah: pendidikan yang berlandaskan apakah pendidikan yang dapat membentuk kecerdasan dan keSholehan pada diri anak?

Saya tidak memiliki jawaban yang lain untuk menjawab pertanyaan di atas, kecuali jawaban Islam. Hanya paradigma. Islamlah yang akan mampu membentuk pribadi anak menjadi cerdas dan sholeh. Saya tidak menemukan konsep lain, ideologi lain, isme lain, atau teologi lain yang dapat membentuk kepribadian anak itu menjadi cerdas dan sholeh. Sebaliknya, konsep, ideologi, isme, atau teologi lain justru seringkali membentuk kepribadian anak yang timpang:

  • Anak menjadi cerdas tetapi sekaligus rusak akhlaknya.
  • Atau anak menjadi sholeh tetapi bodoh.
  • Atau anak menjadi tidak sholeh sekaligus menjadi tidak

Pendidikan model Barat, misalnya, adalah pendidikan yang menghasilkan anak cerdas tetapi rusak akhlak atau moralitasnya sehingga Anda jangan heran apabila melihat anak-anak Barat demikian brilian otaknya, tetapi sekaligus demikian ‘brilian’ dalam mengumbar nafsu syahwat. Model yang seperti ini tidak akan pernah terjadi apabila orang tua menerapkan pendidikan berparadigma Islam sebab tujuan pendidikan Islam adalah membentuk anak menjadi cerdas sekaligus sholeh.

Pertanyaannya, bagaimana wujud pendidikan yang demikian itu pada anak, khususnya yang harus dilakukan oleh seorang ibu? Di sini, saya hanya akan memfokuskan pembahasan pada tanggung jawab dan kewajiban seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Islam mengajarkan bahwa tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak itu terbagi menjadi empat, yakni:

  • merawat
  • mengasuh
  • mendidik
  • membelajarkan

Karena ibu adalah perempuan, sedangkan perempuan memiliki kecenderungan yang amat besar dalam cinta, kasih, dan sayang, dan kecenderungan yang demikian ini sudah sepantasnya diberikan kepada anak-anaknya, maka tugas pendidikan yang paling penting dan pokok dilakukan oleh ibu adalah merawat dan mengasuh anak-anaknya. Tugas ini paling sesuai dengan eksistensi ibu sebagai seorang perempuan. Tugas ini pula yang paling sesuai dengan unsur kedekatan kepada anak-anaknya.

Lihatlah hubungan seorang ibu dan anaknya. Ibu memiliki rahim. Dalam rahim tersebut ibu mengandung anaknya selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari. Selama itu, si ibu tidak pernah berpisah sedikit pun dengan anak yang dikandungnya. Lalu si ibu ini melahirkan dan menyusui. Semua ini telah membawa hubungan dan ikatan eimosional, spiritual, dan intelektual yang amat dekat dengan anaknya. Oleh karena itu, dalam masa-masa seperti ini, si ibu haruslah memberikan perawatan dan pengasuhan kepada anak-anaknya.

Saya mengatakan kepada Anda bahwa hanya ibu yang mampu memberikan perawatan dan pengasuhan yang baik kepada anak-anaknya. Seorang ayah pun sesungguhnya bisa melakukan hal ini. Namun, seorang ayah terlalu lemah dalam masalah-masalah yang seperti ini jika dibandingkan dengan seorang ibu. Dengan kata lain, kelebihan yang dimiliki oleh semua ibu jika dibandingkan dengan kelebihan yang dimiliki oleh seorang ayah adalah dalam memberikan perawatan dan pengasuhan terhadap anak-anaknya.

Sebagai seorang ibu, Anda haruslah memberikan rawatan dan asuhan yang sebaik-baiknya kepada putra dan putri Anda. Perhatikanlah pertumbuhan dan perkembangan anak Anda. Jaga kesehatan fisiknya. Jaga pula kesehatan mental dan spiritualnya.

Dalam masa-masa melaksanakan tanggung jawab pendidikan ini, Anda harus terus mengembangkan sifat-sifat khas Anda sebagai seorang perempuan:

  • sabar
  • lembut
  • penyayang
  • santun
  • cinta kasih

Anda harus mengembangkan sifat-sifat ini, sebab sifat-sifat ini akan membuahkan kecerdasan emosional pada anak Anda sebagai ladang yang akan ditanami oleh nilai-nilai spiritual. Anda tidak usah mencontoh ibu-ibu yang bersikap keras, kasar dan tidak sabar yang seringkali banyak kita jumpai.*/Muhammad Muhyidin, dikutip dari bukunya Bangga Menjadi Muslimah

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya [FOTO] Tertangkap Kamera, Bocah Palestina Menjadi Simbol Perjuangan
Tulisan selanjutnya Bukti Bakti kepada Orangtua

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PM Pakistan Desak Presiden Iran untuk Memelihara Kesepakatan Damai yang Sudah Payah Diupayakan

Berita
11 Juli 2026 16:21
MUI Matangkan Persiapan Kongres Umat Islam Indonesia VIII, Bahas Isu Strategis Keumatan dan Kebangsaan
Amerika dan Perang Salib Baru?
Euthanasia Mencakup Hampir 6 Persen Kematian di Belanda
Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus

Terbaru

  • Amerika Serikat Menjatuhkan Sanksi Baru Berkaitan Iran Menyusul Serangan di Selat Hormuz
  • PM Pakistan Desak Presiden Iran untuk Memelihara Kesepakatan Damai yang Sudah Payah Diupayakan
  • Korea Utara Bertekad Membangun Kekuatan Nuklir dan Memperluas Peran Intelijen Militer
  • Israel Bagikan Informasi Intelijen tentang Rencana Baru Iran untuk Membunuh Trump
  • Aparat Pakistan Bunuh 75 Pemberontak Menyusul Serangan Beruntun di Balochistan
  • Rusia Kirim Kembali Pekerjanya ke Pembangkit Nuklir Bushehr Iran
  • Anggota Uni Eropa Bahas Larangan Impor Produk Pemukiman Yahudi Israel
  • Amerika Serikat Longgarkan Ekspor Item Militer, Chip AI dan Satelit Komersial ke UEA
  • Dialog Manhaj Aqidah Muhammadiyah: Asy’ari Bagian dari Ahlus Sunnah
  • Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?