Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Bersikap Adil Terhadap Kartini dan Muslimah-muslimah Hebat Lainnya

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 22 April 2020 09:29 9:29 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 22 April 2020 09:29
Bagikan
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini
(www.adianhusaini.id)

Hidayatullah.com | Hari Senin (20/4/2020), saya menerima kiriman poster bertajuk: “Kartini Masa Kini dalam Krisis Covid-19: Perlindungan Warga dan Kerjasama Luar Negeri”. Para pembicara terdiri atas 10 Duta Besar RI, dan 1 orang staf ahli bidang diplomasi ekonomi. Semuanya perempuan.

Kata sambutan diberikan Menteri Luar Negeri RI, yang juga perempuan. Diskusi melalui webinar-zoom itu dilakukan pada 21 April 2020, tepat di Hari Kartini. Entah mengapa, istri Presiden Jokowi tidak dimasukkan dalam daftar pembicara di situ.

Membaca poster diskusi itu, mungkin ada yang berpikir, bahwa itulah cita-cita Kartini di masa lalu. Ingin perempuan Indonesia “maju”. Maju, diartikan perempuan Indonesia bisa berkarir, meraih jabatan-jabatan tinggi di berbagai bidang.

Dan yang penting, perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai Ibu rumah tangga. Menjadi Ibu rumah tangga, mendidik anak-anak dan melayani suami dengan baik, tidak dipandang sebagai satu prestasi dan kemajuan perempuan yang patut dibanggakan.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Biasanya ada tambahan ungkapan: “Dulu, perempuan hanya mengurusi “dapur, sumur, dan kasur”. Tapi, sekarang perempuan sudah bisa menjadi Presiden, Ketua DPR, menteri, dan sebagainya.”

Benarkah Kartini punya cita-cita seperti itu? Kartini adalah sosok ibu rumah tangga yang taat kepada suami dan seorang anak yang sangat patuh dan sayang kepada ayahnya. Untuk menyenangkan hati ayahnya, Kartini rela menjadi istri keempat Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat.

Kartini lahir pada 21 April 1879. Ia wafat pada 17 September 1904, pada umur 25 tahun. Empat hari sebelumnya, 13 September 1904, Kartini melahirkan anak satu-satunya.

***

Gagasan-gagasan “kemajuan” Kartini diungkapkan dalam surat-suratnya kepada sejumlah sahabatnya, orang-orang Belanda. Banyak opini telah ditulis tentang RA Kartini. Sebagai muslim kita harus bersikap adil terhadap Kartini. Pikiran-pikirannya yang baik perlu diapresiasi.

Tetapi, kita juga harus bersikap adil kepada para perempuan muslimah yang hebat, yang puluhan bahkan ratusan tahun sebelum Kartini, telah meraih prestasi tinggi dalam berbagai bidang kehidupan. Itu dilakukan tanpa memandang rendah tugas mulianya sebagai istri dan ibu rumah tangga.

Jangan sampai anak-anak kita melupakan banyaknya perempuan-perempuan muslimah hebat di Nusantara. “Ibu kita” bukan hanya Kartini. Sebutlah contoh seorang lulusan pesantren bernama Malahayati. Dialah perempuan pertama yang menjadi Panglima Perang di era modern.

Malahayati yang lulusan Akademi Angkatan Laut Aceh, Baitul Maqdis, menjadi Panglima Perang Kerajaan Aceh pada abad ke 16 M. Tahun 1599 M, ia berhasil menaklukkan armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman.

Pikirkanlah, bahwa di abad ke-16, sudah ada muslimah di Nusantara yang menjadi Panglima Perang, menjadi Laksamana Angkatan Laut. Tanpa perlu slogan feminisme atau “gembar-gembor” emansipasi, apalagi teriakan tentang penindasan perempuan, dan tanpa proposal paham Kesetaraan Gender.

Dalam buku “Satu Abad Kartini (1879-1979)”, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Prof. Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”.

Dalam bukunya, guru besar UI tersebut menunjuk dua sosok perempuan hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku “Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia” (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh.

VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah (Ratu) Safiatuddin memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Ratu Bone, Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio.

Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh Siti Aisyah We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”

Dan memang, ribuan muslimah telah menunjukkan prestasi-prestasi hebat, tanpa harus meneriakkan slogan Kesetaraan Gender.

Tahun 1957, Universitas Al-Azhar Mesir memberikan gelar “Syaikhah” kepada Rahmah el-Yunusiah, ulama perempuan Padang yang juga pendiri Pesantren Diniyah Putri Padang Panjang. Rahmah dianggap memberi inspirasi kepada al-Azhar tentang pendidikan perempuan.

Saya dapat cerita dari tokoh-tokoh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) tentang kehebatan istri Mohammad Natsir, yang biasa dipanggil “Umi”. Pak Natsir sering bekerja sampai larut malam. Jika staf beliau ingin pulang kantor, terkadang “terpaksa” berkata kepada Pak Natsir, “Pak ada telpon dari Umi”. Maka, Pak Natsir pun bergegas pulang ke rumah.

Jadi, kita harus bersikap adil dan bijak dalam memandang dan meletakkan RA Kartini pada tempatnya yang betul. Begitu juga muslimah-muslimah hebat lain di berbagai penjuru Nusantara.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kartini
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mozambique Minta Kaum Pemuda Tidak Gabung Milisi Muslim
Tulisan selanjutnya PKS Nilai Pelarangan Mudik Lebih Baik Meski agak Terlambat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?