Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Hidup dalam Penjagaan Allah dengan Tawakal (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 November 2015 16:58 4:58 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 November 2015 16:58
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

RASULULLAH Shalallaahu ‘Alahi Wasallam telah mengumpulkan semua keutamaan yang empat –hidayah, kecukupan, penjagaan, dan keselamatan dari penyimpangan– dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi dengan sanad hasan, dan juga An-Nasa’i, dari Anas bin Malik r.a, dia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa yang ketika keluar dari rumahnya membaca:

“(Bismillahi tawakaltu `alallahi, la haula wa la quwwata illa billahi). Dengan nama Allah, aku bertawakal hanya kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah diberi hidayah, kamu telah diberi kecukupan, kamu telah dijaga, dan setan menyingkir darinya’.”

Abu Dawud menambahkan, “Setan berkata kepada setan yang lain, ‘Apa yang bisa kita perbuat terhadap seorang yang telah diberi hidayah, kecukupan, dan penjagaan?’.”

Itulah beberapa bentuk balasan dalam kehidupan di dunia. Adapun balasan di akhirat, tidak ada salahnya jika kita menyebutkannya. Sesungguhnya sesuatu yang paling diharapkan oleh seseorang di akhirat, akan didapati oleh orang-orang yang bertawakal.

Tidak ada kenikmatan yang lebih agung daripada masuk ke surga tanpa hisab. Ibnu Abbas r.a, meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Diperlihatkan kepadaku umat-umat (terdahulu), kemudian aku melihat seorang nabi bersama kurang dari sepuluh orang, seorang nabi yang lain bersama seorang atau dua orang, dan nabi yang lainnya tidak bersama seorang pun.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku jumlah yang besar dan aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Dikatakan kepadaku, `Ini adalah Musa dan kaumnya, namun pandanglah ke ufuk’. Aku memandang (ke ufuk) dan melihat jumlah yang besar dan dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lainnya’, dan aku melihat jumlah yang besar juga. Dikatakan kepadaku, `Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan azab’.”

Ibnu Abbas mengatakan, “Mendengar sabda beliau, sebagian shahabat saling berkata, ‘Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang menemani Rasulullah. Sebagian yang lainnya berkata, ‘Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun’.

Mereka pun menyebutkan beberapa hal. Rasulullah kemudian keluar menemui mereka dan bersabda, ‘Apa yang sedang kalian perbincangkan?’ Mereka memberitahukan beliau tentang pembicaraannya.

Rasulullah bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah meminta diruqyah, tidak pernah menganggap sial karena binatang, tidak berobat dengan besi panas (yang ditempelkan di tempat yang sakit), dan hanya kepada Rabb-nya saja mereka bertawakal’.”

Ukasyah bin Muhshin r.a kemudian berdiri dan berkata, ‘Doakan aku kepada Allah agar aku dijadikan bagian mereka!’ Rasulullah bersabda, `Kamu termasuk dari mereka.’ Seorang yang lainnya berdiri dan berkata, ‘Doakan aku kepada Allah agar aku dijadikan bagian mereka!’ Rasulullah bersabda, ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah’.” (Muttafaq Alaih).

Maksud dari mereka tidak meminta diruqyah dan tidak berobat dengan besi panas adalah mereka tidak meminta kepada seseorang, untuk meruqyahnya atau mengobatinya dengan besi panas.

Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah tingkatan yang paling tinggi, mereka mendapatkan balasan yang cukup. Walau demikian, bukan berarti meminta bantuan manusia akan mengeluarkan dari tawakal selama ketergantungan yang utama adalah kepada Allah dan selama meminta bantuan mereka termasuk bagian dari menjalankan sebab (usaha).

Namun, meminta bantuan kepada manusia tidak serta merta mengeluarkan pelakunya dari kumpulan orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab.

Mungkin saja maknanya adalah mereka tidak meminta diruqyah dengan ruqyah jahiliyah yang mengandung sesuatu yang bisa menghilangkan tawakal, seperti ucapan yang tidak bisa dipahami atau mengandung permintaan tolong kepada selain Allah.

Mereka juga tidak berobat dengan besi panas untuk menghindari penyakit, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang bahwa al-kay‘ (berobat dengan besi panas) bisa mencegah penyakit dan ini menafikan tawakal. Makna ini adalah lebih luas. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ukasyah dalam perkumpulan yang mulia ini.

Adapun maksud dari ‘mereka tidak melakukan tathayyur‘ adalah mereka tidak menganggap sial, yaitu menyangka akan mendapatkan keburukan hanya karena terjadinya sesuatu yang tidak disenangi dan tidak ada hubungannya dengan perbuatan yang sedang dilakukan.

Imam Muslim telah meriwayatkan hadits dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami r.a, dia (Mu’awiyah) berkata, `Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di antara kami ada orang-orang yang bertathayyur?’ Maka beliau bersabda, ‘Itu adalah sesuatu yang dia rasakan dalam hatinya. Oleh karenanya, jangan sampai dia dipalingkan olehnya’.” (HR Muslim).

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Apabila kalian melihat sesuatu yang kalian benci dan kalian anggap bisa membuat sial, ucapkanlah:

“Wahai Allah, tidak ada yang bisa mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, tidak ada yang mampu menghilangkan kejelekan kecuali Engkau dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Engkau.” (HR. Ibnu As-Sunni).

Ketika kita berada di dalam naungan hidayah, kecukupan, penjagaan dan keselamatan dari penyimpangan yang diberikan Allah, maka kita juga akan diberi kenikmatan berupa masuk ke surga tanpa hisab.

Sesungguhnya, Allah memberikan nikmat yang lebih agung kepada orang-orang yang bertawakal dari semuanya, baik di dunia maupun di akhirat, yaitu Allah memberikan kepada mereka cinta-Nya.

Allah berfirman:

“… Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali ‘Imran: 159) */Dr. Hani Kisyik, terangkum dalam bukunya Kunci Sukses Hidup Bahagia.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berserah diritawakal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hidup dalam Penjagaan Allah dengan Tawakal (1)
Tulisan selanjutnya Mengenal Kitab Al-Muwathta’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?