Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Mengapa Kita (Bisa) Dijajah?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Agustus 2016 12:11 12:11 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Agustus 2016 12:11
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

 

PADA abad 14 ada kejadian luar biasa di Eropa dan sebagian Asia yang dikenal dengan peristiwa Black Death. Jutaan orang meninggal karena wabah penyakit yang begitu meluas. Saat itu dunia belajar dari kebiasaan orang-orang di negeri kekhalifahan yang sudah terbiasa mengkonsumsi makanan berempah dan berminyak wangi – yang selamat dari peristiwa Black Death tersebut. Tetapi kejadian ini menimbulkan cita-cita bagi generasi berikutnya di Eropa, yaitu untuk menguasai sendiri sumber rempah-rempah itu. Maka bermulalah sejarah penjajahan di Nusantara ini.

Dua abad setelah peristiwa di atas, cita-cita tersebut mulai dapat mereka realisasikan. Yaitu di awal abad 16 ketika kapal-kapal layar Portuges mulai menjamah wilayah Nusantara ini. Mulailah mereka berburu rempah-rempah khususnya bunga cengkeh dari Maluku, yang sejak dua abad sebelumnya dikenal khasiatnya untuk menghindari wabah yang sangat berbahaya sekelas Black Death.

Penjajahan ini-pun diteruskan oleh Belanda seabad kemudian ketika mereka mulai memasuki wilayah ini di awal abad 17. Begitu seterusnya bangsa-bangsa silih berganti menjajah negeri yang kaya ini. Apakah sekarang kita sudah berubah ? Mari kita lihat kemiripannya dengan kita di abad 16 dan 17 tersebut di atas.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Wilayah ini menjadi target para penjajah karena kekayaan alam kita yang bisa mereka eksploitasi, apakah kondisinya sekarang telah berubah? Tidak, saat ini kita sama kayanya atau bahkan lebih kaya dari sisi sumber daya alam – karena berbagai temuan mineral dan sumber tambang lainnya yang belum ada saat itu.

Lima abad lalu penjajah mengincar rempah-rempah di sekitar kita, sesuatu yang oleh penduduk setempat dianggap biasa saja – bahkan cenderung di-ignore manfaat dan nilainya. Sehingga ketika rempah-rempah tersebut dijarah habis-habisan oleh para penjajah dibiarkan begitu saja. Apakah kondisi ini berubah ? Namaknya kok ya juga belum !

Lima abad lalu pula para penjajah selalu berkolaborasi dengan tokoh-tokoh masyarakat di masing-masing daerah, mereka dengan sukacita mau membantu kepentingan penjajah karena mereka juga punya kepentingannya sendiri. Apakah kita sekarang sudah berubah? Hanya kita sendiri yang layak menilainya.

Kombinasi yang perfect untuk daerah jajahan adalah kekayaan alam, ignorance-nya penduduk setempat akan kekayaannya dan para pemimpin atau tokoh masyarakat yang memiliki kepentingan sendiri. Tiga hal ini tidak berubah sejak Portuges mendaratkan kapalnya ke wilayah Nusantara ini 5 abad lalu hingga sekarang.

Kekayaan alam kita sebagian sudah habis dijarah, tetapi selalu bermunculan kekayaan baru yang mengundang minat penjajah dengan berbagai bentuknya untuk kembali menjajah negeri ini. Dan kekayaan baru negeri ini yang di jaman modern ini tumbuh pesat adalah kekayaan jumlah penduduk – yang menjadi sumber pasar yang sangat besar bagi berbagai produk-produk negeri lain yang kemudian menjadikan negeri ini target ‘jajahan’ pasarnya.

Ignorance-nya penduduk negeri ini bisa dilihat dari nilai impor bahan baku makanan ketika negeri ini sendiri sebetulnya sangat kaya dengan berbagai jenis bahan pangan yang lebih cocok untuk penduduknya sendiri. Juga yang sangat ironi adalah bahan baku obat yang mayoritasnya kita impor – padahal 5 abad lalu orang berburu bahan baku obat dari rempah-rempah negeri ini!

Kemudian kepentingan para pemimpin dan tokoh masyarakatnya, yang dijaman modern ini juga semakin beragam bentuknya. Kalau dahulu kepentingan itu hanya dikaitkan dengan 3 Ta (Tahta , Harta dan Wanita). Kepentingan para pemimpin dan tokoh masyarakat di jaman ini bisa berupa sesuatu yang bahkan sulit kita pahami.

Kepentingan untuk tetap eksis di kancah politik misalnya, bisa membuat para pemimpin dari yang di tingkat daerah sampai pusat ‘menjual’ kepentingan rakyatnya yang lebih luas. Bahkan kepentingan untuk membuktikan diri bahwa ‘saya bisa’ itu saja sudah cukup untuk ‘menggadaikan’ negeri ini kepada para investor ‘penjajah baru’ asing.

Tetapi kita memang tidak bisa hanya menyalahkan para pemimpin dan tokoh masyarakat, kita sendiri minimal juga menjadi salah satu dari factor mudahnya kita dijajah yaitu factor ignorance tersebut di atas.

Maka inilah setidaknya yang bisa dilakukan oleh rakyat kebanyakan seperti kita-kita, mulai berpandai-pandailah kita belajar mengolah kekayaan alam kita sendiri termasuk kekayaan alam yang sangat besar – yaitu penduduknya, agar ini tetap menjadi pasar bagi kita sendiri – bukan target ‘pasar jajahan’ para penjajah dagangan produk asing. Dengan itu insyaAllah kita bisa merdeka!

Penulis ada Direktur Gerai Dinar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kekayaan alam Indonesiamerdakapenjajahproduk asingproduk dalam negeri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dua Muslimah di Paris Diusir dari Restoran Karena Berjilbab
Tulisan selanjutnya Muslim Harus Miliki Cita-Cita Tinggi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?