IBNU Katsir ketika mentafsirkan ayat yang saya jadikan judul tulisan ini (QS 51:22) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Dan di langit terdapat rezekimu…” adalah hujan yang membawa rezeki; sedangkan yang dimaksud dengan “Dan Apa yang dijanjikan kepadamu” adalah surga bagi orang-orang yang bertakwa.
Ibnu Katsir yang kitab tafsirnya menjadi rujukan umat seluruh dunia karena kedalaman ilmunya; insy Allah jauh lebih besar peluang benarnya ketimbang kelirunya. Lantas mengapa bagi kita yang hidup di Jakarta ini, hujan secara perlahan tetapi pasti dicitrakan sebagai penyebab musibah tahunan yang hari-hari ini melanda, yaitu banjir? Pasti yang salah bukan ayat atau tafsirnya, tetapi perilaku kita yang salah dalam mengelola ‘potensi’ rezeki dari hujan ini.
Pada tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk mengembalikan pandangan bahwa hujan sebagai sumber rezeki – agar kita pandai mengelola dan mensyukuri-nya; bukan sebaliknya memandang hujan sebagai sumber musibah sehingga banyak orang berharap agar hujan tidak turun!
Sesungguhnya kita sangat-sangat beruntung hidup di negeri kepulauan yang berada paling dekat dengan katulistiwa. Negeri yang berada di Equator Belt ini hanya Indonesia, termasuk beberapa negara Amerika latin, khususnya Brasil dan beberapa negara Afrika. Tetapi Afrika sangat kering, dan Brasil tidak terlalu banyak memiliki wilayah laut seperti kita di Indonesia.
Dengan posisi yang seperti inilah, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak memiliki hujan. Dampak dari hujan tropis ini berikutnya adalah di Indonesia-lah terdapat paling banyak spesies tumbuhan, binatang, dan microorganism yang kemudian dikenal sebagai biodiversity.
Karena posisi yang unik ini pulalah ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan tahun ini sebagai 2010 International Year of Biodiversity, Indonesia menjadi salah satu pusat perayaannya, yaitu di Bali mulai akhir pekan ini.
Sejalan dengan tafsir di atas, kemudian juga bukti kekayaan biodiversity yang tidak ada duanya tersebut, masihkah kita belum bisa melihat rezeki dari langit yang dibawa oleh hujan itu? Kalau melihat saja kita belum bisa, tentu kita akan kesulitan untuk memiliki visi pengelolaannya.
Untuk belajar menangkap secara harfiah ‘rezeki dari langit’ yang terbawa oleh hujan ini, tim kami di Pesantren Wirausaha – Jonggol membuat eksperimen kecil dalam laboratorium sederhana untuk pembibitan Jamur.
Jamur adalah sumber protein yang sehat dan bisa diproduksi dari ‘awang-awang’. Karena untuk menghasilkan 10 kg jamur per hari selama 4-5 bulan berturut-turut, awalnya hanya dibutuhkan jaringan yang diambil dari jamur induk sebesar ujung jarum.
Untuk bisa tumbuh baik, jamur pada umumnya memerlukan suhu udara antara 22 derajat C – 28 derajat C, dan kelembaban udara antara 60% – 70%. Suhu dan kelembahan yang dipersyaratkan untuk pertumbuhan jamur ini dengan mudah dapat dipenuhi oleh sebagian besar wilayah negeri ini. Dari mana negeri ini memperoleh keberuntungan tersebut? Ya dari hujan yang secara kontinyu mengguyur sebagian besar wilayah negeri ini secara reguler.
Jadi secara internal negeri ini sesungguhnya sangat beruntung dengan rezeki yang terbawa seiring dengan seringnya turun hujan. Kita bisa membanjiri dunia dengan protein yang murah – yang bisa diproduksi secara massal di Indonesia.
Untuk memproduksi jamur secara massal ini tidak dibutuhkan tanah yang luas, tidak membutuhkan pupuk-pupuk yang mahal (yang sering diributkan subsidinya), dan tidak membutuhkan modal yang besar (yang hanya dimiliki para konglomerat dan tuan tanah). Yang kita butuhkan terutama adalah lingkungan dengan suhu dan kelembaban yang tepat yang sudah dianugerahkan oleh Allah secara melimpah melalui curah hujan negeri ini.
Yang kita butuhkan kemudian adalah ilmu perjamuran dan keterampilan wirausaha/manajemen yang memadai; namun lagi-lagi ilmu membuat benih jamur insya Allah tidak sesulit membuat roket. Anda bisa belajar bareng kami (kami juga lagi belajar soalnya) gratis. Memanage industri jamur saya yakin juga tidak sesulit mengelola bank yang di-bailout (yang kalau kita lihat di televisi nampaknya nggak ada yang bisa mengelola dengan benar!).
Jadi orang-orang kebanyakan seperti Anda dan saya insy Allah bisa memproduksi protein yang murah ini secara massal.
Bila ini benar-benar dapat kita lakukan, maka kebutuhan protein negeri ini akan dapat tercukupi dengan murah, dan syukur-syukur bisa menjadi solusi bagi milyaran penduduk dunia yang kini sedang kekurangan pangan dan gizi. Allaahumma shayyiban naafi’an; Ya Allah jadikanlah hujan ini manfaat…
Penulis Direktur Gerai dan kolumnis hidayatullah.com